
Esok harinya ...
Kamar Nando, pukul 08.00
Mata indah milik si tampan Nando masih terpejam kala Santos berusaha membangunkannya.
Tubuh kekar itu hanya menggeliat, tanpa menghiraukan Santos.
"Tuan, Juli sudah siuman."
Seketika itu juga, Nando terperanjat.
"Benarkah?"
"Iya, saat aku membersihkan kamar milik Nona Cantika, aku mendapati ponselmu berdering tanpa henti. Saat aku menjawab panggilan itu, seorang pria yang mengaku pemilik bar, memberikan informasi tentang Juli yang sudah sadar, dia sudah siuman," jelas Santos.
Nando yang malas menjadi lebih bersemangat.
"Mana ponselku!" ucap Nando meminta ponselnya kembali.
Santos menyerahkan ponsel sang Tuan Muda.
Ponsel sudah ada di tangannya, dengan raut wajah cerah merona, Nando menghubungi pemilik bar.
"Tuan? kau bilang wanita itu sudah siuman?" tanya Nando di sambungan telepon.
"Iya, dia sudah siuman. Kemarin malam, pihak rumah sakit menghubungi saya. Maaf Tuan, saya memberikan nomor ponsel Tuan kepada pihak rumah sakit, karena saya tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Jika terjadi sesuatu dengan wanita malang itu, anda yang akan lebih dahulu mengetahuinya."
"Bagus, kau melakukan hal yang seharusnya. Oke Tuan pemilik bar, terimakasih atas bantuanmu. Kirim nomor rekeningmu, aku akan memberimu hadiah."
"Tidak perlu Tuan. Oh ya, maaf saya tidak bisa terlalu lama berbicara karena masih banyak pekerjaan."
"Oke, no problem."
Nando mengakhiri panggilan telepon itu dan menatap Santos.
"Ada apa Tuan Muda? kau tiba-tiba tersenyum?" tanya Santos heran.
"Aku akan ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum pergi ke Paris," tukas Nando. Matanya berbinar, hatinya berbunga-bunga. Sungguh pagi yang membahagiakan untuknya.
Wanita asing namun sangat familiar itu sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
__ADS_1
"Tuan, aku sudah memesan tiket ke Paris, penerbangannya pukul 09.00 pagi, kau memiliki waktu satu jam untuk bersiap-siap."
"Iya, aku tahu Santos."
"Apa Tuan berpikiran jika Nona Juli adalah gadis kecil itu?" tanya Santos yang mengetahui tentang rahasia Tuan Mudanya.
"Haha, tidak. Aku hanya senang jika dia sudah siuman, itu saja." Nando berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya. Dia memang beranggapan Juli adalah J, tapi dia masih membutuhkan bukti yang akurat.
"Benarkah?"
"Iya. Santos, aku mandi dulu ya? kau siapkan pakaian dan mobilku."
"Siap Tuan!"
....
Dua puluh menit kemudian, Nando keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Dia mengeringkan rambutnya sembari bersiul.
Santos masih berada di kamar itu, membuat si casanova terkejut.
"Astaga! apa yang kau lakukan di sini? kau mau mengintipku ya?"
Handuk Nando yang terlilit di pinggangnya hampir terlepas saat Santos mengatakan hal menyebalkan itu.
"Sial! mengapa dia datang lebih awal!" umpat Nando.
"Kau segera ganti bajumu Tuan Muda, aku yang akan datang ke rumah sakit."
"Argghh! menyebalkan!"
Kesempatan untuk bertemu dengan Juli sirna sudah. Dia harus lebih bersabar.
Santos menatap wajah sang Tuan Muda yang frustasi, dia memberikan penawaran yang menarik.
"Aku akan meminta Nona Cantik menunggu di kamarnya, aku juga akan mengatakan kepadanya bahwa sebelum pergi ke Paris, Tuan akan membeli hadiah spesial. Jadi, Tuan Muda bisa pergi ke rumah sakit, bagaimana? ideku?"
Si tampan mengulum senyum. Dia setuju dengan rencana Santos.
"Kau cerdas juga, tidak sia-sia kau ikut aku," ucap Nando bangga.
__ADS_1
"Memujinya nanti saja Tuan. Lebih baik kau segera mengganti bajumu, aku akan mengalihkan perhatiannya."
"Oke."
Santos perlahan pergi dari kamar pribadinya. Kini hanya dia sendiri, Nando tak henti-hentinya tersenyum sembari mengenakan pakaiannya.
Setelah siap dengan pakaian rapi yang Santos siapkan, tak lupa Nando memakai jam tangan branded favoritnya.
Kemudian dia bercermin, memastikan wajahnya benar-benar terkondisikan saat bertemu Juli nanti.
Dia merapikan rambutnya, bajunya serta meraih botol parfum branded merk luar negeri yang menjadi koleksinya.
Ia menyemprotkan ke beberapa bagian tubuhnya agar semakin harum dan menunjang penampilannya yang sudah paripurna itu.
"Aku memang tampan dan mempesona," ucap Nando memuji dirinya sendiri yang memang tampan dan penuh pesona itu.
Dia mengambil ponsel dan kunci mobil yang ada di nakas.
Nando membuka pintu dengan perlahan, netranya melirik kekanan dan kekiri, berharap Santos sudah membawa Cantik ke kamarnya.
Ting!
Bunyi pesan singkat di ponselnya mengagetkan langkahnya yang mengendap-endap.
Dia segera mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan masuk kembali ke dalam kamarnya.
Nando membuka layar ponselnya. Di sana ia melihat ada pesan dari Santos.
'Aman Tuan, cepat kau segera pergi.'
"Yes!" ucap Nando penuh kegembiraan.
Dengan langkah yakin, dia keluar dari kamarnya.
"Juli, aku datang!" ucap Nando yang tak henti-hentinya tersenyum sumringah kala partner ranjangnya akan segera sembuh dan siap memuaskan has ratnya.
Dasar pria pemuja surga dunia, Juli masih belum sembuh sempurna, tetapi jiwa casanovanya sudah menggebu ingin bermain dengan wanita malang itu.
Dia segera menuju mobil mewah yang sudah terparkir di depan rumahnya.
Setelah itu, dia tancap gas menuju rumah sakit.
__ADS_1
….