
Peti berisi barang-barangku diletakkan di sudut, gaun yang semalam kupakai ditumpukkan di atasnya. Garis-garis cahaya panjang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kecil yang dipasang penutup. Aku berdiri, mengusap mata & terhuyung-huyung menghampiri petiku. Gaun yang kupakai kemarin tidak kotor, jadi aku berusaha memakainya di atas gaun dalamanku. Ini termasuk salah satu gaun paling sederhana yang kumiliki, atau dulu kumiliki, tapi aku jarang berpakaian tanpa dibantu setidaknya satu orang dayangku, & aku membutuhkan waktu cukup lama untuk memakainya dengan benar.
Untungnya, alas kaki yang kupakai adalah sandal tipis, tanpa gesper atau tali, & aku hanya perlu memasukkan kaki ke dalamnya. Aku menegakkan tubuh, tidak yakin apakah aku harus merasa bangga atau frustrasi dengan kemampuanku berpakaian sendiri, & pada saat itulah aku melihat benda lain yang tergeletak di atas peti.
Kantong kecil yang diberikan paman Ronald kemarin, tergeletak di samping surat untuk bibiku, sepanjang perjalanan di Vivaskari ke Treb aku mengintip isinya. Sekarang, seraya menyingkirkan suratnya ke atas tempat tidur, aku mengulurkan tangan & mengambil kantong itu, menimbangnya di atas tanganku sebelum menarik tali pengikatnya.
__ADS_1
Setumpuk kecil koin emas mengerjap padaku dari dalam kantong.
Dadaku tiba-tiba mengencang, seakan-akan tangan hantu meremas pinggangku dengan keras. Aku menatap koin-koin itu lebih lama lagi sambil berusaha mengingat cara bernapas, lalu membuka peti& menyurutkan kantong itu ke sudut terdalam. Aku membanting tutup peti & menjahuinya, sambil memeluk tubuhku.
Emosi bercampur aduk seakan mencabikku, sehingga aku tidak tahu harus merasakan apa. Amarah, karena mereka pantas membayarku atas “ jasaku” pada kerajaan. Dipermalukan, kerena mereka menilai enam belas tahun hidupku dengan jumlah sekecil itu. Karena uang yang berada di dalam kantong itu tidak seberapa jumlahnya.
__ADS_1
Pikiran itulah yang membuat kepalaku berpikir jernih. Aku tahu masalah apa yang bisa ditimbulkan seorang tiruan di dalam kerajaan. Empat generasi yang lalu Thorvaldor nyaris tercerai berai saat seorang putra kerajaan memutuskan bahwa dirinya merupakan kandidat yang lebih baik untuk menduduki tahta daripada kakak perempuannya.
Seandainya mantan orangtuaku merasa perlu melindungi putri mereka yang sesungguhnya dengan memastikan aku tidak memiliki dana untuk memulai sebuah pemberontakan, aku bisa memahaminya. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama, jika aku masih tinggal di istana. Tetap saja menyakitkan, tapi mungkin mereka hanya bermaksud menyelamatkan Diana dari bahaya, bukan untuk melukai Amelia. Ya, aku memaksa diriku bernapas tenang. Itulah yang mungkin terpikir olehku.
Saat ini aku bimbang, bertanya-tanya apa sebaiknya aku memberikan uangnya pada bibiku. Lagi pula, dia sudah menerimaku di rumahnya , padahal bisa saja dia menolakku. & penilaianku mengenai Treb semalam, bahkan uang sejumlah itu akan dianggap sebagai pemberian yang murah hati. Namun, ada sesuatu yang mencegahku untuk menghampiri peti & mengambil kantong uang.
__ADS_1
Aku masih memegang surat dari raja, & siapa yang tahu apa isinya. Mungkin itu hadiah untuknya, sebagai imbalan setelah membuang seorang kerabat tidak dikenal & diketahui keberadaannya di depan pintunya tadi malam.
Jangan pelit ngasih like, vote, hadiah, & komen yah guys..Jika masih ada salah ketik atau typo, author mohon maaf sebesar-besarnya🙏🌹