
"Aku lapar Santos," ucap Nando berjalan mendahului Santos.
Santos yang berada di belakang Tuannya dengan sigap mengikuti langkah sang casanova.
Setelah berada di meja makan, Nando meminta Santos untuk duduk bersamanya.
Tetapi pelayan setianya tidak mau, dia bilang, pantang baginya untuk duduk bersama majikannya.
"Haissh! kau sudah ikut keluargaku sejak aku belum lahir, kau adalah bagian dari keluarga kami juga. Ayo! daripada gajimu nanti turun 100 persen. Pilih mana?"
Mendengar perkataan Tuan Mudanya yang semena-mena itu, tanpa pikir panjang, Santos duduk di samping Nando.
"Ini sudah Tuan, aku masih ingin gaji yang banyak, mana boleh kau melakukan ini kepadaku?" ucap Santos dengan duduk sok manis, padahal dia panik.
"Haha, dengarkan ceritaku saja, aku tidak akan menghukummu, ataupun memotong gajimu. Aku akan membuat segalanya menjadi mudah." Nando bersiap memakan hidangan makan malam yang sudah Santos masak sebelumnya.
"Cerita saja Tuan, pasti aku akan mendengarnya." Santos pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan meskipun rasanya sangat tidak nyaman.
"Pertama, aku akan membahas Gadis."
"Ya, next ...." Wajah Santos muram sekali, seperti sedang diintrogasi saja.
"Haha, wajahmu tak terkondisikan Santos!"
"Lanjut Tuan, aku sedang tidak ingin bercanda."
"Ya, ehm ... Gadis memintaku menikahinya, bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Terserah Tuan saja, aku sudah pernah menasehatimu, tetapi Tuan Muda lalai, selalu menyepelekan semua kata-kataku." Santos tidak merasa terkejut atau senang, responnya sangat datar.
"Mengapa kau jahat sekali Santos?" tanya sang casanova yang pura-pura bersedih, padahal mulut dan tangannya sedari tadi berkerjasama untuk membuat perutnya kenyang.
"Tuan, menikahlah dengan wanita yang Tuan cintai, itu saja saranku. Tinggalkan lima gadismu itu, kasihan mereka." Santos menatap Tuan Mudanya dengan tatapan serius dan penuh makna.
Nando menghentikan sejenak makan malamnya, dan menjawab pernyataan Santos.
"Aku hanya mencintai gadis kecil bernama J, hanya dia. Untuk melepaskan lima gadis sekaligus, aku belum mampu." Nando mengatakan apa yang ada di hatinya, tidak ada satu hal pun yang mampu ia sembunyikan dari Santos.
"Sampai kapan kau akan seperti ini Tuan?" tanya Santos dengan nada bicara yang lumayan tinggi.
"Maaf Santos, aku tidak bisa memastikannya." Sang casanova yang handal, mana bisa berhenti. Dia akan terus mencari kenikmatan tanpa henti.
"Setidaknya lakukan itu untuk nona kecil J. Jika dia mengetahui Tuan memiliki banyak simpanan, gadis kecil itu akan kecewa."
"Aku ke kamar dulu," ujar Nando tanpa menyelesaikan curahan hatinya. Dia membiarkan pernyataan Santos mengambang.
Santos tidak ingin terlalu banyak memikirkan pria gila itu, apa yang ada di dalam pikirannya pasti hanya pangkal paha dan dua aset milik lima gadisnya yang tidak mampu Nando tinggalkan begitu saja.
Sang pelayan setia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Saat dia sedang membereskan sisa makanan di meja, ponsel miliknya berdering.
Dia menghentikan sejenak aktifitasnya.
Santos meraih ponsel yang ada di saku celananya.
__ADS_1
Saat dia menatap layar ponsel, pelayan itu melihat nomor Tuan Besar meneleponnya.
Dia segera menjawab panggilan itu.
"Santos? dimana Steve?" tanya sang Tuan Besar.
"Sedang sibuk Tuan," tandasnya.
Santos juga dibuat pusing dengan ulah si Tuan Muda. Dia berada di dua kubu yang mengharuskan dirinya berada di tengah-tengah.
"Astaga! memangnya pekerjaannya apa Santos! suruh dia pulang, ibunya sakit, aku bisa gila jika harus mencari anak kurang ajar itu, dia bersembunyi dimana?" ucap sang Tuan Besar.
Dari nada suaranya, sang pria sangatlah marah, Santos tidak bisa melakukan apapun.
"Dia masih ada di bumi Tuan, tenang saja," celetuk Santos, dia bahkan tidak memahami apa yang dia katakan.
"Syukurlah, jika dia berada di neraka, terlalu cepat untuknya kembali! katakan padanya untuk segera pulang! aku sudah malu karenanya! bagaimana bisa pergi dan meninggalkan perjodohan? gadis pilihanku lebih baik dari J, apa dia akan selamanya memikirkan wanita yang bersuami itu? sangat memalukan!"
Tut ... tut ... tut ....
Telinga Santos sampai berkedut dan panas kala mendengar ocehan sang Tuan Besar.
Ini biasa baginya, akan lebih baik jika Tuan Heleas mengatakannya lewat sambungan telepon. Jika secara langsung, semua perabot rumah akan hancur karena kemarahannya yang diakibatkan oleh Nando yang membangkang.
"Apa Tuan Heleas lupa ya, jika dia juga sama dengan Tuan Muda? sama-sama pemuja kenikmatan," ucap Santos sambil menggelengkan kepalanya.
Tuan Heleas yang ulung dalam bercinta memang menurunkan kelebihan di atas ranjang kepada sang putra.
__ADS_1
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, itu adalah perumpamaan paling cocok untuk menggambarkan keadaaan Nando dan Tuan Heleas.
******