Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Gigitan piranha yang membekas


__ADS_3

"Maaf Nona, aku sedang pusing memikirkan peran apa yang harus nona jalani saat bertemu dengan Tuan dan Nyonya Besar." Akhirnya Santos mengatakan uneg-unegnya juga.


"Memangnya mereka berdua mau bertemu denganku?" tanya Juli penasaran.


"Iya nona, aku sudah mengatakan jika nona adalah seorang pebisnis dan wanita elegan. Huft! bantu aku nona," jawab Santos dengan wajah yang frustasi.


"Kita temui Nando dulu, aku khawatir dia kenapa-kenapa. Ada saja masalah, bagaimana ceritanya sampai anunya digigit? aku tidak habis pikir." Juli tersenyum saat membayangkan wajah Nando ketika senjata andalannya tiba-tiba diserang, pasti sangat lucu.


"Baik Nona Juli, anda masuk ke dalam dulu, sambil naik mobil, aku akan menceritakan hal tersebut," ucap Santos sembari membuka pintu jok belakang.


Juli masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Santos segera mengemudikan mobil mewah sang casanova.


Santos mengemudikan mobil tersebut dengan santai karena ada sesi perbincangan antara dirinya dan Juli.


"Bisa kau jawab sekarang Santos," pinta Juli yang menagih jawaban atas pertanyaannya tadi.


"Tentang Tuan Muda yang sakit anunya?" ucap Santos mengulang apa yang ditanyakan oleh Juli.


"Iya," jawab Juli tersenyum.


"Tuan Muda sedang bersiap ingin menjemput nona, tetapi tiba-tiba ada salah satu gadis simpanan Tuan datang. Dia ingin mengajak Tuan Muda bercinta, tapi Tuan tidak mau. Alhasil, anu Tuan digigit oleh gadis itu sampai lecet." Santos bercerita peristiwa nahas yang baru saja dialami oleh Nando, dia juga ikut ngilu.


"Astaga, kasihan sekali. Tenang saja, biarkan aku yang merawatnya." Juli sadar diri jika ia hidup juga karena bantuan Nando, saat dia putus asa, hanya Nando yang ada di sampingnya.


Dia akan memberikan hal yang terbaik, terutama merawat Nando dan anunya.


"Nona baik sekali, tidak sombong juga tidak matre." Santos memuji kesederhanaan Juli dan rasa pedulinya yang besar terhadap Tuannya.


"Seperti simbiosis mutualisme Santos, hubunganku dan dia hanya sebatas itu." Nando terlihat sedih saat mengatakan hal itu, seolah-olah dia ingin status yang jelas.


"Hm ... semoga Nona Juli dan Tuan Nando berjodoh," ucap Santos tiba-tiba.


"Biarkan saja waktu yang menjawabnya," jawab Juli pasrah.


Santos mengamati dari spion tengah mobil bahwa Juli termenung saat mengatakan hubungan keduanya hanyalah sebuah hubungan yang saling menguntungkan.


Dia terlihat sangat sedih, Juli seperti memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Nona? apa kau baik-baik saja?" tanya Santos khawatir.


"Tidak, aku hanya berpikir setelah semua balas dendam telah usai, bagaimana nasibku selanjutnya? aku sebatang kara, tidak memiliki siapapun. Apa Nando mau menampungku menjadi tukang cuci piring atau apapun, aku akan menerimanya agar memiliki tempat bernaung." Juli ternyata sedang mengkhawatirkan masa depannya.


"Jika Nona bicara dengan Tuan tentang hal itu, pasti Tuan Muda akan menjawab, jadilah tukang melahirkan anak-anakku," ucap Juli sembari meniru gaya bicara Nando.


"Haha, aneh-aneh saja. Mana mungkin dia denganku, aku wanita gila dan penuh ambisi untuk membalas dendam." Juli minder, padahal bagi Nando, menikahi Julia seperti mendapatkan dunia seisinya.


Keduanya berbincang sangat asyik, sampai tidak sadar jika sudah berada di depan rumah Nando yang bergaya ala Eropa itu.


