PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 68


__ADS_3

Di luar perpustakaan, jam di selasar berdentang dua kali lalu terdiam. Sambil bertumpu di atas siku, aku memijit pelipis dan terpikir untuk meletakkan kepalaku di atas meja. Namun tidak, aku sudah dekat, sangat dekat dengan keberhasilan membaca huruf rune itu hingga aku hampir membayangkan diriku berdiri di depan pintu raja Ardan, melihatnya terbuka di hadapanku. Aku harus terus berusaha, bahkan meskipun aku cukup lelah hingga bisa tertidur di atas kursi kayu perpustakaan yang tidak nyaman.


Aku sudah menelitinya selama berjam-jam, hanya berhenti untuk melahap makan malam dan kembali ke perpustakaan sebelum perutku selesai bergemuruh. Usaha untuk menerjemahkan huruf rune kuno yang tertulis di bagian bawah peta merupakan sebuah proses yang lambat. Sesekali aku mempertimbangkan untuk membawanya pada Paula yang kurasa sanggup membacanya tanpa bantuan selusin buku yang sudah berjamur dan rapuh. Namun, setiap kali merasa putus asa karena tidak sanggup mencari jawabannya sendiri dan hendak mengangkat peta untuk membawanya pada Paula, aku membayangkan wajah Devan saat memberitahunya bahwa aku membagi rahasia kami dengan orang lain.


Setiap kali itu terjadi, aku mendesah dan bersumpah akan mencari tahu soal rune yang membuatku kesal ini sedikit lebih lama lagi. Dan akhirnya, pada larut malam, yang menghalangiku dengan jawabannya hanya empat huruf rune yang belum berhasil diterjemahkan.

__ADS_1


Kalimat, putusku. Artinya pasti kalimat. Tidak mungkin ikan. Darah kerajaan? Tidak. Sudah pasti bukan. Aku menuliskan kalimat di atas kertasku. Hanya tersisa tiga huruf rune untuk kuterjemahkan, aku menyadarinya sambil merinding.


Namun aku tidak berhasil melakukannya. Jam di selasar berdentang tiga kali, lalu empat kali, dan tiga huruf rune terakhir itu tetap belum berhasil diterjemahkan. Sepertinya di dalam buku Paula mana pun aku tidak bisa menemukan huruf rune yang benar-benar menyerupai huruf rune yang tertulis di dalam peta. Setiap kali merasa berhasil menemukannya, aku menyadari salah satu sudutnya berbeda, atau lekukannya melingkar ke arah yang salah.


Setelah menyisakan ruang untuk sehelai perkamen kosong, aku mencelupkan pena ke dalam wadah tinta dan perlahan-lahan menuliskan catatanku. Kemudian, sambil menghela napas pendek penuh semangat, aku membaca kata-kata yang membuatku dan Devan kebingungan selama ini;

__ADS_1


Perhatikan, semua yang berusaha mencari Pintu sang Raja. Perlu diketahui bahwa Pintunya hanya akan muncul untuk seseorang yang memiliki darah kerajaan dan kalimat kerajaan.


Kata-kata itu, begitu tajam dan normal, menatapku dari perkamen, entah mengapa tulisan tanganku sendiri terlihat asing dan aneh. Karena itulah pintunya tidak pernah memperlihatkan diri pada kami, batinku dengan muram. Kami mencari di tempat yang benar, tapi aku tidak memiliki darah kerajaan, jadi pintunya tidak pernah muncul. Kekecewaan bertentangan dengan rasa semangat akibat penemuan ini. Aku sudah membayangkan diriku berhasil membuka pintu, dan sekarang, kecuali Diana berdiri di sampingku, aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Sebuah mantra yang cerdas, itulah yang akan di katakan Paula. Ini benar-benar sebuah rahasia yang hanya dicipatakan untuk keluarga kerajaan, rahasia yang tidak ada gunanya tanpa keluarga kerajaan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2