PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 81


__ADS_3

Namun kurasa raja dan ratu tidak akan sungguh-sungguh mendengarkan, dan Paula sudah mempertimbangkan untuk mengunjungi Omar di pedesaan. Aku tidak memercayai Paula seutuhnya, tapi ada sebuah suara kecil di dalam diriku yang terus-menerus mengusikku dengan keraguan setiap kali benar-benar mempertimbangkan untuk bicara padanya.


Karenanya kami tidak memiliki siapa pun. Dan aku tidak tahu cara menyelamatkan sebuah negeri. Putri pengganti, pencelup gagal, penyalin—tidak ada satu peran pun yang mempersiapkanku untuk masalah kni. Aku kehabisan ide.


Aku memejamkan mata, menutup diri dari keputusasaan yang mencengkeramku. Seandainya saja peramal tidak pernah membuat ramalan itu. Ramalannya tidak terjadi, kan? Tidak ada seorang pun yang berusaha membunuhku sebelum ulang tahun keenam belas, jadi sebenarnya sejak awal pun tidak perlu ada putri palsu. Dan seandainya mereka merasa tidak perlu menukarku dengan sang putri, siapa pun pelakunya tidak akan punya kesempatan untuk melakukan pertukaran kedua. Takhta berada dalam bahaya, dan aku tidak perlu berusaha melindunginya. Mengapa, mengapa harus ramalan itu? Bukankah peramal itu seharusnya bisa melihat semua itu tidak akan terjadi?


Serasa ada sesuatu yang menjalari tulang punggungku, melebar di dasar seperti gelombang yang menyengat. Siderros. Di sanalah semua ini dimulai.


” Amelia?” Devan menyadari aku tidak memperhatikannya, dan aku merasa dia mengulurkan tangan untuk menyentuh lenganku.

__ADS_1


Mataku terbuka, membalas tatapan Devan. “ Siderros,”ujarku. “ Kita akan pergi ke Siderros.”


Kami membutuhkan enam hari untuk sampai di tujuan. Semula aku menduga waktunya cukup lama untuk menenangkan sarafku, tapi saat berada di sana, menatap jalan menuju kuil di Siderros, aku harus mencengkeram surai kudaku agar bisa tetap tegak. Jantungku terdengar bertalu-talu di telinga, dan pandanganku buram.


“ Bagaimana kalau mereka tidak mau membantu kita?” aku bertanya pelan.


“ Jangan berpikir begitu,” jawab Devan. “ Lagi pula, siapa yang bisa menolak bangsawan manis dan terlihat tidak berbahaya seperti ini? Mereka biarawan dan biarawati, dan seorang peramal. Entah sudah berapa lama mereka tidak melihat pengunjung seperti kita, hanya Dewa Tanpa Nama yang tahu. Mereka pasti terpesona.”


Devan menarik tali kekang kudanya yang sedang berusaha memakan rumput berduri yang tumbuh di pinggir jalan, lalu menatapku tajam.

__ADS_1


“ Kau lupa siapa dirimu, Nona Muller. Sebagai adik perempuanku kau seorang gadis menawan yang agak ceriwis, memiliki ambisi pendidikan dan minat aneh mengenai ramalan para peramal terkini. Kalau kau tidak seperti itu, mungkin aku lebih senang tinggal di istana daripada menemanimu dalam perjalanan seperti ini.”


Aku mendesah. “ Tentu saja, kakak.”


Bibir Devan merengut saat mendengar nada suaraku yang agak tinggi, tapi dia hanya menekan lutut agar kudanya maju dan berkata, “ Kalau begitu, ayo. Tak ada gunanya menunggu.”


Tentu saja, Devan benar. Jadi aku menepuk pinggang kuda, mengikuti Devan menyusuri jalan menuju gerbang kuil.


Perjalanan ke Siderros mungkin akan lebih cepat jika kami memiliki tunggangan yang lebih bagus. Namun, aku menolak gagasan menggunakan kuda-kuda keluarga Devan—bukti yang terlalu besar yang menunjukkan keterlibatannya—maka Devan menyewa tunggangan kami dari sebuah istal penyewaan kuda di Flower, yang sepertinya tidak akan mengenali wajah seorang bangsawan muda. Meskipun sama sekali tidak rewel, tapi juga tidak terbiasa melakukan perjalanan panjang, kuda-kuda ini cenderung melemah menjelang sore hari.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2