"Rumahnya bagus sekali, dia memili banyak uang memang. Makanya, saat pertama kali kami bertemu, dia langsung pergi dan tidak menerima uang yang aku beri," ucap Juli saat pertama kali melihat rumah mewah Nando.


"Iya, dia sampai bingung, bagaimana cara menghabiskan uangnya yang terlalu banyak itu." Santos mengatakan hal yang sebenarnya, seolah-olah uang hanya kertas tak berguna baginya.


"Mari turun nona, pasti Tuan Muda sudah menunggu kita di dalam," pinta Santos.


"Oke," jawab Juli.


Keduanya keluar dari mobil mewah itu bersama-sama.


"Silahkan masuk," ucap Santos saat berada di depan pintu utama, dia membantu Juli membuka pintu.


Klek!


Pintu terbuka, Juli kagum dengan pemandangan di depannya.


"Wow! seperti di negeri dongeng, semuanya terlihat seolah kita berada di kerajaan negeri dongeng. Luas sekali rumah Nando."


"Iya Nona. Mari kita temui Tuan," pinta Santos. Dia mengarahkan ke kamar pribadi Nando.


Juli mengangguk, dia mengekor langkah Santos.


Sesampainya di depan kamar Nando ...


Santos membuka pintu kamar sang majikan, dia dan Juli langsung masuk.


"Santos, sepertinya dia sedang istirahat." Juli menatap dari kejauhan bahwa pria casanova sedang beristirahat.

__ADS_1


"Temani dia Nona, aku akan menyelesaikan tugasku," ucap Santos.


"Oke."


Santos keluar dari kamar pribadi Nando, sedangkan Juli, perlahan berjalan mendekati ranjang Nando.


"Nando?!" tanya Juli saat tubuhnya kini berada di tepi ranjang.


"Santos! jangan menggangguku dengan merekam suara Juli, kau tahukan jika dia kembali, aku hanya bisa menelan saliva saat menatap wajah cantik dan tubuh molek nan menggairahkan itu?" Nando berucap tanpa mengetahui siapa yang ada di sampingnya.


"Apa yang kau katakan?"


Nando berbalik, dia terkejut bukan kepalang saat penampakan Juli tepat di depan matanya.


"Nando? apa kabar?" tanya Juli dengan senyum manisnya.


"Kau! sejak kapan ada di sini?" Nando terperanjat sampai rasanya begitu perih di bawah sana.


"Sial! rasanya sakit sekali!" Dia merasa malu tetapi mau bagaimana lagi, sang casanova memang anunya sedang apes.


"Biar aku lihat," Juli duduk di samping Nando, dengan lembut, dia meluruskan kaki sang pria dan perlahan membuka celananya.


"Astaga!" ucap Juli saat benda berotot milik Nando tegap berdiri, seakan menggoda untuk di permainkan.


"Maaf baby, itu respon alamiah, harusnya aku sudah menghujam lembahmu dengan benda yang tegak itu." Nando malu setengah mati, kesaktiannya tiba-tiba luntur saat Juli melihat dengan seksama luka lecet yang ada di benda itu.


"Ganas juga gadismu, sampai lukanya seperti ini. Aku akan memandikanmu, kemudian mengganti perbannya." Juli yang tak memiliki perasaan aneh apapun, hanya melihat benda tegak milik Nando seperti sebuah benda saja, yang ada di pikirannya, dia hanya ingin Nando cepat sembuh.


"Tak ada keinginan untuk melakukan hal lain baby? hasratku sudah di ubun-ubun." Nando menahannya, tetapi keadaan tak mampu membuatnya berbuat apapun.


"Jika anumu sehat, kau boleh 5kali sehari membenamkan milikmu di lembahku, tetapi untuk beberapa waktu, simpan dulu kemesuuman itu. Aku akan merawat anu-mu sampai sembuh."


Merana ... oh ... merana ...


Target sudah di depan mata, tetapi hasrat membara tak mendapatkan lembah kesukaannya.


Nasib!

__ADS_1


__ADS_2