Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Untung hanya mimpi


__ADS_3

"Akhh ... Nando, baby iya, seperti itu," ucap sang gadis saat sang Nando menggetarkan kewanitaannya dengan hentakan penuh tenaga.


Dari arah belakang, liang itu semakin sempit dan mengigit.


Nando terus memompa sang gadis tanpa henti karena dia ingin sekali menumpahkan cairan surgawinya di dalam rahim sang gadis.


"Sayang!"


Hentakan terakhir, membuat Nando melepaskan kenikmatan itu di dalam sana, liang kesukaannya.


"Kau cantik sekali, kau juga semakin berisi."


"Iya, aku menjadi seperti ini karena sedang hamil."


"APA?"


"Iya, hamil anakmu baby, kita menikah ya?"


Seketika Nando melotot, dia kebingungan, harusnya dia tidak terlalu sering mengucurkan kenikmatan di liang horor itu, tetapi Nando terlalu berani.


Saking kagetnya, dia sampai terjungkal.


*


*


*


*


*


Bruk!

__ADS_1


Nando terjatuh dari kursi, dia mengerjapkan kedua matanya, harusnya dia ada di kamar utamanya, tetapi saat dia menatap apa yang ada di sekitarnya, Nando merasa lega.


"Fiuh! aku hanya bermimpi, aku akan gila jika para gadis itu hamil. Aku belum ingin memiliki anak, berkomitmen dalam satu ikatan, bukan gayaku."


Nando mengusap keningnya yang dipenuhi peluh. Di dalam dunia khayalan, mimpi juga, hanya satu yang dia ingat, kenikmatan duniawi saja.


Saat dia menyadari jika itu semua tidak nyata, Nando segera menyapa wanita yang ada di depannya.


"Baby, selamat, eh ini sudah pagi atau malam ya?" Nando bahkan tidak tahu waktu, mata elangnya langsung melirik ke arah jam tangan branded yang ia dapatkan dari sang ibu saat ulang tahunnya yang ke 20 tahun, sepuluh tahun yang lalu.


"Ibuku, dia akan mati berdiri jika mengetahui aku menjadi pria gila seperti ayah," ucap Nando tersenyum tipis, sembari membayangkan wajah ibunya yang merah padam, akibat kelakuannya yang tidak bermoral.


Nando bukanlah nama sebenarnya, itu faktanya. Dia mengganti semua identitas dirinya, akibat kelainannya, dia berubah jati dirinya agar sang ibu tidak bisa menemukannya.


Sudah 5 tahun yang lalu, dia kabur dan memelihara lima gadis yang awalnya masih perawan. Para gadis berasal dari keluarga berada, rata-rata mereka gadis kesepian dan ingin kesenangan tanpa ikatan, tentu saja dengan pria tampan dan kaya.


Nando memiliki teman yang tajir melintir, dia juga memiliki hobi yang sama. Orang itu adalah Alva. Nando meminta perlindungan Alva, dia tidak akan membocorkan jati diri Nando, agar Nando bisa melampiaskan hasrat yang kelewat membara itu.


Sudah lama Nando menikmati para gadis dan tak akan mungkin dia bisa berhenti dari fantasi gilanya.


Alva hanya bisa menyarankan agar Nando tidak terlalu lama menggila sepertinya karena Alva dan Nando berbeda.


Nando adalah pria baik-baik dari keluarga terpandang, hanya saja sifat sang ayah yang juga pecinta wanita, tak mampu membuatnya belajar.


"Aku tidak tahu, kapan akan berhenti memburu kenikmatan, tetapi aku hanya menjalani peranku. Ibu, kelak aku akan menemuimu. Semoga kau masih hidup dan aku tidak terlalu merasa bersalah."


Nando merenungkan semua perbuatannya yang sangat beresiko tinggi mengidap penyakit kelamin.


Tapi dia sudah melakukan antisipasi, dia berharap akan segera menemukan gadis yang mampu membuatnya sadar dan berhenti bermain dengan liang gadis lain.


....


Dua puluh menit Nando hanya menunggu Juli, membayangkan bagaimana indahnya tidur dengan wanita cantik yang sedang terbaring lemah itu, muncul rencana gilanya yang ingin menyetubuhi pasien.

__ADS_1


Tapi niat itu terhalang karena suara orang membuka pintu, dia pura-pura tertidur.


Orang itu mendekat ke arah Nando dan membangunkan casanova itu.


"Tuan, Tuan Nando? kau menunggu kekasihmu ya? wah romantis sekali," puji sang dokter.


Nando berpura-pura menguap dan menggeliat, agar terlihat seperti sedang bangun tidur, padahal yang terbangun adalah bagian yang lain.


"Hoam! maaf dok, aku tertidur." Nando menutup mulutnya dengan tangan kanan, untuk sekedar berpura-pura agar otak messummnya tidak terlalu kentara.


"Wah kau baik Tuan, kau bisa pulang ya? biar nona ini saya yang memeriksanya, kau boleh datang kemari besok pagi." Dokter tersenyum melihat Nando yang seperti pria setia. Padahal juga tidak seperti itu.


"Oke dok, dia tadi bisa merespon ucapanku dengan gerakan tangannya, apakah dia akan segera pulih?" tanya Nando yang tidak sabar bermain di pucuk ranum buah dada si wanita cantik yang bernasib kurang bagus.


"Wah! ini ajaib, Hm ... kau harus sering kemari Tuan, ajak dia bicara."


"Tidak bisakah aku membawanya pulang?" Hatinya menjerit, meniduri pasien pun tak apa yang penting hasratnya terpenuhi.


Tetapi harapan Nando tak seperti saran dokter, Juli harus ada di rumah sakit. Dia lebih aman di sana.


Nando pasrah, dia harus menunggu beberapa bulan lagi.


"Okelah tak apa, aku masih memiliki lima gadis yang siap memuaskanku," batin Nando, dia berusaha menghibur diri agar tidak terlalu memikirkan hal gila lagi.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2