
Nando perlahan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menempatkan bantal empuk untuk alas kepalanya yang sekarang tidak pening lagi.
"Aku merasa sempurna saat ini, meskipun belum bisa bercinta dengan lancar dan damai, tetapi, di sisi ku ada Juli adalah lebih dari cukup." Si mesum tersenyum menunjukkan jajaran gigi putih nan bersihnya.
Saat dia merasa bahagia dengan hidupnya, tiba-tiba saja Santos menelepon.
Nando segera menjawab panggilan telepon itu.
"Ada apa Santos?" tanya Nando heran, biasanya Santos akan mengetuk pintu kamarnya dan memberikan informasi.
"Tuan Besar menelepon, Tuan Muda di minta segera ke Villa." Dari suara Santos, terdengar sangat tergesa-gesa.
"Tarik nafas dulu Santos. Kau seperti di kejar hewan berkali lima." Nando mencoba menenangkan Santos.
"Tuan Besar marah karena Tuan mengganti identitas menjadi Javier Fernando. Dia merasa terhina, nama Steve Heleas yang ia sematkan untuk Tuan terasa tidak berguna." Santos benar-benar seperti orang ketakutan, dia sudah lama bekerja dengan Tuan Heleas, baru kali ini majikannya marah kepadanya.
"Haha ... berikan nomor ponsel ayah padaku, biarkan aku saja yang menjelaskannya." Nando mengetahui alasan sang ayah marah kepadanya.
"Baik Tuan."
Santos menutup panggilan teleponnya, beberapa menit kemudian, pesan masuk dari Santos terkirim ke nomor ponselnya.
Nando segera menghubungi nomor sang ayah.
"Halo ayah?" sapa Nando.
"Ayah? ayah siapa? salah sambungan." Si Tuan Besar sangat sadis.
"Wkwkwk ... dia marah." Nando sangat senang menggoda sang ayah.
Nando kembali membuat panggilan kepada nomor sang ayah.
__ADS_1
"Ini aku, Steve!" ucap Nando saat panggilan itu kembali terjawab, dia mendahului sebelum sang ayah kembali mengomel.
"Astaga Steve! selama lima tahun tidak berbakti dan kau mempermalukan ayahmu, astaga! Javier Fernando adalah orang yang akan ayah ajak kerjasama ... sial! mengapa itu kau! sialan! anak sialan!" Tuan Heleas tak hentinya mengumpat, dia kesal karena sang anak mengganti identitasnya.
"Ayah sudah aku tolak selama 15 kali untuk bekerja sama dengan perusahaanku, tetapi karena ayah mau bertemu dengan calon istriku, aku akan menemuimu, tapi tidak saat ini. Aku sedang tidak sehat," jelas Nando.
"Bagaimanapun juga aku tetaplah ayahmu, apapun yang kau lakukan, seharusnya lebih baik bertanya kepada ayah dan ibumu. Jangan kau lupakan kami begitu saja karena ingin mencari gadis kecil yang kau sendiri tidak mengetahui keberadaannya, kau itu pedofil atau apa? calon yang ayah berikan sangat cantik dan seksi! jika ibumu tidak menyedihkan seperti itu pasti aku akan menikah lagi, tapi karena aku kasihan dengan ibumu. Aku tetap bersamanya meskipun hasrat untuk wanita lain masih ada," ucap dedengkotnya casanova.
"Kwkwkwkwk jangan salahkan aku jika memiliki banyak gadis di belakangku, itu semua salah ayah, ayah yang mewariskan padaku, kau harus bertanggung jawab jika malaikat maut mempertanyakan hal ini," jawab Nando yang tak mau disalahkan.
"Amal baik dan buruk di tanggung masing-masing, kata-kata ayah tidak berguna karena malaikat maut pasti akan mengeksekusi ayah terlebih dahulu dari pada dirimu," tukas sang ayah yang mulai terpancing ucapan sang anak.
"Sudah bicaranya? jangan paksa aku untuk bertemu di Villa hari ini, aku belum bisa datang."
Tut ... tut ... tut
Nando langsung mengabarkan jika dirinya berhalangan hadir, senjatanya masih sangat perih dan ngilu.
"Setelah ini, pasti ayah akan marah padaku, biarkan saja. Siapa suruh tidak memperbolehkan aku menemui Juli." Nando cengengesan tidak jelas, saat dia menoleh, tiba-tiba pemandangan luar biasa nampak pada netranya.
Juli keluar kamar mandi dengan mengenakan handuk saja, ini sangat memantik jiwa mesum sang casanova.
"Baby, kemarilah!" pinta Nando.
"Aku ingin mengganti baju dulu," jelas Juli.
"No baby, jangan membantah! aku adalah calon suamimu! oke?" Nando memang pria pemaksa, mau tidak mau, Juli harus menuruti ucapannya.
"Astaga! kau ini sangat pemaksa, tinggal ganti baju dan aku akan menghampirimu." Juli tidak habis pikir dengan permintaan sang casanova yang terburu-buru.
"Baby, ayolah! peluk aku, aku tidak sabar ingin memeluk tubuh polosmu!" Si mesum mulai beraksi.
__ADS_1
"Oh ya, kita bahas tentang pembalasan dendam itu, mari bicarakan dia bawah selimut." Otak Nando selalu banyak akal, dia akan melakukan apapun demi hasrat mesumnya.
Juli sangat ingin melakukannya, tetapi takut menyakiti sang casanova karena di bawah sana masih terasa ngilu.
"Tapi, senjatamu? dia masih riskan," tukas Juli.
"Haha, kau mengkhawatirkan adikku, tetapi tak memberikan kesempatan untukku bersenang-senang? tega kau baby!"
Orang ini memang pandai merayu, apalagi sekarang dia adalah Steve, sangat sulit bagi Juli untuk menolak permintaan sang pujaan hati.
"Diamlah, jika kau banyak bergerak senjatamu lecet lagi," tukas Juli sembari mendekat kearah Nando berbaring.
Pelan namun pasti, langkah kaki Juli telah berada di tepi ranjang, dengan perlahan, dia naik ranjang itu dan masuk ke dalam selimut tempat Nando menutupi sekujur tubuhnya.
Permintaan pertama Nando selalu aneh, dia akan segera melakukan hal yang tak terduga.
"Aku ingin itu baby," pinta Nando.
"Kita harus membahas dulu tentang balas dendam." Juli sudah mengetahui watak si casanova yang akan curang, senjatanya sakit bukanlah penghalang, masih ada mulut dan jari yang bisa menggantinya.
Tanpa basa-basi, Nando memposisikan diri tepat di depan tubuh sang kekasih, dia menarik handuk itu dan langsung mengeksekusi dua bongkahan indah menawan yang tak bisa ia lupakan sampai kapanpun.
Mulut gilanya sudah berhasil melahap dua primadona cinta kesukaan sang casanova.
"Hmmp ... Nando! tolong hentikan ...!" Juli mencoba menahan diri, tetapi jika dia bergerak terlalu berlebihan, akan sangat berbahaya.
Gerakannya tubuhnya yang tak hati-hati akan menyenggol milik Nando, dia tidak berdaya.
"Nikmatilah!"
….
__ADS_1