Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Yong Earl Mencintaiku Dengan Hatinya


__ADS_3

Gaes bantu baca cerita author ya biar rame 🤭😁 ...


Bab 1 (Tewasnya Suamiku)


Di sebuah pemakaman, terlihat seorang wanita menangis tiada henti.


Mayava Hans, mencoba tegar dengan musibah yang baru saja ia terima.


Dia harus ikhlas kehilangan Vans, sang suami tercinta.


"Ibu, apa salahku? kenapa aku harus menangis akan kepergiannya? bukannya hal bagus jika dia mati saja?" ucap Mayava.


Dia memeluk pusara itu dan sang ibu berada di sampingnya, mencoba untuk menenangkan sang putri.


"Nak, dia tidak layak untuk kau tangisi, dia berada di sebuah kamar hotel dan tewas. Dia di sana untuk apa? tidak mungkin hanya sekedar bertemu kolega. Dia sudah menduakanmu nak," jawab sang ibu yang tak menyangka jika pria yang sudah ia anggap anak sendiri, tega mengkhianati putri tercinta.


"Aku juga kecewa ibu, tapi dia meninggalkan janin yang seharusnya tidak aku kandung, aku menyesalinya. Aku jijik padanya karena baru jujur tadi malam, setelah dua tahun pernikahan kami. Apakah pantas, seorang pria beristri bermalam dengan sekretarisnya? di kamar hotel? suara penuh hasrat itu, aku tahu ibu. Aku ingin menggugurkan kandungan ini saja."


"Jangan nak, janin itu tidak bersalah. Ibu hanya ingin kau kembali, pulanglah! Kita rawat bersama."


"Aku tidak yakin ibu, ayah sudah mengusirku! dia hanya akan menyisakan luka lama yang akan terbuka lagi."


Sang ibu merasa bahwa semua perkataannya tak ada gunanya, dia lebih fokus dengan keadaan sang putri yang sangat down.


Ia memapah tubuh sang putri yang begitu lemah, meski awalnya menolak, tapi akhirnya Mayava mau beranjak dari pemakaman itu.


Sang ibu membawanya ke dalam mobil yang ada di tempat parkir pemakaman. Jaraknya hanya beberapa meter saja.


Sehingga cukup terjangkau.


.


.


.


Di dalam mobil ...


"Nak, kau mau pergi kemana setelah ini?" tanya sang ibu.


"Aku ingin pergi ke restoran yang ada di gunung Fu Jian itu bu, aku suka," jawab Mayava yang dengan cepat bisa tersenyum.


Padahal selama satu jam lalu, wanita malang itu berada dalam air mata kesedihan yang sangat dalam.


Sang ibu curiga, anaknya pasti sedang tidak baik-baik saja.


"Pulang ke rumah ibu saja ya? di sana ada kakek, kau bisa bersama kakek dan ibu. Di sana tidak akan ada ayahmu."


"Ya, aku mau," jawab Mayava dengan senyum yang nyaris sempurna, tak ada lagi kesedihan.


Namun, ini semua justru membuat sang ibu cemas, kebahagiaan dan kesedihan memang bisa ditutupi, hanya saja luka di hati tak bisa pergi begitu saja.


Perlu ada waktu, perlu pemikiran yang dewasa dalam menyikapi semua ini.


Oleh karena itu, sang ibu mencoba memberikan pertanyaan yang sederhana.


"Nak, kau baik-baik saja?"


"Aku baik bu, kenapa?"


"Hm, tidak ada apa-apa. Ibu punya resep masakan baru, kau mau coba? dulu kau sangat senang dengan makanan yang ibu buat."


Sang putri tak menjawab apapun, dia hanya diam saja.


"Nak, aku paham rasa sakitmu, jadi kau harus menghadapinya. Ibu akan membantumu."


"Aku hanya ingin janin ini hilang, ibu bantu aku. Ibu adalah seorang dokter, mudah bagimu untuk melakukannya."


"Rumah nenek masih satu jam lagi, kau harus pakai sabuk pengaman, sejak dari pemakaman, kau sangat berbeda. Kau lihat tubuh dan bajumu sangat kotor."


"Ya ibu."


Sang putri memang sangat aneh, terlihat jelas bahwa Mayava depresi.


