Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Kita putus!


__ADS_3

"Nona?" panggil Nando kepada seorang pelayan yang ada di Cafe itu.


Sang pelayan kemudian mendekat kearah Julia dan Nando.


Dia memberikan daftar menu kepada pasangan tersebut.


"Silahkan daftar menunya, Nona dan Tuan," ucap sang pelayan.


Nando mengambil daftar menu itu kemudian melihat salah satu makanan kesukaannya, yaitu nasi goreng seafood serta jus jeruk.


"Sayang, aku mau pesan seafood dan jus jeruk, kau mau apa? tinggal pilih, nanti aku yang akan membayarnya," jelas Nando dengan senyum sok manisnya.


"Aku tidak mau makan, ingin minum air putih saja," ujar Julia malas.


Nando bingung, dia terlihat sangat cemas mengetahui fakta bahwa kekasih hatinya sedang curiga kepadanya.


"Baby, janganlah marah. Oke, kau ingin aku mengatakan apa?" ucap Nando mencoba untuk mengerti apa yang Julia inginkan.


"Jujur, sebelumnya kau sudah pernah bertemu dengan adikku belum?" tanya Juli.


Sang kekasih mengatakan hal itu dengan wajah datar, Julia ingin sang casanova mengatakannya dengan jujur tanpa ada kebohongan.


Nando menghela nafas panjang, dia ketakutan sendiri, berusaha keras untuk jujur.


"Nona, kami berdua memesan dua nasi goreng seafood dan jus jeruk," pinta Nando sambil menyehatkan daftar menu kepada si pelayan.


"Baik Tuan," jawab sang pelayan sambil menerima daftar menu itu kemudian pergi dari hadapan Nando dan Juli.


Setelah kepergian sang pelayan, Nando menggenggam tangan Julia.


Dia mengawali kejujuran itu dengan mengatakan hal manis.


"Baby, aku ingin kau berjanji satu hal," ucap Nando.


Sang casanova mencium punggung tangan Juli.


"Basa-basi!" ledek Julia.

__ADS_1


Dia memang kesal karena Nando terlihat mengulur waktu. Padahal Julia hanya ingin kepastian.


Julia hampir melepaskan genggaman tangan Nando, namun sang pria kembali meraihnya.


"Baby, tunggu! jangan marah, maaf! oke ... oke ... oke, aku akan jujur padamu. Aku memang pernah bertemu dengannya saat pulang dari Paris dan itu tidak sengaja," jelas Nando.


Sang casanova khawatir jika Julia akan berpaling darinya saat mengetahui fakta ini.


"Cih, sekali brengsek tetap berengsek," lirih Julia sambil tersenyum smirk.


"Jawab dengan jujur, apa yang kau lakukan dengannya setelah itu? apa kalian menghabis malam bersama?" tanya Julia dengan sorot mata yang tajam.


Glek!


Nando menelan salivanya, dia berpikir seribu kali untuk jujur, bagaimana tidak?


Waktu itu, dia sempat bermain dengan Xia di pesawat, walau permainan keduanya tidak sampai diatas ranjang, namun rasanya dia enggan jujur.


Dia takut Julia akan semakin marah kepadanya.


Suasana menjadi hening.


"Steve, aku ingin memiliki pasangan yang jujur dan tidak mendua, aku sudah muak dengan segala pengkhianatan! kau yang membuatku tetap hidup, padahal sebenarnya aku ingin mati. Namun, mengapa kau sulit mengatakan kejujuran?" tanya Julia lirih. Dia sangat sakit hati dan tersayat hatinya kala mendapati orang yang ia cintai terlalu berbelit-belit dalam mengatakan kejujuran, ini menandakan bahwa Nando tidak bersungguh-sungguh ingin menikah dengannya.


Nando kembali menhela nafas, dia memahami perasaan Julia.


"Baby, sebelumnya aku meminta maaf padamu. Aku pernah menyentuhnya tapi ...."


Plak!


Suara tamparan di pipi kiri Nando sudah mewakili sakit hati Julia, dia belum selesai bicara, tapi Julia sudah bisa menyimpulkan bahwa Nando hanya bermain saja dengannya.


Hari-hari yang keduanya lalui juga hanya angin lalu, Julia kecewa.


"Kita putus!" pinta Julia sambil berlalu dari hadapan Nando.


Nando yang belum mempercayai apa yang terjadi, masih terpaku dalam lamunannya, berharap semua yang terjadi kepadanya hanyalah mimpi.

__ADS_1


"Ini mimpi kan? ini tidak nyata kan?" tanya Nando pada dirinya sendiri.


Dia membiarkan Julia pergi darinya begitu saja, rasanya dada sesak, tapi apalah daya, Nando memang pihak yang harus bertanggung jawab tentang lara hati yang dirasakan oleh Julia.


....


Sementara itu di luar Cafe ...


Julia berjalan menuju halte bis yang ada di depan Cafe, dia menangis sepanjang jalan menuju halte itu.


Suara tangis yang tertahan, rasanya ingin lepas dari tubuh sial itu dan memeluk kedua orang tuanya di surga.


"Mengapa kau menyelamatkanku jika hanya ingin mematahkan hati ku,Steve!" ucap Julia.


Dia duduk meringkuk di samping halte bis.


"Hiks, mengapa dia tega kepadaku! jahat sekali Steve! mengapa harus adikku?! apa aku tidak mendapatkan kebahagiaan?"


Saat sang wanita merasa pilu, seorang pria berjas menghampirinya.


Dia berjongkok didepan tubuh Julia.


"Nona, apa kau kehilangan anggota keluargamu?" tanya sang pria.


Julia hanya diam sambil terus meneteskan air matanya, membuat sang pria iba.


"Ada banyak hal di dunia ini, namun rasa kecewa adalah sesuatu yang sulit untuk kita hindari," ujar sang asing.


Mendengar kata-kata yang sesuai dengan kisahnya, Julia menegakkan kepalanya dan mengusap air mata menggunakan tangannya sendiri.


"Siapa kau? aku tidak membutuhkan ceramah mu," tegas Julia.


Sang wanita bangkit dari posisi awal dan pergi begitu saja.


"Biasanya para wanita akan mudah aku takhlukkan namun, wanita ini? dia mengacuhkanku, ehm ... wanita yang menarik, aku ingin wanita itu!" seloroh sang pria.


Pria berjas terlihat menyukai sikap Julia yang cuek kepadanya.

__ADS_1


*******


__ADS_2