
Juli mengigit bibir bawahnya saat jari itu masuk ke dalam inti tubuhnya. Nando perlahan memajumundurkan jari itu, dia menguasai dua area paling sensitif Juli. Nando tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini, mulut dan jarinya ia gunakan untuk menyenangkan calon istrinya karena senjata miliknya masih belum sembuh sempurna.
"Hmpp ... baby, stop!" ucap Juli yang merasakan sensasi hebat saat sesuatu dibawah sana mengalir tanpa izin.
"Keluarkan saja semuanya baby, aku akan membuatmu melayang sebanyak apapun yang kau inginkan." Sang casanova memprovokasi Juli untuk terus mengeluarkan suara indahnya dan juga semuanya yang ada di dalam hatinya.
Rasa cinta dan rindu yang selama ini keduanya pendam kepada masing-masing hati.
Nando yang sudah dibutakan cinta, terus membuat tanda kepemilikan di sembarang tempat.
Hingga dada wanita itu hampir penuh dengan warna merah pekat, rasanya sudah lemas, tetapi Nando tetap saja memberikan sensasi melayang lagi-lagi.
"Stop baby, cukup! hmppp! akghhhh...." Suara lenguuhhan yang keluar dari mulut Juli menandakan jika Nando masih mampu membuat partner ranjangnya puas hanya dengan permainan finger and mouth.
Pria casanova yang sangat menyukai wajah Juli saat mengeluarkan segala hasrat di dalam dirinya, terus menambah gairah dengan mempermainkan kedua buah surgawi dengan pucuk ranum itu, sensasi pijatan dan sentuhan yang Nando berikan di sekitar benda mulus, lembut nan kenyal itu sangat memabukkan. Juli sampai kehilangan akalnya, hingga detik terakhir.
"Kau sangat menikmatinya baby? sudah berapa kali kau terbang? 2,3,4, atau 5? kau memang dahsyat dalam permainan ini baby, jika senjataku tidak lecet, kau sudah habis ku bombardir sampai pingsan, hehehe ... maaf baby! aku terlalu terobsesi dengan apa yang ada di tubuhmu, terutama pucuk ranum itu, sahgat candu bagiku baby!"
Plup!
Lagi dan lagi, dia menyesapp, memillliin dan menjadikan lidahnya bekerja sangat keras.
Ide gilanya yang lain adalah dia mampu membuat Juli tetap bahagia meskipun senjatanya masih terkudeta.
__ADS_1
Dengan berhati-hati, Nando menyusuri setiap jengkal tubuh seksi itu dengan benda tak bertulangnya, dari leher sampai pangkal paha Juli.
"Buka baby, beri my mouth akses untuk masuk ke dalam nirwanamu," pinta Nando.
Juli memahami hal ini, dia melebarkan jarak antara paha yang satu dengan yang lain.
Nando yang gila itu, memposisi wajahnya tepat di depan nirwana milik Juli yang terasa basah dan hangat itu.
"Baby, hmmpp! kondisikan milikmu, aaahhk!! nanti m ... kau terluka lagi ...." Di saat seperti ini, Juli masih memikirkan keadaan Nando, betapa bahagianya dia. Pria mesum dengan sejuta ide ini, merasa disayangi dan dihargai sebagai pria yang belum berguna karena senjata andalan masih terkurung sepi dan kegalauan.
Nando hanya diam, yang bekerja hanyalah benda tak bertulangnya, dia memposisikan tubuhnya miring ke arah tubuh wanita dan membiarkan kaki mulus itu mengunci lehernya.
"Steve! auhg!" Lenguhhhaan terdengar jelas, ini adalah puncak utamanya, cairan surgawi itu Nando habiskan saat meleleh ke dalam mulutnya.
Posisi wajah mereka telah sejajar, Juli membenamkan wajah Nando di dadanya, menempel di dua buah surgawi kegkegemaran sang casanova.
"Baby?" tanya Nando.
"Iya Nando?" jawab Juli lembut.
"Kau benar sudah menyerahkan seluruh hatimu kepadaku?" tanya Nando sembari menciumi dada dengan buah yang berada di depan matanya.
"Tentu saja, harusnya aku melempar pertanyaan itu kepadamu. Kau pria dengan sejuta pesona yang tak akan mampu membuatku percaya dengan hanya sentuhanmu yang memabukkan itu, kau bisa saja berakting, bagaimana menurutmu?" Juli mengatakan hal yang sebenarnya, semua wanita sepertinya juga memiliki perasaan yang sama dengan Juli.
__ADS_1
Menjadi satu-satunya di hati sang casanova sangat lah sulit jika bukan pria tersebut yang menginginkannya.
"Kau boleh memotong senjataku kalau sampai ketahuan selingkuh, aku lebih baik tidak bermain daripada harus mengkhianatimu!" Nando mempertaruhkan hal yang sangat ia banggakan, dia terlalu memuja Juli.
"Buktikan dulu baby, jangan terburu-buru dalam berucap, ku potong beneran kau pingsan nanti,"
ucap Juli dengan menahan tawanya.
"Wkwkwkwk ... bukan hanya pingsan, koma baby! ya sudahlah! lebih baik kita membahas tentang pernikahan kita dan rencana balas dendam mu."
Kini keduanya mulai serius berbicara.
"Kau minta obat manjur untuk mengobati lukamu itu baby, kau akan kesulitan berjalan saat milikmu masih terasa sakit," saran Juli.
"Ya nanti aku minta kepada dokter pribadiku. Baby, apa benar kau belum tersentuh Jack?" tanya Nando seperti meragukan sang pujaan hati.
"Kalau hanya peluk, cium sudah. Tetapi untuk lebih jauh dari itu, belum. Sepertinya dia tidak berselera denganku, padahal tiap malam aku selalu memakai lingerie super seksi agar suamiku mendekat, aku merayunya sampai kebas, tetapi Jack tetap saja diam tak ada pergerakan. Maka dari itu, mengapa aku begitu liar di hadapanmu. Aku termasuk wanita yang mudah tersangsang tapi aku mencoba menahannya. Aku menghormati suamiku yang kelelahan saat bekerja, aku pun juga sama. Kami berdua sangat keras dalam bekerja, jadi itu mungkin yang membuat dia tak berselera meski aku sudah berusaha keras memancing hasratnya agar tergoda olehku. Aku sangat minim sentuhan, suamiku jarang membelai, menciumku atau sekedar memelukku saat di atas ranjang. Dia tidak pernah melakukan semua itu." Juli lebih tegar dalam menyampaikan keluh kesahnya.
"Aku akan menggantikan posisinya di hati dan tubuhmu, kelak kau tidak perlu bekerja. Tetaplah tinggal di rumah, kau hanya perlu melayaniku dan melahirkan anak untukku, kau paham?" Nando mempertegas keinginannya untuk membahagiakan Juli.
"Oke, jangan lupa balas dendamku baby, kau enaa-enaa mulu," celetuk Juli.
"Kwkwkwk baik, aku akan membantumu, kita selidiki dari awal kehidupan misterius yang Jack miliki, aku rasa dia menyembunyikan banyak hal."
__ADS_1
….