Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Usai melakukan pembersihan seluruh tubuh Nando, dan mengeringkan tubuh gagahnya menggunakan handuk, dia menelisik ke segala arah, netranya tertuju kepada kotak obat yang berada di deretan sabun cair dan shampo super mahal milik Nando.


"Nando? kenapa kau menyimpan kotak obat di dalam kamar mandi? memangnya kau suka lecet? terlalu berlebihan saat mempermainkan para gadismu?" tanya Juli dengan polosnya.


"Haha, aku hanya meletakkannya di sana. Tidak ada alasan khusus," jawab Nando penuh misteri.


"Sudahlah! lupakan tentang semua itu, aku akan membalut senjata yang kau agung-agungkan selama ini." Juli berjalan menuju kotak obat berada, dia meraih benda itu dengan sangat mudah. Setelahnya langsung mengobati Nando dengan obat merah dan membalutnya dengan perban.


"Selesai, kau bisa mengganti bajumu, aku akan menyiapkannya." Dengan tubuh yang lumayan basah, Juli pergi dari kamar mandinya dan berjalan keluar untuk mencarikan baju untuk Nando.


Si pria casanova merasa ngenes menatap miliknya yang terbungkus perban.


"Begini nih, banyak dosa celup sana sini, pas mau nikah justru zonk!" Nando menyesali semua perbuatannya, dia sepertinya sudah memahami resiko apa yang akan ia dapatkan setelah lima tahun mempermainkan para gadis yang sebagian besar jatuh cinta bahkan tergila-gila padanya.


Si casanova perlahan keluar dari kamar mandi, tubuhnya sudah terbalut handuk kimono. Dia sangat kesulitan berjalan dengan kedua kaki harus sedikit melebar, sedangkan tangannya bertugas menaikkan bagian kain yang terlalu dekat dengan bagian vitalnya.


Tap ... tap ... tap ...


Langkah sang casanova pelan tapi pasti, dia akhirnya bisa mencapai ranjang


"Thanks God! ini adalah pencapaian tertinggiku, mengucap syukur kepada-MU  karena kakiku mampu berjalan dengan lancar sampai di atas peraduan tanpa bantuan siapapun." Sejak senjatanya lecet, Nando lebih realistis dalam berpikir, dia selalu mengingat sang pencipta.


Saat dia merasa nyaman dengan posisi duduknya, tiba-tiba saja Juli berdiri tepat di depannya membawa kaos dan celana pendek berukuran lebih longgar dari biasanya.


"Pakai ini," pinta Nando.

__ADS_1


"Tolong pakaikan," jawab Nando, dia ingin memeluk tubuh itu, tetapi tak kunjung mampu melakukannya, dia takut miliknya akan tergores lagi.


"Oke," ucap Juli..


....


Di sela Juli membantu Nando untuk mengenakan pakaiannya, si pria mesuum menanyakan sesuatu tentang Steve Heleas.


"Baby?" tanya Nando tiba-tiba.


"Ada apa?" jawab Juli yang telah selesai membantu Nando mengenakan helai kain di tubuh kekar itu.


"Kau dan Steve, memiliki hubungan apa?" Nando ingin sekali mengetahui perasaan sesungguhnya yang di rasakan Juli untuk Steve alias Nando.


"Hm ... kau kepo! cemburu ya?" jawab Juli sembari bangkit dari posisi bersimpuhnya, dia sangat telaten dan totalitas dalam merawat Nando.


"Aku dan dia hanya bertemu satu kali, tetapi banyak momen yang selalu mengingatkanku kepadanya, hingga aku merasa putus asa mencari keberadaannya. Jika kau menanyakan perasaan macam apa yang aku rasakan padanya, aku hanya mampu menjawabnya dengan rasa sedih." Raut wajah Juli tiba-tiba berubah pucat.


"Baby, ada apa?" tanya Nando, dia mendongak dan menatap wajah sang pujaan hati, kedua tangannya tak lupa menggenggam tangan lembut itu.


"Saat aku pulang dari rumah sakit waktu itu, aku selalu bercerita tentang Steve. Tapi saat aku tumbuh dewasa, ibuku tiba-tiba saja melarangku bertemu dengan Steve saat aku selalu merengek meminta izin ingin mencari pria kecil itu. Ibu sepertinya menyembunyikan misteri tentang siapa Steve sebenarnya sampai ia meninggal dunia." Juli mencoba membuka tabir, dia menunjukkan sisi rapuhnya..


Deg!


Deg!

__ADS_1


Awalnya Nando sangat gembira karena akan mengatakan hal yang sebenarnya tentang jati dirinya sebagai Steve Heleas, tetapi saat mengetahui fakta ini, Nando agaknya harus lebih berhati-hati dengan nama aslinya itu.


Dia harus menyelidiki tentang apa yang terjadi di masa lalu, mengenai misteri ketidaksukaan ibu Juli kepadanya.


Astaga! cobaan apa lagi ini Tuhan? anu belum sembuh, ini ada lagi!


Nando sangat pening, hasrat yang ingin dia bagi bersama Juli akan tertahan cukup lama. Dia terjebak cinta masa kecilnya dan rahasia yang di simpan rapat sampai sang ibu Juli bersemayam damai di surga.


Aku hanya perlu menyembunyikan identitasku beberapa hari lagi sebelum aku memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Nando? apa kau melamun? sudahlah! soal Steve kau tidak perlu memikirkannya, hanya akan membuatmu cemburu saja," ucap Juli dengan polosnya.


"Mau kah kau ... menjadi istriku?" tanya Nando tiba-tiba, dia ingin memberikan kejutan yang indah untuk Juli.


"Oke, kita menikah kapan?" jawab Juli datar.


"Haha, kau seakan sedang menjawab pertanyaan, hari ini makan ayam ya? ok! wkwkwk! jawaban macam apa baby, kau harus lebih romantis." Nando memang beda, segala apapun dia komentari.


"Ini pernikahan yang hanya sebulan saja, jika kau ingin tubuhku, aku akan memberikannya, tetapi yang terpenting adalah bantu aku balas dendam. Aku penat sekali, mereka memfitnahku dengan kejam." Juli memang berhasrat dalam balas dendam, makanya dia meminta tolong kepada Nando yang memiliki cukup kekuatan untuk melawan Jack.


Nando memahami Juli, dia setuju tentang apapun. Jika itu membuat Juli bahagia, Nando akan melakukannya.


"Nanti sore, fitting baju! cari gedung mewah untuk acara pernikahan termegah! royal wedding Manda Heinz dan Javier Fernando."


Dia sangat ingin menikahi wanita malang sepertiku, terimakasih Nando. Ehm ... andai saja Steve datang di acara pernikahanku! semuanya akan lebih menyenangkan.

__ADS_1


….


__ADS_2