
Nando semakin intens menjelajah tubuh mulus itu. Kulit Cantika yang putih bersih, membuat tanda merah yang yang ia buat terlihat jelas.
Sedari keluar dari kamar mandi, dia hanya memakai lingerie warna merah merona. Cantik memang sengaja mengenakan itu agar Nando semakin beringas saat menyerangnya.
Benar saja, lingerie merah itu sudah mampu membuat gairah Nando membara.
Sekali serang, tubuh mulus itu menggeliat tidak karuan, menikmati sensasi bibir dan lidah yang beradu di dalam satu harmoni.
Nando belum ingin menuju titik intinya, dia hanya ingin bermain-main, membuat lawan ranjangnya mendesaah, merupakan suatu hal yang membuatnya bangga.
Tubuh mulus itu tetap terbungkus kain tembus pandang saat Nando menjamahnya. Ia masih betah berlama-lama di punggung mulus itu, menyingkap sedikit demi sedikit kain seksi itu dan mendapati kulit putih nan bersih yang berhasil ia sapu manja menggunakan lidahnya.
Perlahan namun pasti, sentuhan lidah itu berhenti di tengkuk sang gadis.
Seketika tubuh Cantik merasakan sensasi nyaman yang tiada tara.
"Baby? kau sengaja memakai lingerie merah hanya untukku?" bisik Nando, saat ia menghentikan laju bibirnya di telinga si gadis.
"Hm, tapi kau masih memikirkan gadis lain, apa itu adil baby?" jawab Cantik dengan mata terpejam. Dia merasakan tiap jengkal sentuhan sang pemain, mencoba mencari cinta di sana.
Tetapi tak ia dapatkan selain napsu semata. Cantik seharusnya tidak terlalu memikirkan perasaan aneh ini.
Dia hanya perlu menerima perlakuan manis Nando yang selama ini ia dapatkan.
Milik Nando sudah menegang sedari tadi, tapi masih mampu menahan diri.
Permainan lidahnya belum usai, dia ingin Cantik terbang ke nirwana berkali-kali.
"Sayang? siapa gadis itu?" tanya Cantika di sela kecupan dahsyat Nando di buah kenyalnya yang membuat ketagihan itu.
"Dia adiknya Santos, tinggal di kampung, dia ingin bekerja di rumahku menjadi pelayan." Sang casanova sungguh lihai berdusta.
Sampai Juli pun ia anggap pelayan.
"Moodku menjadi buruk jika kau banyak bicara. Kau ingin melanjutkan atau stop?" Nando menunjukkan sikap dinginnya.
Cantik yang juga sedang tidak berselera, membiarkan Nando diam dengan miliknya yang masih menegang.
__ADS_1
"Oke, aku mandi dulu."
Nando bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Dia membawa ponsel di dalam genggaman tangannya.
....
Di dalam kamar mandi...
Nando begitu frustasinya karena gadis simpanannya kesal kepadanya. Dia segera melepas semua helai kain yang menempel di tubuhnya dan berendam di bathup.
Itu menjadi salah satu cara untuknya menghalau rasa gundah akibat hasrat yang tak tersalurkan.
Sembari berendam, Nando menelepon mood boosternya.
Siapa lagi kalau bukan Juli.
Sang casanova menghubungi nomor ponsel Santos, berharap sang pelayan masih berada di rumah sakit.
Cukup lama Santos menjawab panggilan telepon itu, hingga beberapa menit kemudian, suara sang pelayan, terdengar nyaring di telinganya.
"Kau sedang apa? kau sepertinya bahagia sekali?" Nando merasa sang pelayan setia sedang mendapatkan keberuntungan, suara Santos yang semula berat dan penuh tekanan, kini terdengar lebih tenang dan damai.
"Nona Juli, dia adalah wanita yang baik dan menyenangkan, aku merasa senang jika kau memintaku menjadi kakaknya," jelas Santos, memberikan alasannya dibalik suara tenangnya.
