
"Apa? kau merindukanku?" Sang ibu hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh putra kurang ajarnya.
"Iya, aku rindu kepadamu, kenapa kau sepertinya tidak yakin?" Nando tetap sok cool, padahal dia gugup sebenarnya.
"Kau itu anak sialan, tetapi ibu tetap sayang kepadamu. Makanya bertobatlah, biar menjadi anak kesayangan ibu," jawab sang ibu dengan sepenuh hati.
"Iya, setelah ini aku juga akan bertobat, masih on the way tobatnya. Ibu jangan terlalu mengkhawatirkan itu. Manda telah merubah hidupku, dia memberikan nafas kehidupan kepadaku, dia segalanya untukku." Nando memberikan pendapatnya, dia memang merasa jatuh cinta dengan sentuhan Juli.
Mungkin, untuk pertama kali, dia hanya menyukai tubuh seksi Juli. Saat rasa itu tumbuh, Nando merasa perasaannya kepada Juli, bukan hanya sebatas gairah di atas ranjang.
Nando ingin memiliki jiwa dan raga Juli.
Apalagi saat dia mengetahui jika Juli adalah Nona J kecil yang sangat ia tunggu kedatangannya.
Beribu-ribu kali lipat bahagianya sang casanova.
PR-nya kini hanya satu, memutuskan para gadis simpanannya dengan cara yang baik-baik.
Dia akan mencari cara yang paling efektif untuk mendekatkan diri dengan pertobatan yang sesungguhnya.
"Oh," ucap sang ibu.
"Hanya oh?" Nando tidak terima jika jawaban ibunya sesingkat itu.
"Memangnya ibu harus menjawab apa? wow? amazing? terbaik? tidak akan sebelum kau membuktikan ucapanmu. Ibu sudah hidup dengan pria casanova lebih dari 20tahun lamanya, ibu sampai kenyang dibohongi terus oleh ayahmu, dia bilangnya ke kantor, tapi Santos memantau ayahmu. Dia bilang, Heleas masuk ke dalam bar bersama seorang gadis yang seumuran anaknya, padahal dulu, anak Santos masih 19 tahun. Astaga! ibu sudah menghabiskan waktu sia-sia bersama ayahmu, tapi ini adalah bukti bahwa ibu berbakti kepada kedua orang tua serta mertua ibu yang memintaku tetap bersama ayahmu apapun yang terjadi. Rasanya sudah tidak kuat, tapi ibu memikirkanmu, jika kami bercerai, kau akan semakin berandal. Ibu tetap bersama ayah saja kau tetap bermain-main dengan wanita, iya kan? ini kenapa ibu selalu cerewet, berisik karena aku sayang kepadamu. Ibu ingin keturunan Heleas menjadi orang yang berguna, tidak seperti ayahmu, menunggu tua baru tobat. Sepertinya ayahmu takut kena azab, tetapi entahlah, ibu hanya senang, di hari tua, dia mau menemani ibu, memanjakan ibu. Mungkin ini yang dinamakan pelangi setelah hujan." Sang ibu berceramah panjang lebar.
Nando hanya diam, dia memikirkan perasaan ibunya yang seorang wanita.
__ADS_1
Posisinya juga seperti lima gadis yang ia permainkan selama ini.
"Maaf ibu, aku belum bisa berbakti." Nando mengatakannya dengan sepenuh hati.
"Oh, ya. Oke." Sang ibu hanya bicara seadanya, membuatnya emosi.
"Oh lagi, lagi-lagi oh, astaga! apa aku ini tidak pantas untuk bertobat? pendosa sepertiku akan menjadi kotor selamanya?" ucap Nando dengan nada suara melas dan ngenes.
"Ha ... ha ... ha," jawab sang ibu. Nyonya Jeslin justru menertawakan kata-kata anaknya yang menyebalkan itu.
"Kan ... kan, aku bukan pelawak, kenapa ibu tertawa?" Nando heran dengan sikap sang ibu.
"Kau selamanya tetap akan menjadi bayi, bagi ibu, kau adalah anak kecil ibu, hingga kau tua pun tetap sama. Jadi, biarpun kau banyak dosa, aku tidak menganggapnya, karena kau suci."
Deg!
Deg!
Deg!
Selama ini, dia merasa sang ibu sangat cerewet, tidak boleh ini, tidak boleh itu, semuanya ibu Jeslin larang.
Tetapi Nando sering lalai, ibu Jeslin sudah mengetahui bagaimana sakitnya hidup dengan seorang pemain wanita, dia selalu cerewet agar Nando tidak menyakiti para gadis yang dekat dengannya.
"Ibu, kau memang seperti malaikat, terimakasih telah menjadi ibuku." Nando sangat terharu dengan pengorbanan ibunya, biarpun hidup bergelimang harta, sejatinya sang ibu sangat kesepian.
Tidak ada tempat untuk curhat, kecuali Santos. Saat Santos ia bawa pergi, ibunya sempat emosi sampai tidak akan memberi harta warisan.
__ADS_1
Tapi Santos menengahi keduanya, dia akan melaporkan apapun yang sekiranya penting tentang Nando.
Santos juga memiliki perjanjian dengan Nando, dia tidak boleh membocorkan lokasi tempat tinggalnya, serta kehidupan pribadinya.
Saat hal ini, ia sampaikan kepada Nyonya Besar, Nyonya Besar kembali marah.
Namun, Santos membujuknya agar percaya kepadanya bahwa dia mampu menjaga Nando dengan baik.
Sejak saat itu, Nando sudah menganggap Santos adalah orang tuanya sendiri, karena pelayan setianya itu sangat baik. Meskipun dia selalu menyiksa Santos dengan membiarkan pelayan setianya mendengar suara erangaan serta lenguuuhan, bahkan sampai sisa lahar sang majikan yang Nando muntahkan di beberapa lembar tissue pun, dia yang membersihkannya. Tissue ajaib itu selalu berada di jok belakang, dia sudah paham akan hal ini.
Bisa di bilang, Santos sudah lulus ujian menjadi sopir pribadi Tuan Muda mesumnya yang sudah berada di level meresahkan.
"Ha ... ha ... ha, tidak perlu diambil hati, aku kan ibumu, meskipun kau anak sialan, tidak pernah memikirkan ibu, selalu membangkang, tetapi ibu sangat menyayangimu, lebih dari hidup ibu sendiri." Lagi-lagi sang ibu membuat Nando semakin menyayanginya.
"Cih, siapa juga yang ambil hati, tadi lidahku kepleset, jadi mengatakannya." Nando berusaha menutupi perasaannya yang sesungguhnya.
Dia tidak ingin terlihat lemah di depan sang ibu, selama ini, dia tidak memperlihatkan sisi ketidakberdayaannya.
Dia hanya akan angkuh dan sombong di depan ibunya.
Saat perbincangan sudah mulai hangat, dia terkejut saat ada panggilan masuk.
"Bentar ibu, ada panggilan telepon dari temanku," ucap Nando.
Dia menyentuh tombol mute di layar ponselnya, dan mengecheck siapa yang menghubunginya.
Manda my love?
__ADS_1
….