Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Rindu Ibu


__ADS_3

Nando duduk di tepi ranjang, dia bahagia karena mendapatkan ponsel baru dari Santos, sang pelayan setia.


Nando saking bahagianya bahkan langsung menjajal ponsel barunya.


Dia menghidupkan ponsel, setelah itu, dia memeriksa, apakah gawai itu sudah terdapat banyak aplikasi untuk menunjang bisnisnya.


"Bagus, Santos sudah melakukannya dengan baik," ucap Nando tersenyum puas.


Saat dia ingin membuka list kontak, dia baru menyadari jika wallpaper ponsel itu adalah fotonya, Tuan Heleas serta sang ibu, Jeslin Heleas.


Rasa aneh menggelayutinya, dia rindu sang ibu.


"Menghubungi wanita cerewet itu, apa salahnya?" tukas Nando yang tiba-tiba ingin mendengar suara sang ibu.


Dia mencari nomor sang ibu dengan nama Jeslin(ibu berisik).


"Haha ... bahkan nama kontak juga tetap sama. Santos ... Santos, kau memang pelayan terbaik." Nando memuji kejelian Santos atas apapun yang ada di dalam ponselnya, semuanya hampir sama persis dengan ponsel miliknya yang ia banting di kamar mandi hotel saat berada di Paris.


Nando kembali terpaku dengan layar ponselnya, ia tersenyum saat melakukan panggilan telepon kepada sang ibu.


"Halo? siapa ini?" tanya si penerima telepon.


"Aku, anakku," jawab Nando.


"Nando?" si penerima telepon kembali bertanya.

__ADS_1


"Iya, siapa lagi? memangnya ibu memiliki anak lain selain aku?" Nando bahkan langsung memantik amarah sang ibu.


"Ha ... ha ... ha, ada! si doggy, dia anak ke keduaku ... Ha ... ha ... ha ...." Sang ibu tersenyum puas.


"Tega ibu ya? memangnya aku sama dengan doggy?" gerutu Nando.


"Tidak, doggy lebih baik karena dia penurut, tidak sepertimu, banyak tingkah," jelas sang ibu.


"Cih, ibu hanya kesepian. Mana ada? doggy hanya bisa menggonggong, aku bisa berbicara. Aku anak ibu yang lebih unggul, memberi ibu cucu juga bisa, dia mana bisa? dengan anjing betina saja takut." Nando bahkan membandingkan dirinya dengan doggy kesayangan sang ibu yang ia beli dari seseorang yang menjualnya karena butuh uang.


Pada waktu itu, doggy masih berusia 2 bulan, kini usianya lebih dari itu, doggy dewasa kini telah siap berkembang biak, namun entah kenapa hewan itu tidak terlalu berhasrat dengan doggy betina.


"Doggy tidak bernapsu mencari pasangan, sedangkan aku? obsesi terhadap lembah dan dua pegunungan sangatlah membara!" Nando mengakui jika dia lebih brutal daripada doggy milik si ibu, Jeslin Heleas.


"Cih, otakmu memang isinya hanya itu saja! tapi aku berharap kau berubah, ayahmu saja sudah mulai menunjukkan perubahannya, entah hanya berpura-pura atau modus karena ingin mencari wanita lain lagi. Aku rasa, dia lebih manis akhir-akhir ini," ucap sang ibu penuh semangat.


"Haha ... dia itu lebih baik darimu, kau anak kurang ajar yang tak bisa diatur! sedangkan ayahmu? dia masih ingat ibu, meskipun 2 minggu sekali pulang karena harus bolak-balik kota A ke kota B, dia kelelahan dan mencari bahu untuk bersandar. Ehm ... kapan kau pulang?" tanya sang ibu dengan nada suara yang serius.


"Dia ingat ada maunya, tua bangka seperti ayah termasuk pria hidung belang," sindir Nando kepada ayahnya yang selalu kepergok bermain wanita saat dia berada di bar luar kota, saat dia sedang berdinas.


"Cih, aku tidak suka kau mengatakan ayahmu hidung belang. Dia tidak belang, hidungnya putih bersih, sampai upil pun tak mau singgah," jawab ibu melawak.


"Wkwk ... iya, hidung ayah memang tidak belang. Tapi kelakuannya yang belang-belang. Sama sepertiku, aku sudah mengaku ini. Ibu jangan berisik lagi!" Nando langsung mengatakannya agar sang ibu tidak membullynya.


"Haha ... tidak, kau tidak seperti ayahmu. Kau lebih dari dia, tetapi aku tetap menyayangi kalian berdua." Sang ibu terdengar melow.

__ADS_1


"Ibu menangis?" tanya Nando yang mendengar suara isak tangis.


"Bodoh! mana ada ibu menangis! ibu akan menangis jika kau pulang, membawa calon menantu," jawab sang ibu yang selalu to the point.


"Dua hari lagi, aku akan datang." Nando memberikan asa kepada ibunya.


"Seperti apa gadis itu? bisa kau terangkan?" Sang ibu kepo, Nando memberikan sedikit informasi. Dia akan menyembunyikan identitas Juli sementara waktu.


"Dia baik, lembut, mandiri, kuat dan serba bisa," jelas sang cassanova, dia menilai Juli adalah wanita yang seperti itu, makanya dia langsung mengatakannya dengan bangganya.


"Wah, apa ada ya? wanita seperti itu yang mau denganmu? Hm ... ibu tidak percaya, btw ... namanya siapa?" tanya sang ibu yang sangat kepo.


"Haha ... aku bisa mendapatkan gadis manapun, tapi Amanda? dia adalah yang nomor satu," jawab Nando dengan sombongnya.


"Oh, Manda? cantik namanya. Cih, berlagak! kau apakan dia sampai mau denganmu? gadis-gadismu? apa mereka rela kau menikah? seperti aku, Manda pasti akan mendapatkan teror dari simpananmu, Manda juga begitu kelak. Jadi, kau bicara baik-baik dengan gadis itu, jangan sampai, nasib ngenes ibu, dia juga mengalaminya," jelas sang ibu yang tidak ingin melihat gadis lain bernasib tragis sepertinya yang mendapatkan banyak teror dari 50 gadis yang pernah sang suami kencani.


Bahkan saat malam pertama, sang suami enggan menyentuhnya oleh sebab lebih memilih phone s*ex dengan para gadisnya. Dia tidak sakit hati, karena sudah siap resikonya, dia menuruti perjodohan kedua orang tuanya, dia patuh dan berhasil melewati segalanya dengan baik, jarang mengeluh serta tetap semangat dalam menjalani hidup.


Setelah lama berbincang-bincang, Nando menghela nafas panjang untuk mengatakan sesuatu yang sangat sulit ia ucapkan selama ini.


"Ibu?" tanya Nando.


"Iya, ibu masih di sini," jawab sang ibu.


"Aku rindu kepadamu."

__ADS_1


.....


__ADS_2