"Oh, kau mau mencuri start Santos?" tanya Nando dengan nada suara yang lebih berat, penuh penekanan, lebih kepada emosi.
Nando kesal, Santos sudah lebih dulu dekat dengan Juli.
"Maaf Tuan, oh ya. Silahkan jika Tuan ingin berbicara dengannya, maaf sekali, maaf," jawab Santos begitu ketakutan, dia merasa sang Tuan Muda akan emosi jiwa jika tak mendapatkan satu keinginannya.
Beberapa detik kemudian, suara Santos berganti dengan suara lembut Juli.
Suara yang mampu menggetarkan hati sang casanova.
"Nando? hay? apa kabar?".
__ADS_1
Deg!
Deg!
Deg!
Rasa bahagia begitu membuncah di dalam dada kala suara sensasional itu kembali ia dengar.
Jantung sang casanova seperti berhenti berdetak, dia benar-benar dibuat mabuk kepayang hanya dengan mendengar suara Juli.
"Aku baik baby, kau apa kabar?" Nando mencoba bersikap biasa saja agar tidak ketahuan jika dia sedang grogi.
"Lumayan baik, oh ya, maafkan aku yang mengganggu waktu kencanmu. Aku hanya ingin meminta meminta bantuanmu." Juli terdengar begitu memohon, ini waktunya yang tepat untuk menjerat gadis yang sudah mengobrak-abrik hatinya itu.
"Hm ... pertolongan apa yang kau inginkan? apa kau tidak takut, jika aku meminta tubuhmu untuk membayarnya?" Satu point lolos, dia sudah mampu memegang kendali atas wanita malang itu.
"Aku sudah menyiapkan diri saat kau mengatakan hal tersebut. Syarat darimu, aku akan penuhi. Tapi, bantu aku membalaskan dendamku terhadap adik dan mantan suamiku! aku tidak rela, harta warisan kedua orang tuaku, jatuh di tangan manusia biadab macam mereka," jawab Juli. Suara indah nan lembut, berubah seketika.
Juli sudah di selimuti dendam membara, dia ingin mengambil haknya kembali.
"Haha, aku suka gayamu cantik, Ehm ... oke, bisa kita bicarakan nanti kalau aku sudah pulang dari Paris. Satu yang harus kau ingat, saat kau berada dalam genggamanku, tak ada seorangpun yang boleh memilikimu!" Nando si casanova menang telak, dia mampu menguasai permainan.
"No problem, meskipun aku ragu, kau mau mengikuti syaratku!" jawab Juli.
"Ha? kau juga punya syarat?" ucap Nando heran, dia merasa semakin penasaran dengan wanita malang yang sepertinya lebih menguasai permainan daripada sang casanova.
"Iya, nikahi aku! aku akan menyerahkan segenap jiwa dan ragaku hanya untukmu!"
Deg!
Nando seperti naik rollercoaster, saat dia harus terbanting ke posisi terendah laju permainannya sendiri. Dia berada di bawah, saat sebelumnya meyakini hanya dia yang akan menguasai keadaan.
"Haha, pernikahan? apa tidak ada hal lain?" ucap Nando geli, dia tidak habis pikir dengan syarat wanita itu, justru kini si wanita yang mengendalikannya.
"Mantan suamiku pria yang sangat berpengaruh di dunia bisnis, jika terjadi rumor buruk tentangnya, aku pasti mati. Dengan koneksi bisnis yang kau miliki, kau mampu mencari informasi tentang kelemahannya, kau tidak perlu khawatir, pernikahan ini hanya pura-pura dan aku akan mengubah jati diriku sebagai Amanda," jelas Juli.
"Cukup menarik, bolehlah, esok kita akan membahasnya." Nando merasa senang mendapatkan tantangan ini.
__ADS_1
Akhirnya, aku bisa menjamahmu kembali, baby!
….