
Beberapa menit kemudian, Nando telah sampai di depan rumah sakit yang dimaksud. Dia segera turun dari mobil mewahnya dan melakukan panggilan kepada sang pemilik bar.
"Dimana kau?" tanya Nando.
"Ada di dalam Tuan, masuk saja! anda harus segera melihat kondisi temanmu ini, dia belum juga sadar." Informasi menyayat hati dari pemilik bar membuat Nando segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit.
Dia bertanya kepada salah satu suster yang bekerja di bagian administrasi untuk menunjukkan kepadanya di mana wanita yang baru saja melakukan tindakan bunuh diri dirawat.
Sang suster mengatakan bahwa pasien tersebut ada di ruang inap VVIP rumah sakit itu, ruangan yang ada di lantai 10. Di sana hanya orang berduit yang bisa masuk menjadi pasien di sana.
"Kau suaminya?" tanya suster kepo.
"Bukan," jawab Nando singkat.
"Aku kira kau suaminya, aku sangat kasihan dengan kondisi wanita itu. Dia seperti wanita yang putus asa, dia seorang diri berada di bar itu. Dia berteriak-teriak seperti orang yang sedang stres, wanita itu sepertinya memendam terlalu banyak permasalahan di dalam hidupnya. Jika anda bukan suaminya, saya berharap anda bisa menghubungi suaminya agar wanita itu ada yang menjaganya, sudah beberapa jam ini dia belum siuman juga." Permintaan suster membuatnya berpikir ulang untuk menjadikannya partner ranjang, bagaimana bisa menghabiskan malam dengan wanita stres? dia tidak ingin melakukannya.
"Oke sus, terima kasih atas informasinya."
"Sama-sama, Tuan."
Nando berjalan menuju lift yang tersedia di lantai dasar rumah sakit itu, kemudian masuk ke dalamnya.
Kebetulan di dalam lift itu, dia berdampingan dengan seorang gadis muda yang cantik dan seksi. Dia mengenakan rok mini serta kemeja putih yang ketat hingga dua buah kenyalnya nampak nyata di depannya.
Nando mencoba berkenalan dengan gadis itu.
__ADS_1
"Hay cantik, siapa namamu?" Sembari mendekati tubuh seksi itu.
"Hay juga, aku Alexa. Hm, kau tampan sekali, siapa namamu?" Sang gadis meladeni Nando, dia juga semakin mendekat ke arah dada bidang sang pria.
"Aku Nando," jawab pria itu sembari mengulurkan tangannya.
"Kau ingin bermain menggunakan tangan? auhg, pasti dahsyat! baby aku mau bermain denganmu!" Si gadis sepertinya langsung kesetrum saat berjabat tangan dengan pria pemburu kenikmatan itu.
Tapi sayang, Nando sudah berkomitmen hanya akan bergumul dengan lima gadisnya saja, Juli adalah pengecualian.
"Maaf baby, aku ada urusan. Aku pergi dulu,"
Ting!
Saat si casanova pamit, pintu lift sudah terbuka.
"Tuan!" pekik si gadis yang sepertinya masih penasaran dengan Nando si pria buas.
....
"Sialan, milikku sudah menegang, tapi aku tidak ingin bermain-main dengan wanita asing," ucap Nando sembari berjalan mencari kamar VVIP rumah sakit tersebut.
Dia merengangkan kemejanya karena sedari tadi, dia sudah merasakan hawa saat bertemu gadis itu.
Tap ... tap ... tap
__ADS_1
Langkah mantapnya terdengar jelas hingga dia menatap pria yang berjalan ke arahnya.
"Anda teman wanita itu?" tanya pria itu tiba-tiba.
"Iya, apakah anda pemilik bar?" timpal Nando.
"Benar sekali Tuan, wanita itu hampir kekurangan darah, untung pemilik rumah sakit bergerak cepat. Akhirnya wanita malang itu bisa di selamatkan," tukas pemilik bar.
"Apakah dia sudah siuman?"
"Belum Tuan, oh iya, uangnya sudah terkirim, saya akan membayar biaya rumah sakit dengan uang anda. Tuan, saya mohon jika anda adalah teman yang baik, anda jaga wanita ini. Dia kesepian, tidak ada seorang pun yang datang kemari saat saya mengirimkan pesan kepada keluarganya," ucap pemilik bar.
"Ini ponsel wanita itu," imbuh si pemilik bar.
Dia menyerahkan ponsel peserta tas jinjing milik Juli kepada Nando. Setelah itu, dia berpamitan untuk segera pergi dari rumah sakit tuh setelah membayar biaya perawatan untuk Juli.
Sang pria mengangguk dan segera mengintip sang wanita di balik pintu kamar VVIP rumah sakit tersebut.
Nando merasa jika wanita yang bergumul dengannya itu memiliki masalah yang pelik sehingga membuatnya depresi.
"Wanita yang telah bersuami, aku meminta maaf kepadamu karena tidak menemuimu tepat waktu. Tapi tidak seharusnya kau melakukan hal ini, bunuh diri bukanlah solusi yang tepat untuk mengakhiri segala penderitaan. Kau harus banyak belajar dariku tentang kekecewaan dan pengkhianatan. Jika kau sudah siuman, aku akan mengajarimu menghadapi kehidupan yang keras ini, maaf! aku bukan pria yang konsisten dengan ucapanku sendiri, menemui wanita yang belum aku kenal bukankah gayaku. Namun, saat bertemu denganmu, hal itu tidak berguna lagi. Siapa sebenarnya kau? wanita malang yang seharusnya mendapatkan kasih sayang suamimu tetapi justru harus hancur oleh suami dan adikmu sendiri."
Batin Nando kembali berkutat dengan pemikiran tentang wanita yang tengah terbaring lemah di ranjang VVIP rumah sakit itu.
….
__ADS_1