Ibu Mayava tak akan melakukan tindakan menggugurkan kandungan, dia adalah dokter tapi tak bisa melakukan itu sebab tak ada dalam sumpahnya mengakhiri kehidupan seorang janin yang kelak menjadi cucunya itu.


Meski dia paham perasaan Mayava, sang ibu akan terus memotivasi sang putri agar kembali bangkit tanpa menyakiti siapapun.


Terutama janin tak berdosa itu.


.


.


.


Rumah kakek ...


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya mobil sang ibu berhenti di depan rumah kakeknya Mayava.


Sang wanita masih shock, dia belum pulih sempurna sebab baru hari ini kejadiannya.


Namun, lagi-lagi raut wajah itu tak menunjukkan bagaimana perasaannya.


Ibu Mayava memapah tubuh sang putri, lalu membawanya menuju pintu utama rumah kakek.

__ADS_1


Kini dua orang itu berada di depan pintu, sang ibu menekan tombol bel.


Beberapa saat kemudian, datanglah pria tua renta.


"Mayava? kau? kenapa cucuku?" tanya kakek Mayava.


"Nanti biar aku jelaskan."


Sang ibu memilih untuk membawa Mayava masuk ke dalam kamar, sambil memberikan kode agar sang ayah menunggu di ruang tamu.


.


.


.


Ruang tamu ...


Kedua orang yang menjadi ayah dan anak itu, terlihat duduk di ruang tamu, sedangkan Mayava ada di kamarnya.


"Apa? Vans berkhianat? kenapa bisa seperti itu?"


"Vans, aku tak paham dengan anak itu ayah."


"Astaga, kenapa semuanya ditutupi? bukannya baik jika kasusnya terbuka? kita bisa tahu siapa yang menghabisi anakku?"


"Ayah, dia adalah selingkuhan Vans, Vans kabur dengan wanita lain dan mati di kamar hotel. Pemakaman ini pun rahasia, hanya beberapa orang yang tahu. Ayah Mayava juga belum tahu."


"Ya Tuhan, apa ini Yussi? apakah berita semacam ini harus menimpa Vans? dia anak baik."


"Aku tidak tahu ayah, karena teman kencannya juga di temukan tak bernyawa di dalam kamar mandi. Dia juga dihabisi."


"Ada pelaku lain?"


"Iya."


Saat perbincangan yang sangat penting ini terjadi, Mayava keluar dari kamar.


Ini membuat ayah dan anak itu terkejut.


"Ibu, aku mau jalan-jalan."


"Sayang? kau kenapa?"


"Aku ingin jalan-jalan ibu."


"Di rumah saja ya nak?"


Mata Mayava menjadi merah, dia tiba-tiba saja menyerang ibunya, membuat sang ibu terjatuh.


Sang putri melakukan tindakan yang sama sekali tidak terduga.


Di tangannya ada pisau yang hendak ditusukkan pada leher sang ibu, dengan cepat kakek Mayava mencegahnya.


Sang kakek berhasil melumpuhkan cucunya dengan segera, sang cucu masih marah.


Mayava menangis, dia merasa ibunya sama saja dengan ayahnya.


Selalu menentang hubungannya dengan Vans.


"Ibu! kenapa ibu tega padaku! dia suamiku, ibu tak suka jika aku bahagia? kau sama saja dengan ayah!"


Saat keadaan begitu mencekam, kakek Mayava terpaksa memukul tengkuk sang cucu agar tidak berbuat hal lebih jauh lagi.


Sang kakek ingin membawa cucunya itu ke rumah sakit jiwa.


Entah kenapa sang kakek berpikir demikian, sang ibu merasa bahwa ini terlalu gegabah.


Nyonya Yussi tak setuju dengan keputusan kakek Mayava.


"Ayah, aku bisa memeriksanya."


"Dia tidak sakit fisik, tapi sakit jiwa. Jiwanya telah rapuh Yussi."


"Apa gunanya aku menjadi seorang dokter? jika tak bisa merawat anakku?"


"Yus, dengarkan ayah. Ayah tak mau kau terluka lagi, dia butuh perawatan. Mayava sakit."


"Tapi ayah!"


"Kau turuti saja kemauanku, cucuku harus sembuh."


Setelah kesepakatan ini, kedua orang itu membawa Mayava keluar dari rumah, lalu memasukkannya ke dalam mobil.


