Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Pergi ke butik


__ADS_3

Juli menatap wajah gugup Santos, tapi dia enggan menelisik lebih dalam. Juli bukan type wanita yang terlalu kepo dengan urusan orang lain.


"Oh, jika itu teman, tidak perlu gugup Santos. Santai saja," ucap Juli sembari melirik ke arah wajah Santos yang kentara sekali menunjukkan kegugupannya.


"Iya Nona, maaf kalian berdua mau pergi kemana? biar saya mengantar." Santos lebih baik mencari aman saja, jalan satu-satunya adalah mengalihkan pembicaraan.


"Kau sibuk tidak Santos? kau bukannya harus menyelidiki kasus Jack?" Si mesum ingin mengusir Santos dengan cara berbeda.


"Oh iya, maaf saya lupa. Nona silakan pergi bersama Tuan Muda, biar saya siapkan mobilnya."


Misi Nando sukses, semuanya terlihat alami dan Juli tidak lagi menanyakan perihal hubungan sang ayah dan mantan kakak iparnya.


"Pergi sekarang baby?" tanya Nando dengan menggenggam tangan Juli.


"Lepaskan tanganmu, aku malu." Juli ingin melepaskan genggaman itu, tetapi semakin ingin lepas justru semakin sakit.


"Aw!" pekik Juli merasakan perih di area tangan yang di genggam terlalu kuat oleh Nando.


"Sakit 'kan?" Nando bahkan pergi begitu saja saat membuat Juli kesakitan.


"Hey!" pekik Juli, dia tidak terima di perlukan kasar.


"Jadilah calon istriku yang penurut, aku akan menyerahkan seluruh hidupku kepadamu! tapi satu, jika kau meninggalkanku! rasa sakit di tanganmu tidak ada apa-apanya," ucap Nando sembari membuka pintu dan keluar dari kamar pribadinya.


"Astaga! pria mesum itu, berlebihan sekali. Siapa juga yang ingin pergi darinya. Tujuan hidupku saja dia, mau pergi kemana lagi? Cih ... dasar casanova gila!"


Juli tersenyum saat melihat rasa cinta yang begitu besar dari Nando, dia tidak menyangka si pria casanova memiliki rasa cinta yang tulus dan suci untuknya.


Juli tersadar dari lamunannya atas sikap Nando yang sudah banyak berubah, perubahan yang positif.


Dia segera melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamar pribadi Nando dan menyusul sang casanova yang telah pergi lebih lebih dulu.

__ADS_1


....


Di depan rumah mewah Nando ...


Nando telah siap di depan mobil mewahnya sedangkan Juli masih berdiri di depan pintu utama.


"Ayo pergi! tunggu apa lagi?" tanya Nando.


"Iya, sabar pria mesum," jawab Juli yang perlahan melangkahkan kedua kakinya menuju mobil Nando.


Tap ... tap ... tap ...


Langkahnya perlahan menuju Nando, hingga kedua kaki itu sudah berdiri tepat di mobil sang casanova.


"Masuk! kau mau duduk saja di sana?" tanya Juli yang kini berbalik mengertak.


"Haha ... oke baby," jawab Nando merasa senang kala sang pujaan hati sama seperti dirinya.


"Kau benar ingin menyetir? apa anu-mu baik-baik saja?" tanya Juli khawatir.


"Baik, mandali! aman terkendali!" jawab Nando sok cool.


"Oke, nanti kalau terasa sakit, kau bilang padaku. Kita beli obat di apotek." Juli sangat perhatian dengan Nando, membuat pria gila itu terharu.


"Kau baik Juli, Jack itu pria bodoh!" ucap Nando sembari membelai wajah ayu Juli lembut.


"Sudahlah, dia hanya masa lalu. Selayaknya di lupakan saja, dia juga sudah menceraikan aku secara sepihak. Aku tidak menyesal pergi darinya," jawab Juli melow. Kedua orang itu saling berpegangan tangan.


"Kelak, jadikan aku sandaran atas semua keluh kesah dan beban hidupmu Juli, aku sangat mencintaimu, bukan sebatas napsu tetapi benar-benar cinta sepenuh hati." Nando mengecup punggung tangan Juli, dia berjanji akan tetap menggenggam tangan itu sampai tiada.


"Steve, terimakasih. Semua ini aku tidak memintanya darimu, aku takut membebanimu." Juli menahan rasa sesaknya, tidak ingin terlalu berharap jika Nando memang benar-benar mencintainya, dia hanya ingin menjalani hidup dengan baik.

__ADS_1


"Iya, sudahlah! peluk aku saja saat kau gundah atau ragu, aku akan meyakinkanmu, menguatkanmu! baby aku sangat mencintaimu, mungkin terdengar bulsshiitt di telingamu, tetapi aku memang mencintaimu, bukan hanya sekedar partner ranjang saja. Kau pemilik hatiku," jelas Nando tegas.


"Terimakasih Steve." Juli tidak bisa berkata-kata lagi, matanya mulai berkaca-kaca.


Nando meraih wajah itu dekat dengannya, dia mengecup bibir ranum itu mesra.


Ciuman yang tanpa napsu, tapi tulus dari hati.


Keduanya lupa agenda hari ini, lupa akan rasa sakit di area bawah sana.


Gelora yang membuncah, menciptakan sensasi romantisme luar biasa.


"Steve, stop!" ucap Juli saat Nando akan merampas buah kenyal itu dan melahapnya.


"Kenapa baby? kau tak suka?" Nando menghentikan aksinya, dia merapikan suri hitam yang menghalangi pemandangannya menatap wajah cantik Juli.


"Kita pergi ke butik dulu, baru mengerjakan hal lain, ingatlah! pekerjaan kita masih banyak," tukas Juli mengingatkan agar otak mesum Nando tidak semakin merajalela.


"Oh, hanya itu? oke. Tapi kau janji akan memberikan itu padaku nanti," pinta Nando, dia menatap Juli dengan debar jantung yang selalu tak terkondisikan.


"Iya Steve, ayo kita berangkat. Waktu kita tidak banyak, setelah ini kita akan menemui kedua orang tuamu, menikah, menyusun rencana untuk balas dendam dan ...." Juli memundurkan tubuhnya kala wajah Nando semakin mendekatinya, posisi yang tidak nyaman membuat Juli terdesak.


"Kau sudah siap untuk menjadi ibu dari anak-anakku? itu yang terpenting," ucap Nando.


Julia tidak bisa fokus saat tangan itu tak sabaran merebut apa yang menjadi haknya.


"Steve! no!" Juli merasakan sensasi itu lagi.


"Isi tenaga dulu sebelum pergi!" tukas Nando yang kini mulai membenamkan wajahnya di dada Juli yang membusung itu, membuka perlahan pengait bra@ sang pujaan hati dan apa yang diinginkan teraih sudah. Buah kenyal memabukkan yang selalu candu baginya.


Dia tidak peduli saat Juli menjambak rambutnya karena mulut nakal yang membuat pucuk ranum itu lecet dan terasa amat perih.

__ADS_1


….


__ADS_2