
“ Aku tidak menyukainya. Tidak suka, sejak mengenal ibumu. Jadi aku tidak memberitahumu. Kurasa aku berharap, kalau tidak mengatakannya, kau akan terhindar darinya,”
Sebuah senyum kecut & muram tersungging di bibirku.
“ Yah, sihirnya ada di dalam diriku.” Pelan-pelan aku berdiri. Aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi aku tahu malam ini tidak akan bisa memikirkan hal lain.
“ Aku mau tidur. Besok pagi aku akan mencari tahu harus berbuat apa, itu pun jika aku tidak membakar tempat tidur saat mimpi.”
Bibi Vania bahkan tidak menganggukkan kepala. Dia hanya melongo saat aku, dengan sihir memderu di bawah kulitku, masuk ke kamar tidur, berbaring di atas tempat tidur, & tertidur.
__ADS_1
Keesokan paginya aku terbangun & langsung tahu harus berbuat apa. Semalam aku kebingungan, tapi saat bangun semuanya terasa… tidak lebih jernih, tapi lebih tajam. Begitu banyak hal terjadi dalam satu malam, & semuanya saling bersinggungan hingga aku nyaris tidak punya ruang untuk bernapas. Sekarang di sekitarku banyak ujung tajam, semak-semak berujung tajam yang akan menyentakku jika aku bergerak ke arah yang salah, & sepertinya hanya ada satu jalan yang terbebas dari semak-semak tajam itu.
Bibi Vania sudah tidak ada di tempat tidurnya, atau mungkin semalam dia bahkan tidak tidur di kamar ini.
Semalam aku langsung masuk ke balik selimut, masih mengenakan gaun. Sekarang aku memaksa diriku bangun & menghampiri peta yang diletakkan di sudut kamar. Kerongkonganku seakan-akan tercekat oleh sesuatu seukuran kepalan tangan saat aku melihat peta Raja Ardan di atas barang-barangku, tapi aku memindahkannya dengan jemari yang agak gemetar.
Di dekat dasar peti aku menemukan benda yang aku cari; sehelai gaun berwarna hijau tua yang kubawa dari istana & sendal tipis & datar serasi. Saat mengeluarkannya, tanganku menyentuh kantong kecil berisi emas yang terselip di sudut peti. Rasa bersalah menderaku. Mungkin seharusnya aku menawarkannya pada bibiku saat tiba di sini, atau mungkin seharusnya aku menawarkannya sekarang. Kemudian aku menggelengkan kepala & melipat gaun lainnya hingga menutupi kantong uang. Tidak, aku membutuhkannya untuk melaksanakan rencanaku.
Aku menemukannya di belakang rumah. Di hadapannya ada satu tong berisi air, bersama beberapa keranjang tanaman & setumpuk gulungan benang wol, tapi sepertinya dia belum menyentuh apa pun sejak meletakkannya di sana. Tatapan bibiku menerawang ke arah hutan & dia melihat sekeliling saat aku berdehem keras-keras.
__ADS_1
“ Amelia,” ujarnya tanpa menatapku. Suaranya terdengar serak, & aku tidak yakin apakah semalam dia tidur.
“ Aku memikirkannya. Mengenai ucapanmu semalam. & kurasa kau benar. Aku bersikap tidak adil dengan berharap kau tidak punya kekuatan sihir.”
Bibi Vania mengatakannya dengan nada tajamnya yang biasa, dengan selipan nada yang menunjukkan bahwa ini sebuah permintaan maaf.
“ Di desa W ada seorang perempuan, seorang penyihir tradisional. Aku membeli beberapa obat darinya saat ayahmu sakit. Obatnya tidak bekerja sebaik yang kuharapkan, tapi sepertinya berhasil membuatnya sedikit lebih nyaman. Kalau aku mendatanginya, mungkin dia mau mengajarimu.”
Sambil menepis debu yang tidak tampak dari gaunnya, bibiku tiba-tiba berdiri.
__ADS_1
Bersambung