Sang kakek yang menyetir dengan perasaan genting.


Nyonya Yussi berada di jok belakang, menemani sang putri yang pingsan.


.


.


Rumah sakit jiwa ...


Kebetulan rumah sakit jiwa dekat dengan tempat tinggal sang kakek, apalagi dulu sang ibu juga pernah berkunjung ke tempat itu.

__ADS_1


Jadi beliau kenal beberapa orang di sana.


Sang kakek meminta kepada seorang suster agar membawa sang cucunya untuk segera mendapatkan perawatan.


"Nak, ini adalah keputusan yang paling benar."


"Iya ayah, semoga saja."


.


.


.


Beberapa menit kemudian ...


Mayava telah masuk ke dalam ruangan khusus yang disediakan oleh rumah sakit itu.


Ruangannya cukup luas, di sana ada ranjang, meja makan dan beberapa pernak-pernik yang disediakan untuk menunjang sang pasien dalam proses penyembuhan.


"Dok, tolong jaga anakku," pinta Yussi, ibu Mayava.


Di sana hanya ada sang ibu, sebab sang kakek meminta izin untuk membeli makanan.


"Ya nyonya, kami akan menjaga dan merawat putri anda dengan baik. Anda tidak perlu cemas. Rumah sakit kami sudah profesional menangani semua ini. Setiap gejala gangguan kejiwaan dengan segala tingkat, sudah kami tangani, tidak perlu cemas."


"Iya dok, aku percaya padamu. Oh ya, nama dokter siapa? saya meminta nomor telepon, agar sewaktu-waktu bisa bertanya kabar lewat dokter."


"Oh oke, namaku Yong Earl, ini kartu namaku," ucap sang dokter dengan senyum manisnya.


Kakek Mayava cukup senang melihat sang dokter, dia berjalan mendekati nyonya Yussi sambil membawa makan dan minum, dia meminta sang putri untuk tidak terlalu cemas, semuanya sudah ditangani dokter.


"Dok, kau akan menjaga cucuku kan?"


"Iya kakek, tenang saja."


"Kau dengar Yussi? dokter akan menjaga anakmu."


"Ayah, aku ingin masuk dan menjaga Mayava."


"Jangan, anak itu sedang dalam kondisi tidak baik. Kau makan dulu, sejak pulang dari pemakaman, kau sangat letih, bahkan belum mandi."


"Ayah, aku yang bersalah."


"Kau ingin ikut gila juga? astaga! kenapa kau tega seperti ini! tugas kita adalah menjaga Mayava. Kau tidak boleh sakit Yus."


Yong Earl yang paham kondisi ini, memberikan solusi.


"Maaf, jika aku ikut campur, tapi di sekitar area rumah sakit, ada sebuah penginapan yang biasa di gunakan untuk menginap para anggota keluarga pasien. Penginapan di siapkan untuk anggota keluarga yang masih ingin menjaga anaknya, kami menyarankan, anda berdua menginap di sana saja. Tempat itu gratis, kau tinggal bilang, jika anda berdua temanku."


"Baik dok, jaga cucuku, aku minta tolong."


"Baik."


Yussi merasa bersalah, dia menangis, tapi sang ayah mencoba untuk membuat segalanya baik-baik saja.


Keduanya pamit dengan dokter Yong, kemudian berlalu dengan kesedihan yang masih melekat.


.


.


.


Tengah malam di rumah sakit ...


Setelah seharian ini banyak tugas dan begitu melelahkan, Yong Earl terlihat sedang piket.


Dia hanya mengantikan temannya yang sedang sakit.


Yong berusaha keras untuk tidak tidur, meski sejak dua bulan lalu dia berada di rumah sakit, rasanya masih harus beradaptasi.


Saat dia bertugas, Yong Earl berusaha untuk bekerja sebaik mungkin.


Satu persatu kamar pasien ia check, untuk beberapa kamar tidak ada yang aneh.


Namun, saat melewati kamar Mayava, dia mendengar suara seperti benda terjatuh.


Dia membuka kunci kamar, pintu terbuka.


Kamar itu begitu terang dan kejadian mengerikan terlihat jelas.


"Nona!" teriak sang dokter saat melihat Mayava bersimbah darah di atas lantai.


****


.


.


.


Meluncur ya ke sana ya gaes ...


Aku tungguin 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2