
Melihat pujaan hati berbicara banyak hal, dia tidak mengatakan apapun, justru si mesum hanya menatap Juli tanpa henti. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Bibirnya juga tak bosan menyunggingkan senyum. Pria ini terkena penyakit fall in love akut.
Santos yang ada di sampingnya pun hanya bisa memperhatikan antara dua orang itu, yang satu sedang berbicara panjang lebar, yang satunya manggut-manggut saja.
"Tuan, Tuan Muda?" bisik Santos sembari menepuk pundaknya pelan.
Nando masih belum menggubris.
"Nando?" panggil Juli yang telah selesai berbicara. Dia mencoba menyadarkan Nando yang tak berkedip sekalipun.
Juli menoleh ke arah belakang. Tidak ada orang di belakangnya, dia merasa Nando sedang melihatnya, tetapi ada apa di wajahnya? hingga Nando begitu serius memandanginya tanpa henti.
Dia mencoba bertanya pada si Tuan Muda.
"Nando, apa aku terlihat aneh? wajahku aneh?" tanya Juli yang menyentuh seluruh wajahnya, berharap tidak ada hal yang menempel di sana, entah nasi, atau lauk yang baru saja ia makan.
Melihat kondisi yang sudah sangat bucin, Santos kemudian bertindak.
"Tuan Muda? Nona Juli bertanya kepadamu, apakah kau mau meninggalkan semua gadismu demi dirinya?" bisik Santos.
Seketika Nando bersemangat dan menjawab, "Tentu saja, dia akan aku jadikan istri satu-satunya. Aku akan meninggalkan semua gadis yang tidak berguna itu."
"Benarkah? saat kau menikah denganku, kau akan meninggalkan semua gadismu?" Juli yang mendengar apa yang dikatakan Nando, langsung gercep. Dia ingin menguji si casanova.
"Haha, jam berapa ya ini? aku harus pergi ke kantor," ucap Nando yang masih saja berkilah.
__ADS_1
"Nando, aku serius." Wajah Juli berubah, dia lebih serius kali ini.
"Ya, bisa aku pertimbangkan," jawab Nando dengan hati dan pikirannya yang sepenuhnya sadar, ini membuat Santos tersenyum. Dia senang sekali.
Puji Tuhan, syukurlah! dia akan segera menemukan jalan kebenaran.
Santos menjadi orang pertama yang mendengar ikrar si casanova, meskipun kata mempertimbangkan terdengar ambigu, Santos tetap yakin, jika Tuan Mudanya akan mendapatkan jalan kebenarannya lewat Nona Juli yang sekarang lebih bersemangat itu.
"Oke, sebelumnya aku berterimakasih karena kau mau membiayai pengobatanku, mau membantuku balas dendam, aku hanya punya tubuhku, ini yang akan menjadi jaminannya." Juli sangat ingin membalas semua kesialan yang ada di dalam hidupnya yang disebabkan oleh Xia dan Jack, dia benar-benar ingin bangkit dan merubah takdirnya.
"Tubuhmu cukup, lebih dari cukup. Kau ingin menikah kapan? biar aku siapkan," ucap Nando yang kini mengendalikan diri dari rasa groginya.
"Setelah aku sembuh pastinya, kau juga harus membantuku merubah identitasku. Tapi sebelum pernikahan itu terjadi, aku ingin sebuah perjanjian pra nikah," jawab Juli yang masih tetap waspada.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Nando.
Wanita ini memiliki optimisme dan keyakinan sangat kuat mampu merubah takdir hidupnya yang menyedihkan. Namun, aku masih penasaran, apakah hanya ini penderitaannya? aku rasa dia sudah terlalu jengah dengan hidupnya yang penuh masalah.
Nando menerka-nerka apa yang sebenarnya menimpa nona kecilnya ini, dia sangat ingin tahu.
"Terlalu banyak syarat, tetapi aku suka. Bolehlah, kita akan mulai membahas pernikahan setelah kau sudah baikan," ucap Nando. Dia kagum sebenarnya, tapi dia harus sok cool.
"Haha, bermain dengan casanova sepertimu, harus lah cerdas, aku bukan seperti para gadis bodoh itu yang mudah kau kendalikan!" Tegas sekali sikap Juli, membuat Nando tersenyum tipis.
"Haha, sialan! ya aku mengakui jika kau lebih cerdas serta cerdik dari mereka, permainanmu di ranjang juga lebih hebat dan hot," tukas Nando kembali tersenyum tidak jelas, ada yang sedang ia pikirkan.
__ADS_1
"Diamlah! aku masih sakit dan hanya ranjang saja pembahasanmu, okelah, aku ingin beristirahat, kalian berdua bisa kembali nanti malam," pinta Julia yang merasakan kantuk yang tak tertahan.
"Jika aku yang merawatmu di rumahku, apa kau mau?" tanya Nando, dia berharap, sangat berharap jika Julia setuju dengan keinginannya.
"Kau tanya saja dokter, aku tidak bisa memutuskannya," jawab Julia.
"Oke, nanti aku akan bertanya kepadanya. Ehm ... sepertinya kau memang harus beristirahat, sekarang waktunya kami pergi," tukas Nando yang beranjak dari tempat duduknya, dia memberikan kode kepada Santos untuk segera meninggalkan ruangan VVIP itu.
Saat Nando berbalik, Juli mengatakan sesuatu yang membuatnya tersentuh.
"Nando, maaf jika aku harus kembali merepotkanmu, apakah aku bisa minta tolong lagi satu hal?" pinta Juli.
"Katakan, apa yang kau inginkan?" tanya Nando, tanpa menoleh ke arah Juli.
"Carikan keberadaan temanku, namanya Steve Heleas. Aku sudah mencarinya kemanapun, tetapi aku tidak menemukannya. Aku menunggunya di rumah sakit ini, berharap ayahnya akan memukul kepala hingga berdarah lagi, tetapi semua hanyalah harapan yang tak akan terwujud. Kemarin aku memimpikannya, bertemu dengannya tapi dia tak dapat aku jangkau, dia berada jauh tetapi aku merasa dekat dengannya, entahlah! jika ada kesempatan, aku ingin bertemu Steve, itu saja keinginanku."
Deg!
Deg!
Deg!
Senyumnya mengembang sempurna, Nando tak menyangka jika J ternyata mencarinya juga.
"Oke, aku akan berusaha mencarinya untukmu," ucap Nando, sangat sumringah.
__ADS_1
Santos yang juga ada di sampingnya, ikut merasakan kebahagiaan sang Tuan Muda.
….