Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Ayah tidak berselera


__ADS_3

Nando yang tidak terlalu perduli masalah tantangan hanya diam saja, dia sudah mengetahui kapasitas sang calon istri dalam berbicara di depan umum karena itu adalah pekerjaannya sehari-hari.


"Jika tidak ada yang ingin kalian sampaikan, tolong pergilah! atau ingin menunggu teh yang akan istriku buat? atau ingin tidur di sini? terserah kalian." Tuan Heleas meraih tabletnya yang ada di atas meja kemudian melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Sang istri yang memahami situasi ini, bergerak cepat langsung mencegah kepergian Nando dan Juli.


"Jangan pergi dulu, mulut suamiku memang pedas level 30. Akan tetapi sebenarnya dia baik, aku akan membuat teh, agar kalian bisa berbincang lebih lama lagi."


Nyonya Jeslin kemudian segera enyah dari ruang tamu dan berjalan menuju dapur untuk membuat teh hijau untuk Nando, anak menantu serta sang suami.


Situasi canggung mulai menyelimuti.


Nando yang malas memulai pembicaraan kemudian mengajak sang pujaan hati untuk segera pulang ke rumahnya, tetapi Juli belum ingin beranjak, dia tidak ingin mengecewakan Nyonya Jeslin.


Tapi Nando kekeuh ingin pergi, baginya harga diri lebih penting daripada harus mengemis restu.

__ADS_1


"Nando jangan lari dari kenyataan lagi, kita harus menghadapinya bersama," bisik Juli.


"Tapi baby, pria tua ini memang menyebalkan dari dulu, aku malas mendengarkan semua kata-kata unfaedah dari mulutnya," jawab Nando terang-terangan.


"Steve, tanpa restu dari ayah, kau tidak akan pernah bisa menikahi kekasih unikmu ini. Kau itu bodoh, mana bisa memilih gadis kampungan dan mengacuhkan gadis berpendidikan tinggi yang ayah berikan? seleramu rendah sekali ternyata." Tuan Heleas selalu pedas dalam berucap, membuat Nando emosional.


"Steve, tahan," ucap Juli sembari menggenggam tangan Nando.


Dia tidak akan membuat Nando kalah karena hati dan pikirannya terbakar amarah yang sesaat.


"Jaga bicaramu Steve, dia ayahmu!" jawab Juli, membuat Tuan Heleas tersenyum tipis.


"Oh, sekarang sudah mendapatkan pawang ya? selera rendahan, wanita unik dan tidak berpendidikan, seleramu berubah drastis, dari menyukai wanita bersuami serta wanita aneh, Steve ... Steve ...." Tuan Heleas menyayangkan sikap Nando yang memilih jalan sulit dengan Juli.


Padahal pada kenyataannya, Juli adalah wanita idaman dengan pendidikan tinggi, dan sukses menjadi wanita karier.

__ADS_1


Tuan Heleas akan tercengang saat melihat kemampuan public speaking yang di miliki oleh calon menantunya itu, tidak hanya akan melongo, tetapi lebih dari itu.


Sang kakek moyangnya casanova mungkin akan lebih menghargai Juli tidak hanya dari penampilan luarnya saja.


Nando sudah gemas ingin melayangkan bogem mentah ke arah wajah Tuan Heleas, namun semua itu Nando urungkan, dia merasa kasihan dengan Juli yang terhina oleh mulut pedas level 30 sang ayah.


Suasana panas masih menyelimuti kedua kubu saat teh buatan Nyonya Jeslin tersedia di atas meja.


"Hey kalian anak dan ayah? jangan saling memalingkan wajah," tegur Nyonya Jeslin.


"Dia yang memulai ibu, seharusnya lebih memahami pilihanku! apa salahnya menikah dengan wanita unik! jangan mentang-mentang simpanan ayah cantik-cantik, ayah menghina calon istri pilihanku," ujar Nando yang sebenarnya lega karena sang ayah sama sekali tidak melirik wajah Juli yang ia buat seaneh mungkin.


Hahahaha ... okelah! misi tipu-tipu telah usai, ayah tidak berselera dengan Juli, kwkwkwkwk.


….

__ADS_1


__ADS_2