Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Pesona Javier Fernando


__ADS_3

Nando membuka pintu kamar hotel dengan kunci kartu, kemudian masuk ke dalamnya beserta Cantik yang masih berada di gendongannya.


"Baby, ini kamar kita." Nando memamerkan kamar yang akan mereka gunakan menginap dua hari ini.


"Wah! ini bagus baby, aku betah tinggal di sini. Apalagi denganmu," bisik Cantik manja.


Sang gadis terlena dengan ucapan Nando yang selalu pandai merayu. Apalagi sentuhan lembutnya, sangat menenangkan.


Tetapi kesempatan emas ini, terganggu dengan dering ponsel milik Nando.


"Baby, siapa sih yang mengganggu kita?" Terlihat raut wajah Cantika yang kesal.


Nando menurunkan tubuh Cantik. Setelah itu, dia meraih ponsel yang ada di saku celananya.


Di layar ponselnya, terlihat nomor Santos.


"Santos? mau apa dia?" ucap Nando heran. Tidak biasanya sang pelayan setia menelepon di jam genting.


Mendengar kata Santos, Cantik langsung merebut ponsel Nando dan menjawab panggilan itu.


"Santos! kau tahu kan? ini adalah waktu intim kami berdua! mengapa mengganggu?" Wajah Cantika sampai merah padam akibat ulah Santos.


Tapi, alangkah terkejutnya Cantik, saat suara yang ia dengar bukan suara Santos, melainkan suara lembut seorang wanita.


"Halo, maaf apa ini nomor telepon Nando?"


Deg!


Suara yang sangat ingin sang casanova dengar.


Ia merebut ponsel dari tangan Cantik, kemudian menjawab panggilan telepon itu.


"Iya, ini aku. Aku tahu ini kau, tapi lebih baik jangan ganggu kami. Setelah urusanku selesai, aku akan menelepon kembali." Nando begitu sumringah. Dia sudah menduga bahwa itu suara Juli.


"Oke. Maaf mengganggu, aku hanya ingin meminta tolong sesuatu kepadamu. Santos bilang, kau memiliki koneksi dunia bisnis." Suara Juli sangatlah menyenangkan membuat hatinya tentram.

__ADS_1


"Berikan ponsel ini kepada Santos, aku ingin berbicara dengannya," pinta Nando juga dengan suara lemah lembut.


Beberapa detik kemudian, suara lembut itu berubah menjadi suara khas Santos yang terdengar berat dan selalu penuh beban.


"Tuan Muda, maaf kan aku. Nona J ..." Hampir saja Santos mengungkap jati diri wanita malang yang kini sedang menjadi incaran Nando.


"Ehm ...." Nando berdehem agar Cantik tidak terlalu menggubris apa yang dikatakan oleh Santos di sambungan telepon.


Perbincangan kembali berlanjut ...


"Santos, aku sedang banyak urusan. Jaga adikmu baik-baik, aku akan meneleponmu nanti." Dengan otak mesumnya itu, ternyata Nando mampu berpikir jernih dan cepat.


Dia dengan mudahnya mengatakan jika Juli adalah adik kandung Santos yang lama tinggal di desa, wanita kurang pergaulan dan udik.


"Baik Tuan," ucap Santos pasrah, dia mengikuti apapun yang telah direncanakan oleh sang Tuan Muda.


"Bagus, bawa dia tinggal bersamamu saat sudah sembuh." Nando memberikan tempat tinggal untuk Juli di rumah Santos, dia akan tinggal di villa miliknya atas nama Santos.


Dia sudah terlalu royal dengan pelayanannya.


.....


Nando masih asyik menelepon Santos, matanya bahkan tidak sedikit pun ke arah Cantika.


Perbincangan yang membuat Cantika geram.


BRUAK!


Cantika masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya.


"Tuan? apa dia marah? apa yang dia banting?" tanya Santos di sambungan telepon.


"Haha, iya. Sepertinya dia kesal karena aku cuek. Biarkan saja, nanti aku akan membujuknya. Hm ... aku penasaran dengan Juli, apa dia masih di sampingmu?" tanya Nando, dia berharap Juli masih mau berbicara dengannya, dia merasa sang wanita malang benar-benar membutuhkan bantuannya.


"Masih Tuan, tetapi dia sedang makan," jawab Santos memberikan informasi.

__ADS_1


"Oh, oke. Tapi apa kau tahu apa yang akan dia katakan padaku? bantuan macam apa yang dia inginkan?" Nando mulai kepo. Rasa keingintahuannya, sudah sangat membuncah di dada.


"Aku kurang mengetahuinya Tuan Muda. Tapi dia sangat memaksa, aku melihat dia ingin sekali berbicara dengan Tuan. Aku sudah mengatakan jika Tuan sedang berkencan dengan Nona Cantika, tetapi dia sangat gigih. Maafkan aku Tuan, tidak bisa tegas dengan wanita itu dan menggangu kesenangan Tuan." Santos merasa bersalah karena tidak mampu mengendalikan Juli dengan baik.


Namun, apa yang dilakukan olehnya, justru mendapatkan pujian setinggi langit dari Nando.


"Haha, tidak masalah Santos. Awalnya, aku ingin menyembunyikan Juli dari Cantik. Tetapi aku ragu, apapun yang aku simpan rapat, pasti gadis itu selalu mengetahuinya. Kali ini, aku ingin meminta tolong kepadamu. Kau pura-pura menjadi kakak Juli, itu akan membuatku semakin dekat dengannya." Ide gila Nando tiba-tiba muncul.


"Tuan? apa kau yakin? apa kau tidak takut, dia bisa saja seorang residivis? atau *******? dia baru saja melakukan bunuh diri, mungkin saja wanita itu gila," bisik Santos.


"Haha, aku akan terus tertawa dan tidak memberimu hukuman jika kau membicarakan tentang Juli. Tapi, aku lebih tahu, dia itu siapa." Belum selesai Nando berbincang dengan Santos, Cantika sudah keluar dari kamar mandi.


Wajahnya suram, sangat menakutkan.


"Baby? kau sudah selesai?" tanya Nando. Masih dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Cantik hanya diam, dia duduk di tepi ranjang sembari menatap Nando.


"Santos, kau jaga wanita itu. Aku akan menyelesaikan urusan dengan Cantika," bisik Nando.


"Oke."


Panggilan ponsel berakhir.


Nando mendekati Cantik, sembari membuang ponsel di atas ranjang.


Kedua tangannya bertumpu di atas ranjang, dia menguasai tubuh Cantik.


"Kau marah?" tanya Nando lembut.


"Sebenarnya iya, tetapi harusnya aku tahu diri. kau adalah pria dengan ...." Belum sempat Cantik melanjutkan ucapannya, mulut Nando telah membungkam mulutnya.


Kecupan yang terkesan brutal, namun Cantik justru terpacu untuk mengimbangi permainan Nando.


*******

__ADS_1


__ADS_2