
Dua puluh menit sudah Julia berada di dalam kamar mandi, Nando masih dengan posisinya yang sama, rebahan di atas ranjang.
Tap ... tap ... tap ....
Terdengar bunyi langkah kaki Julia keluar dari kamar mandi, ini menandakan bahwa sang wanita telah usai melakukan sesi pembersihan diri.
Sang wanita yang mengenakan handuk warna putih, terlilit sempurna di bagian dada miliknya yang penuh akan si bulat yang menggoda. Milik Julia, memang menggoda, itu yang membuat sang casanova tergila-gila hingga mengatakan jika Jack pria yang bodoh, begitu saja menyia-nyiakan wanita yang sangat mencintainya demi barang rombengan sekelas Xia.
"Tunggu!" ucap Nando yang langsung membuka matanya, dia beranjak dari ranjang dan mendekati Julia.
"Ada apa?" tanya Julia datar.
"Kau mandi lama sekali, apa yang kau lakukan di dalam sana? pasti mempermainkan milikmu sendiri sambil membayangkan wajahku? kau mengaku saja!" jelas sang casanova yang selalu bicara ngasal.
"Astaga! kau menahan langkahku hanya karena hal tidak berguna? omong kosong apa ini Steve?" ucap Julia sambil berbalik dan berdecak pinggang, namun tak diduga, handuk yang melilit di dadanya itu tiba-tiba terlepas.
Nando langsung menatap aset berharga itu dengan air liur yang hampir menetes.
"Aku mau itu," ujar Nando sambil menunjuk dua bongkahan indah sempurna, halus dan lembut. Dia memimpikan keindahan ini hingga Tuhan benar-benar mengabulkan doanya.
Meskipun Nando hanya melihat bongkahan itu beberapa detik saja, tapi nyatanya masih terekam jelas dalam ingatannya.
"Baby, dua itu milikku, tidak ada yang boleh memilikinya," pungkas Nando.
Julia yang malu, berlari menjauhi Nando dan masuk ke dalam ruang ganti.
Sedangkan sang casanova merasa senang, dia terhibur dengan tontonan gratis yang baru saja terlewat.
"Astaga, dibawah sana terasa tegang, apalah daya, perih juga ku rasa. Nasib casanova kena karma, dah lah. Aku lebih baik mandi saja, nanti kalau tidak selesai juga, ibuku yang cerewet itu pasti akan datang dan ceramah, Hadeh! jangan sampai aku mendengar ibu mengatakan segalanya, satu semester juga tidak akan kelar!"
Nando memilih untuk berbalik dan menuju kamar mandi sambil terus mengingat bongkahan candu milik Julia yang putih bersih dan menantang itu.
.
__ADS_1
.
.
Di dalam kamar mandi ...
Nando segera melepaskan helai kain yang ada di tubuhnya, setelah itu, dia melakukan tindakan kepada lukanya yang telah mengering.
Dia berhati-hati karena area sensitif itu jika tersentuh, nyerinya tidak tertahan lagi.
"Ada untungnya juga Fea menggigit senjata andalan, ini memudahkan ku untuk lepas dari para gadis simpananku dengan cepat."
Nando memikirkan hal ini terlalu jauh, tapi memang benar adanya, ke empat mantan gadis simpanannya, begitu mudahnya lepas, meskipun harus merasakan dongkol akibat kata-kata umpatan yang dilontarkan ke empat gadis kepadanya.
Apapun itu, Nando merasa senang.
Sebagai pria yang memiliki predikat casanova, memang sulit untuk dipercaya jika memiliki cinta yang tulus dan suci.
Termasuk Julia yang masih ragu dengan apa yang di katakan oleh Nando, dia ingin bukti valid, bukan hanya ungkapan bibir serta janji-janji palsu yang menyebalkan.
Nando telah usai melakukan sesi pembersihan diri, dia segera melilitkan handuk di pinggangnya.
Dia juga telah usai mengeringkan anu-nya menggunakan handuk yang lain agar senantiasa kering dan tidak menimbulkan iritasi.
KLEK!
Pintu terbuka, dia terkejut kala menatap Julia yang sedang berdiri di depan cermin, dia terlihat anggun, elegan dan cantik.
Namun, dia tidak suka karena baju dan rok Julia terlalu pendek.
Dia protes.
"Baby! apa yang kau pakai ini? baju dan rok kurang bahan!" gerutu Nando.
__ADS_1
Dia tidak menyukai jika keindahan milik Julia dilirik pria lain.
"Ganti bajumu!" pekik Nando emosi.
"Ini isi dari kotak itu, baju yang kurang bahan, aku juga kurang nyaman, tapi demi balas dendam, aku akan melakukannya!"
Julia belum percaya diri saat mengenakan pakaian seksi dengan belahan dada yang tidak terlalu rendah namun mampu membuat kaum adam meleleh hingga meneteskan air liurnya.
"Baby, no! jangan lakukan ini, dadamu, paha, senyuman manis, pandangan menggoda, itu semua milikku, aku tidak bisa jika melihatmu memamerkan semua itu kepada orang lain, sekalipun itu ibuku."
Nando sangat bucin dan posesif, tapi apalah daya, sang pria juga tak mampu melawan rencana ibunya.
"Baby, ini dadamu, terlalu kelihatan belahannya," ucap Nando masih terus memandangi bagian dadanya yang berisi.
"Nanti milikmu meronta di bawah sana, tolong kau kondisikan milikmu," ucap Julia dengan menahan tawa.
"Astaga, mengapa ikut-ikutan nongol juga? jadi malu kan," tandas sang casanova yang buru-buru mengambil kotak berisi baju yang disiapkan ibunya kemudian masuk ke dalam ruang ganti.
Tak berapa lama kemudian, muncul Nyonya Jeslin dari balik pintu tanpa suara ketukan pintu terlebih dahulu seperti biasanya.
Nyonya Jeslin terpana dengan pesona Julia mengenakan baju pilihannya.
"Ini hal yang luar biasa, mantan suamimu, mana bisa melewatkan wanita macam dirimu? perfect Julia, aku yakin dia akan klepek-klepek," puji Nyonya Jeslin.
Dia mendekat ke arah Julia yang belum terbiasa dengan pakaian kurang bahan itu.
"Kau cantik Julia, kenakan kaca mata ini juga, kau akan terlihat semakin seksi dan elegan."
Nyonya Jeslin membantu Julia mengenakan kacamata yang cocok untuk seorang wanita berpenampilan luar biasa macam Julia.
"Terimakasih Nyonya, ini semua sangat berbeda, aku menjadi wanita yang lebih berharga dan cantik," ucap Julia.
"Sama-sama Julia, kau adalah calon menantu keluarga Heleas, kau pantas mendapatkan semua ini, kau tenang saja! aku pastikan para pria melirik ke arahmu dan membuat putraku cemburu stadium akhir," bisik Nyonya Jeslin.
__ADS_1
*****