Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Gadis kecilku, J


__ADS_3

Nando keluar dari ruang VVIP, ponselnya tidak sekalipun berhenti berdering. Sejak ia keluar rumah, sampai akan kembali ke rumah, benda itu selalu mengganggunya.


Alhasil, dia mematikan ponsel itu dan membiarkan dirinya tenang untuk satu hari ini.


Langkahnya santai menuju lift, saat dia sampai di depan lift, Nando bertemu dengan gadis yang sama.


Sang gadis langsung mengigit bibir bawahnya dan mencegah pintu lift itu tertutup. Dia berdiri dengan gaya aduhai, membuka dua kancing bajunya, sehingga dua buah kenyalnya menyembul keluar, hampir penuh dan tak mampu menahan diri untuk muncul agar Nando bisa melihatnya.


"Baby? ayo jamahlah aku!" ucap si gadis sexy sembari memainkan pucuk buah dadanya sendiri.


"Astaga, apa aku ini magnet kenikmatan, dimanapun aku berada banyak sekali pemandangan indah." batin Nando yang sebenarnya sudah tergoda, tetapi masih belum ingin mencoba liang kenikmatan gadis aduhai di depannya.


Miliknya sudah menegang, sang casanova memilih untuk menuruni tangga.


Dia tidak mau komitmennya menjadi rusak gara-gara dia tidak mampu menahan kekuatan rudalnya yang kini sudah full 100 persen akibat ingin bercinta dengan pasien.


Nando menuruni tangga dengan cepat. Langkah terakhirnya sudah mencapai lantai dasar rumah sakit.


Rasa pegal dan peluh sudah membasahi seluruh wajahnya, tubuhnya juga masam.


"Huft! demi apa aku bau seperti ini!" Nando merasa kesal, dia adalah pria yang menyukai kebersihan dan tubuh yang harum, tetapi kali ini dia harus menerima kenyataan jika, pria casanova itu harus bau dan penuh peluh, baunya masam. Ini akibat menghindari gadis molek dengan buah dada penuh dan menantang.


"Aku ingin mengulum pucuknya, dia terlalu indah untuk aku lewatkan! ah! kenapa gara-gara wanita itu, moodku jadi buruk. Misalnya hanya bermain saja kan tidak masalah, hah! aku bodoh! pria tidak konsisten dan tidak berkomitmen!" imbuh Nando yang frustasi karena komitmennya sendiri yang hanya inginkan lima gadis saja.


Tetapi pada kenyataannya, dia masih ingin yang lain.


Kehadiran Juli di dalam hidup Nando membuatnya kesulitan mengeksplor diri. Dia merasa ada yang aneh di dalam dirinya.


"Apakah aku menyukai wanita malang itu?"

__ADS_1


Nando bertanya pada dirinya sendiri sembari berjalan keluar dari rumah sakit megah diri.


Kini, raga kekar itu sudah berada di halaman rumah sakit yang merawat Juli.


Dia menatap gedung megah itu.


"Ini adalah rumah sakit dimana aku bertemu gadis kecil itu, aku sangat berterimakasih kepadanya atas kebaikan hatinya menemaniku di saat ayahku marah dan tidak mau mengunjungiku."


Khayalan Nando terbang ke masa lalu.


Dia dan seorang gadis kecil tengah duduk, di taman rumah sakit itu.


Gadis kecil tersebut berkata," Hey tampan? apa kau kesepian?"


Nando yang usianya lebih dari si gadis kecil hanya diam saja, tetapi gadis kecil yang berusia kira-kira delapan tahun itu, tetap mengajaknya berbicara.


"Kau tahu? ibuku sering memanggil ayahku dengan sebutan pria tampan. Dia ayah yang baik, seorang ayah yang menyayangiku dan kakakku, dia bernama Gery, tapi sayangnya kakakku harus pergi dari rumah karena sikap ayah yang keras kepala. Padahal aku hanya terjatuh dari lantai dua saat bermain dengan kakak, tapi ayah yang baik itu marah besar." Si gadis kecil tetap tersenyum saat mengingat peristiwa yang baru saja ia alami.


"Ayah memukulku sampai sakit kepalaku dan bocor, ayah kesal kepadaku karena sifatku yang usil, suka mengintip gadis di kamar mandi. Kau enak, ayahmu baik, oh ya namaku Steve, kau siapa?" ucap si Nando kecil yang bernama asli Steve Haleas. Putra kedua dari pria konglomerat Tuan Haleas.


"Namamu bagus, panggil saja aku J, ayah sering memanggilku J karena namaku yang terlalu panjang."


Mereka berdua berjabat tangan.


"Usiamu berapa?" tanya Nando sembari melepaskan jabatan tangannnya.


"Aku delapan tahun, kau?" jawab si gadis kecil dengan senyum manisnya.


"Aku lebih tua darimu, 10 tahun."

__ADS_1


Nando dan gadis kecil bernama J terlihat sangat akrab, Nando yang lebih 10 lebih dewasa, mengajaknya bermain di area rumah sakit.


Hingga suara panggilan itu, membuat keduanya harus berpisah.


"J? kau dimana J?" pekik seorang yang mirip suara seorang pria dewasa.


"Steve, ayahku sudah memanggilku, kau bawa jepit rambutku, kau bisa mencariku dengan ini." Sang gadis kecil memberikan jepit rambut yang terbuat dari besi dengan aksen kupu-kupu di atasnya.


"Bye! semoga kita bisa bertemu lagi," imbuh sang gadis kecil sembari melambaikan tangannya, derap kaki mungilnya kini menjauh darinya.


Rasanya tidak rela jika harus berpisah dengan si gadis kecil yang periang itu.


Steve hanya mampu tersenyum kecut, dengan tangan berusaha tegar melambaikan tangan untuk melepas kepergian J.


"Suatu saat aku akan menemukanmu J," ucap Steve dengan menggenggam pita rambut si gadis kecil.


....


Nando tersenyum, dia merasa aneh dengan dirinya sendiri, bukan memikirkan para gadis molek, justru dia memikirkan gadis kecil.


"Astaga! aku sudah membuat kenikmatan abadiku menunggu. Apalagi ponsel aku matikan, pasti dia akan marah!"


Nando mengambil inisiatif untuk segera masuk ke dalam mobil mewahnya dan tancap gas!


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2