
Santos segera menyusul Tuan Mudanya yang telah mendahului langkahnya menuju kamar VVIP rumah sakit tersebut.
Dia masih bisa menatap punggung si Tuan Muda karena langkah kedua kakinya tidak terlalu cepat dalam berjalan, Nando sepertinya memang memperlambat laju kakinya untuk menunggu Santos.
"Tuan Muda, maaf aku telat," ucap Santos yang memilih untuk lari menuju Nando yang kini sudah berada di depan pintu lift yang akan mengantarkan mereka menuju kamar rawat inap VVIP, tempat Juli di rawat.
Ting!
Pintu lift telah terbuka.
Keduanya melangkahkan kedua kakinya, masuk ke dalam lift.
Kebetulan, di dalam lift, mereka hanya berdua, tidak ada orang lain yang berbuat mesum seperti saat Nando menjenguk Juli beberapa hari yang lalu.
Nando memencet tombol angka 1 dan 0 karena dia akan naik menuju lantai 10 rumah sakit tersebut.
Di sela menunggu lift berhenti di lantai 10, Nando bercerita tentang pengalaman luar biasanya saat berada di dalam lift.
"Santos, asal kau tahu saja ya? rumah sakit ini seperti studio film xxx. Aku pernah melihat pasangan sedang mesum di dalam lift, ada juga satu gadis dengan buah kenyal yang terlihat aduhai, uh ... rasanya ingin ku mainkan itu buah," ucap Nando sembari membuat gerakan mereeemas yang di lakukan oleh dua tangan mesumnya itu.
"Aku paham maksudmu Tuan Muda, tidak perlu diperjelas," jawab Santos yang menurunkan posisi kedua tangan Nando yang masih saja membuat gerakan yang sama.
"Hahaha ... ya pokoknya seperti itu." Nando tertawa karena melihat wajah Santos yang kesal.
"Jangan marah Santos!" imbuh Nando.
Ting!
Pintu lift telah terbuka, keduanya keluar dari lift kemudian meneruskan langkah menuju kamar rawat VVIP.
"Tuan, kau keringat dingin ya?" tanya Santos yang sedari tadi memperhatikan wajah sang casanova mulai mengeluarkan peluh.
"Bukan keringat dingin, keringat saja." Nando ngeles, dia sebenarnya merasa jantungnya berdegup kencang, kepala pening sampai rasanya ingin pingsan saat langkahnya mulai mendekat kamar rawat inap VVIP.
"Tapi, kita tadi tidak lari-lari kan? naik lift mana mungkin berkeringat?" Santos yang belum memahami apa yang dirasakan Nando terus saja mendebat.
__ADS_1
"Iya, aku juga tidak tahu mengapa peluh membahasi wajahku," ucap Nando yang berusaha bersikap sewajar mungkin.
Santos menghentikan langkah majikannya, kemudian berkata," Tuan salah tingkah ya? mau ketemu nona J?" Ini hanya tebakan Santos saja. Entah apa yang terjadi pada majikan super mesumnya ini.
"Definisi keringat yang keluar dari tubuhku itu ada dua, satu karena aku terlalu hot di ranjang, kedua karena aku gugup."
Nando secara tidak sadar mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, Santos menahan tawanya dan membiarkan Nando berjalan lagi, dia akan memberikan akses kepada Nando jika itu menemui Juli.
Haha ... Tuan Muda ... Tuan Muda ... kau itu mudah sekali di tebak, mudah sekali mengatakan hal yang sebenarnya. Ya Tuhan, semoga Tuan Muda segera menyadari jika dia sudah menemukan pawangnya, dan tugasku akan lebih ringan.
Santos membayangkan, betapa dia akan beruntung saat Juli dan Nando benar-benar menikah. Apapun yang Juli katakan pasti akan segera Tuan Muda mesumnya penuhi.
Awal yang bagus untuk Santos.
Pada akhirnya, berkurang lah beban dosa Santos, dia tidak harus menasehati sampai mulutnya berbusa hanya untuk membuat Nando berpikir jika apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan.
....
Di depan pintu ruang rawat inap VVIP...
Santos sampai harus menepuk pundak Nando agar sang casanova berhenti membuat kepalanya pening.
"Tuan?" ucap Santos.
"Astaga!" jawab si mesum.
"Ada apa Tuan? apa Tuan lupa caranya membuka pintu hingga sedari tadi hanya berjalan kesana kemari tidak karuan," tegur Santos.
"Tidak, aku hanya ...." Nando menggigit ujung kukunya, terlihat jelas dia sangat gugup.
Namun, tanpa basa-basi, Santos langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Nando yang kebingungan, juga mengekor langkah Santos.
"Hallo Nona Juli? maaf kami lama," ucap Santos yang langsung duduk di kursi yang berada di samping ranjang, tempat Juli terbaring lemah.
"Hallo Santos, oh ya kau hanya sendiri?" tanya Juli yang tidak melihat siapapun selain dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak nona, aku bersama ...." Santos menoleh dan tidak mendapati siapapun di sana.
Dia beranjak dari tempat duduknya untuk mencari keberadaan Nando, saat dia mencari di samping ranjang, terlihat si Nando sedang bersembunyi.
"Tuan? apa yang kau lakukan di sini?" tanya Santos yang membuatnya langsung menampakkan sosoknya yang sok cool itu.
"Haha, aku sedang mencari sesuatu, ya itu alasannya," ucap Nando sembari melirik ke arah Juli yang juga menatap matanya sembari menyuguhkan senyuman manisnya yang mematikan.
"Hay Juli? bagaimana keadaanmu? apakah kau baik-baik saja?" imbuh Nando, dia mencoba menutupi rasa groginya dengan bersikap sok akrab seperti biasa.
"Hay juga Nando, uhuk ... uhuk ... aku merasa lebih baik, meskipun masih lemas rasanya."
Mengetahui sang pujaan hati batuk-batuk, dia bergerak cepat mendekati Juli, kemudian mengambilkan segelas air putih yang ada di atas nakas.
"Minumlah, kau akan baik-baik saja," pinta Nando. Dia menyodorkan gelas berisi air putih itu tepat di mulut Juli, mau tidak mau Juli harus meminum habis segelas air putih tersebut.
"Nah, bagus," imbuh Nando yang lega saat si Juli patuh kepadanya.
Dia segera meletakan gelas kosong itu kembali ke atas nakas.
Kini dia duduk di kursi yang jaraknya yang sangat dekat dengan Juli.
Dag ... Dig ... Dug
Tidak karuan rasanya.
Sialan! ini bukan seperti bertemu malaikat maut, dia Juli, Nando! Nona J-mu. Bersikaplah yang wajar.
"I love you," ucap Nando salah bicara.
"Ha? aneh, tiba-tiba bilang I love you, aku belum bisa melayanimu, aku ada di atas brankar bukan di ranjang kamar hotel. Dasar!" ucap Juli yang heran dengan apa yang dikatakan oleh Nando.
"Jika ingin mengatakan i love you, bawa aku ke pendeta, kita menikah oke? lakukan dengan benar jika ingin berakting secara profesional. Kau harus ingat, jika kau memiliki janji untuk membantuku membalas dendam kepada adik dan mantan suamiku," imbuh Juli.
Dia mencoba mengatakan segalanya dengan baik, meskipun masih lemas rasanya, pergerakan tubuhnya juga terbatas.
__ADS_1
….