PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 87


__ADS_3

Wajahku merona saat memikirkannya, pastinya di sebabkan oleh keanehan tempat ini, kesunyian yang menakutkan, dan sosok yang tidak bergerak di atas podium. Aku tidak perpegangan tangan dengan Devan sejak berumur delapan tahun. Meskipun begitu, pikiran itu cukup mengoyakku hingga mematahkan mantra yang terpatri pada diriku, dan aku mengambil langkah pertama menuju sang peramal.


Perempuan itu belum tua, aku menyadarinya saat mendekat. Aku menduga akan melihat seorang perempuan bertangan keriput dan berambut kelabu, tapi kelihatannya perempuan itu tidak lebih dari tiga puluh tahun, kulit wajah dan tangannya mulus dan pucat. Dia duduk dengan kaki terlipat, sebuah gaun panjang berwarna putih polos menjuntai di sekeliling tubuhnya. Rambutnya berwarna agak pirang, dan tergerai hingga ke lantai. Matanya berwarna biru, nyaris tidak berwana.


Seraya menjilat bibir, aku berlutut, membiarkan tubuhku bertumpu di atas betis, leherku merinding. Aku mendengar Devan melakukan hal yang sama, tapi tidak bisa mengalihkan tatapan dari wajah sang peramal. Wajahnya tetap kaku, tidak bergerak seperti bagian tubuhnya yang lain, dan aku tahu perempuan itu tidak melihatku.


Sang peramal mengerjapkan mata pelan-pelan dan aku merasa perhatiannya mendadak tertuju padaku, kembali dari entah tempat apa yang barusan didatanginya.


“ Salam, putri - yang- dulu,” sapa permpuan itu.

__ADS_1


“ Apa?” Kata tersebut terdengar seerti berkoak. Di sampingku, Devan tegang. “ Kau tahu siapa aku?”


Perempuan itu mengangguk. “ Aku melihatmu, tiga hari yang lalu. Kau sedang berkuda di perbukitan, dengan mahkota rusak di kepalamu. Jangan cemas. Aku takkan melaporkannya.” sambil tersenyum.


“ Kau tahu kami akan datang?” tanyaku.


“ Aku masih melihat mahkotanya. Kau belum menyingkirkannya. Tapi kau sudah tidak memakainya lagi. Mahkota itu ada di tanganmu, seakan-akan kau menyimpannya untuk orang lain.”


Seharusnya aku merasa ngeri, mengetahui perempuan itu bisa melihatku, memotivasiku, dengan sangat jelas. Namun ternyata tidak; rasanya seperti menatap cermin yang sangat jernih untuk pertama kalinya. “ Karena itulah aku datang. Aku ingin….” Aku menelan ludah. “ Aku ingin tahu mengenai ramalannya, yang dibuat untuk sang putri saat dilahirkan. Tapi bukan kau yang membuatnya, dan Bruder Santo tidak mengizinkan kami melihat berkas sang peramal yang melakukannya. Keluarga kerajaan….”

__ADS_1


Suaraku, yang sudah pelan, semakin pelan hingga hanya terdengar sebagai bisikan. Semua ketakutanku tadi sudah menghilang; entah mengapa, aku tahu aku bisa memberitahu perempuan ini. “ Mereka dikhianati. Aku merasa semua ini ada hubungannya dengan ramalan, tapi aku harus membacanya, mencari tahu apa pun yang bisa kudapatkan.”


Sang peramal memiringkan kepala, lalu menggelengkannya dengan sedih. “ Aku tak bisa meminta kepala biarawan mengubah aturan yang sudah dijalankan di tempat ini selama berabad-abad.”


“ Tapi kumohon, kau mengerti—“


Sang peramal mengangkat jari, lalu menurunkan tangan ke lehernya . Dia menarik sebuah rantai perak panjang dari balik gaunnya, di ujungnya tergantung sebuah kunci perak. Saat melihat ekspresiku bingung, peramal itu tersenyum. “ Aku tak bisa meminta mereka mengubahnya. Aku hanya seorang peramal—sebelum aku ada banyak peramal dan akan banyak peramal lain setelah aku. Tapi aku melihat diriku menyerahkan kunci ini padamu, bahkan sebelum kau tiba.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2