
“ Kau bisa menemukan jurnal milik para peramal di sini,” Bruder Santo memberitahuku. “ Semua peramal menulis jurnal berisi ramalan yang di kirim sang Dewa Tanpa Nama, begitu pula beberapa detail dalam kehidupan mereka. Kau boleh membacanya, tapi kami minta kau menggunakannya dengan sangat hati-hati dan jangan membawanya keluar dari ruangan ini. Sebagian di antaranya sangat rapuh.”
“ Tidak ada nama yang tertulis,” ujarku sambil pelan-pelan mengeluarkan salah satu buku terakhir dari rak dan membuka halaman pertamanya. Memang inilah yang kubutuhkan. Tentunya ramalan itu akan ditulis di sini, atau bahkan lebih dari sekedar ditulis, mungkin sang peramal menjelaskannya secara detail.
Bruder Santo menggelengkan kepala. “ Para peramal melepas namanya. Itu membawa mereka lebih dekat pada sang Dewa, yang juga tidak punya nama.”
Aku sudah pernah mendengarnya, ketika mempelajari berbagai macan hal saat masih menjadi putri, dan sebagi “ ilmuwan” sudah pasti aku mengetahuinya. Aku mendapati wajahku merona. Kesalahan- kesalahan kecil tidak akan membantu penyamaranku. “ Tentu saja,” aku cepat-cepat berkata. “ Aku hanya menduga mungkin namanya tercantum di sini, di dalam jurnal mereka.” Aku menyelinapkan buku ketempatnya semula, dan melirik ujung rak yang kosong. “ Bukankah seharusnya ada lebih banyak jurnal?” aku mendengar diriku bertanya.
“ Memang ada, tapi sayang sekali, aku tidak bisa menyerahkannya untuk penelitian kalian.” Bruder Santo menunjuk lemari hitam. “ Jurnal-jurnal milik tiga peramal terakhir ada di sana. Kami memisahkannya, karena tidak ada seorang pun selain sang peramal yang diizinkan untuk membacanya.”
__ADS_1
Devan mengeluarkan suara tercekik yang terlambat dialihkannya menjadi batuk. “ Kami tak bisa membacanya ?” tanya Devan.
“ Tak ada seorang pun yang bisa.” Suara biarawan ini terdengar lembut, tapi tegas.” Sebagian ramalan yang terdapat di dalamnya mungkin belum terjadi, dan sampai hal itu terjadi hanya sang peramal yang meramalkannya dan peziarah yang menanyakannya yang boleh mengetahui jawabannya. Satu-satunya pengecualian adalah peramal sekarang. Maafkan aku, tapi ini aturan kami.”
Aku berpaling, berharap pria itu menganggapnya sebagai kekecewaan belaka. Kilau semangatku menghilang bagaikan sebuah lilin yang ditiup sampai padam. Aku tidak peduli pada isi jurnal lainnya; para peramal itu tidak membuat ramalan untuk Diana. Jika kami tidak bisa membaca jurnal milik para peramal terakhir, maka kedatangan kami sia-sia.
Bruder Santo membiarkan pintunya terbuka, jadi pelan-pelan aku mengeluarkan jurnal lain dari dinding, membawanya ke sebuah meja, duduk, dan meletakkan buku di hadapanku seakan-akan hendak membacanya. Beberapa saat kemudian, kursi di sampingku menggesek lantai saat Devan menariknya.
“ Jangan cemas,” ujarnya di telingaku. “ Kita cari cara lain. Kita bisa menyelinap pada malam hari atau semacamnya, atau melakukan sesuatu, mencongkel lemari, dan membaca jurnalnya.”
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, berusaha mengabaikan sensasi membara di belakang mataku. “ Lemarinya dipasangi mantra. Aku bisa merasakannya. Paula pernah memperlihatkan mantra semacam itu padaku. Hanya kuncinya yang bisa membuka lemari itu. Kau bahkan takkan bisa membakarnya, memotongnya dengan kapak.”
“ Kalau begitu kita akan mendapatkan kuncinya.”
“ Kita tak tahu kuncinya ada di mana.”
“ Kita akan menemukannya. Atau mungkin kita bisa melupakan semua ini dan langsung bertanya pada sang peramal mengenai keberadaan Diana—yang asli, karena kau yakin dia masih hidup.”
Bersambung
__ADS_1