PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 111


__ADS_3

Jika bisa, aku pasti ragu dan menunda memberitahunya selama mungkin. Kali ini aku tidak punya kebohongan untuk dijadikan alasan; aku sengaja belum memikirkan kebohongan apa pun karena merasa, entah mengapa, itu bisa merusak pencarianku. Tetapi aku juga tidak bisa memberitahu yang sebenarnya. Namun, akhirnya, saat seluruh barangku sudah dikemas, aku memaksakan diri untuk menyusuri koridor menuju ruang kerja Paula dan mengetuk pintu.


“ Masuk, masuk! Lihat ini,” desak Paula begitu aku menutup pintu. Dia menggenggam sebuah kulit ular panjang, tipis, dan seperti kertas. “ Nah, menurutku, jika kita menerapkan hukum Abitha, kita bisa—yah, sulit menjelaskannya, tapi aku akan memperlihatkannyapadamu dan—“


“ Aku mau pergi. Paula,” aku menyela pelan. Paula terdiam, mengerjap satu kali, lalu melanjutkan ucapannya, “ Yah, harus kukatakan sekarang saat yang yang tidak tepat—aku lebih senang kau tetap di sini membantuku dengan eksperimen ini. Bahkan, aku memaksa. Kau bisa menemui Devan nanti malam.”

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala dan menyentuh lengan kurusnya. “ Bukan. Maksudku, aku mau pergi keluar kota. Aku harus—aku harus melakukan sesutu. Kuharap aku tidak perlu melakukannya, tapi aku tak bisa mengabaikannya lagi. Aku harus pergi, dan tak tahu kapan kembali.” Aku merana—takut, sendirian, dan pada akhirnya menelantarkan Paula.


Paula meletakkan kulit ular di atas meja, lalu mengalihkan tatapannya yang secemerlang burung padaku. Matanya mengamati wajahku, dan aku penasaran apakah dia bisa melihat kebenaran di sana. Melani pasti akan mencari fakta dari benakku menggunakan sihir, tapi Paula hanya mengangguk. “ Aku mengerti,” ujarnya. “ Tapi jangan pernah takut. Semua ini”—Paula mengayunkan tangan untuk menunjuk ruang kerjanya—“ akan menunggu di sini saat kau kembali.”


Aku ragu, tidak yakin, berada di ambang antara menceritakan atau tidak. Namun akhirnya, padahal seharusnya aku buka mulut, aku tidak melakukannya. Entah karena mengkhawatirkan keselamatan Paula, atau yang dikatakan Devan—bahwa aku ingin menemukan sang putri sendirian—atau dua-duanya, aku tidak tahu. Jadi aku hanya tersenyum lemah, sambil mengangguk setuju, dan keluar dari ruang kerja tanpa bersuara seperti yang kulakukan saat masuk.

__ADS_1


Aku mengambil tas dari kamar dan keluar dari rumah Paula menuju istal tempat aku sudah memesan kuda sewaan. Aku tidak berpaling lagi menatap rumah, atau ke baliknya, menuju istana tempat sang raja terbaring sekarat dan putri palsu kedua duduk mengkhawatirkannya, dan tempat Devan berjalan-jalan di lorongnya, bertanya-tanya apakah aku sudah pergi. Aku sama sekali tidak berpaling ke belakang. aku takut, seandainya melakukannya, aku tidak punya keberanian untuk melanjutkan perjalanan.


Wilayah Saremarch terletak hanya dua hari perjalanan dari Vivaskari. Aku ingin melaju cepat sepanjang perjalanan, tapi khawatir seorang gadis sendirian yang tergesa-gesa bisa menatik perhatian yang tudak diinginkan. Aku juga masih punya sedikit akal sehat mengenai kelemahanku; jalanan di dekat V bisa di bilang aman, tapi mengelana yang sendirian tetap bisa menarik perhatian para pencuri dan penjahat atau semacamnya. Jadi aku melaju dalam kecepatan sedang, berusaha tetap berada di dekat kereta para petani dan karavan para saudagar, orang-orang yang bisa membantuku jika aku berteriak. Aku tahu, seandainya benar-benar di serang, sihirkumungkin akan memutuskan untuk memunculkan diri untuk membelaku, tapi kurasa aku tidak bisa mengandalkannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2