PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 76


__ADS_3

“ Para penyihir. Penyihir yang sangat kuat. Kepala kampus dan calon utama penggantinya.” Devan mengerang, lalu menyandarkan kepala pada sisi tempat tidurku. “ Yah, kau lebih mengenal mereka daripada aku. Menurutmu yang mana?”


Pertanyaan itu sudah kurenungkan sendiri. Namun, sayangnya ucapan Devan sedikit terlalu optimis. Aku tidak sungguh-sungguh mengenal keduanya. Melani seorang baroness…. suaminya, sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu… jadi dia yang menghadiri acara-acara istana dan duduk dalam rapat dewan menggantikan suaminya.


Dia selalu bersikap sopan padaku, tapi pada umumnya aku hanya melihatnya dari kejahuan. Namun dia selalu membuatku merasa… aneh saat dia menatapku, seakan-akan dia bisa membaca pikiranku. Melani cantik, sedingin es, sangat cantik hingga membuatku semakin merasa canggung dan pemalu setiap kali melihatnya. Aku tidak pernah menemuinya, selain tatapan menyelidik itu, dan dia tidak pernah memperlihatkan minat padaku.


Dan Omar, meskipun penasihat raja dan ratu dalam urusan sihir, lebih sering menghabiskan waktu di kampus. Dia selalu terlalu sibuk untuk melakukan lebih dari sekedar mengangguk untuk menyapaku , bahkan jarang menatap mataku. Sepertinya keduanya. sampai saat ini, tidak terlihat seperti kandidat perencana kudeta.


Tetapi, batinku sambil menggigil, Omar tidak mau memberitahu Paula mengenai mantranya. Mengapa?

__ADS_1


karena dia takut, jika sungguh-sungguh memahaminya, Paula bisa mengetahui rencananya? Mungkin. Dan Omar ingin Paula melaporkan perkembangan sihirku, ingin mengawasiku. Apa itu ada hubungannya dengan semua ini? Meskipun begitu, tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa dia ingin menempatkan Riana di atas takhta alih-alih Diana yang asli.


Aku mendesah dan mengusap pelipis. Aku lelah setelah semalaman menerjemahkan, dan benakku rasanya seperti sedang melintasi lumpur kental. “ Entahlah,” ujarku. “ Tapi kita harus melakukan sesuatu. Aku tak bisa mendatangi melani… dia tidak punya ruang tetap di kampus. Tapi kau bisa…. mengawasinya, mungkin mengikutinya. Dan mungkin kita harus mendatangi kampus, mengikuti Omar atau menyelinap ke ruangannya, atau semacamnya.”


“ Menyelinap tanpa izin,” Devan berkata hambar. Dia memperhatikanku mengusap pelipis dengan ekspresi khawatir. “ Aku tidak yakin itu termasuk perilaku buruk yang ingin disingkirkan orangtuaku, tapi mereka akan melakukannya kalau terpaksa.”


“ Kita tak bisa melakukannya. Mereka akan menganggapku gila, atau ingin balas dendam, dan aku sudah…. entahlah… menggunakan muslihatku agar kau percaya padaku.”


Devan mengangkat sebelah alis. “ Muslihatmu?”

__ADS_1


Wajahku merona, tapi terus bicara. “ Intinya, mereka takkan memercayai kita. Kedengarannya gila. Dan ujung-ujungnya kita bisa membocorkannya pada si pengkhianat, memberitahu mereka bahwa kita mengetahuinya.”


Devan terlihat kukuh. “ Bagaimana dengan Paula? Dia benar-benar menyukaimu…. aku bisa melihatnya. Mungkin dia bisa membantu kita.”


Aku sudah menganggap Paula terlalu terasing dari komunitas penyihir untuk membantu kami, tapi Devan membuatku mempertimbangkannya lagi. Mungkin dia benar. Rasanya pasti menyenangkan jika ada seorang yang mendukung kami, dan Paula sekali pun akan lebih dipercaya daripada aku. Aku sudah mulai menganggukkan kepala saat Devan melanjutkan, “ Bagaimanapun, dia seorang penyihir. Dia mengenal keduanya, mengetahui berbagai hal mengenai….”


Namun aku tidak mendengar lanjutannya. Aku merasa panas dingin pada saat bersamaan saat teringat pada Paula di ruang kerjanya, kepala Omar tertunduk di dekat kepalanya saat mereka mempelajari sebuah gulungan kuno. Apa yang dikatakan Paula saat itu? Kami masuk kampus pada tahun yang sama, dan bahkan kekuasaannya pun tidak membuat kami berhenti berteman.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2