PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 1. PART 1


__ADS_3

Saat mereka datang untuk memberitahuku, aku sedang berada di salah satu taman bersama Devan, berusaha memahami sebuah peta lahan istana berusia tiga ratus tahun. Kami duduk di sebuah bangku batu,gulungan kain rapuh itu tergeletak di antara kami. Namun, alih-alih menikmati pemandangan taman, kami duduk menghadap benteng kelabu yang memisahkan ujung utara lahan istana dengan jalanan Vivaskari.


“ Tak mungkin ada di sana,” ujar Devan.


“ Lihatlah, Diana.”


Aku mendongakkan kepala dari peta & mengikuti arah jari Devan yang menunjuk dinding luas di hadapan kami. Setelah mendapat perhatianku, Devan berdiri dari bangku & berjalan menghampiri dinding. Dia menghantam dinding dengan kepalan tangannya, lalu meringis jenaka. Aku memutar bola mata.


“ Kau lihat?” ujarnya.

__ADS_1


Di sini tak ada apa-apa. Apa kamu yakin, Tuan putri yang bijak & keras kepala, sudah membacanya dengan benar?”


Aku mendesah Frustrasi. Devan benar. Kami sudah memeriksa bagian benteng ini selama lebih dari satu jam, mencari celah atau lekukan apa pun yang mungkin menandakan kehadiran sebuah pintu rahasia, tanpa membuahkan hasil.


“ Menurut peta, kita sudah berada di tempat yang benar. Setidaknya, menurut bagian yang kupahami.”


Aku menyisir rambut dengan tangan, menarik beberapa helai rambut cokelatku yang terlepas hingga tergerai di leher.


“ Dan itu benar-benar mengesalkan, karena aku menguasai empat bahasa modern dengan sangat baik, sedikit-sedikit mengenal enam bahasa lainnya, Dan cukup banyak bahasa kuno yang setidaknya bisa kukenali saat membacanya. Namun huruf… rune ini, aku tidak bisa memikirkan kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan tulisan acak-acakan itu, benar-benar membingungkan.

__ADS_1


Namun, aku memang belum menanyakannya pada orang lain, bahkan para pustakawan yang seharusnya menyimpan peta. Ini sebuah misteri, yang kutemukan bersama Devan, dan kami bertekad untuk mencari tahu sendiri jawabnya.


“ Artinya bisa macam-macam,” lanjutku.


” Bisa saja artinya, kebalikan dari semua yang baru kamu baca. Lagi pula, lokasi pintu Raja Ardan memang seharusnya rahasia.”


Kami sudah berusaha menemukan pintu Raja Ardan sejak badai salju yang terjadi pada musim dingin kemarin & memerangkap seisi kota di dalam rumah selama berhari-hari. Meskipun aku tidak keberatan untuk duduk-duduk di depan perapian salah satu aula istana sambil membaca buku, Devan tidak tahan terkurung di dalam. Dan karena aku sahabatnya, maka tugaskulah untuk membantu Devan menghabiskan energinya yang tidak terbatas.


Jadi kami menghabiskan sebagian besar dari empat hari terkurung salju itu dengan menjelajahi istana yang, karena berusia lebih dari enam ratus tahun, memiliki cukup banyak tempat menarik untuk menyibukkan kami selama empat puluh hari. Tempat yang paling disukai Devan adalah ruang senjata, tempat dia bisa mengamati senjata para raja & ratu yang sudah wafat, dan tempat kami menemukan sebuah ceruk kecil yang tersembunyi di balik perisai milik kakek. Di dalam ceruk itu terdapat sebuah belati, panjangnya tidak lebih dari pergelangan tangan hingga ujung kuku jariku. Belatinya polos dan, karena kami beranggapan tidak ada seorang pun yang kehilangannya selama beberapa ratus tahun terakhir, Devan mengambilnya.

__ADS_1


Namun, penemuan yang paling menarik kami dapatkan saat berada di perpustakaan. Setelah menjelajahinya selama dua hari, aku merasakan keinginan yang sangat kuat & nyaris tak terbendung untuk membaca sesuatu, apa pun, dan aku sudah bertekad untuk menghabiskan setidaknya satu jam di perpustakaan istana. Devan, meskipun cukup mampu dalam urusan pembukuan & belajar.


__ADS_2