PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 31


__ADS_3

“ Di sini tidak ada gadis cantik untuk dicium, Devan, atau permainan untuk dimainkan, atau kejahilan untuk dilakukan. Tidak ada sandiwara untuk di tonton, tidak ada aula musik untuk didatangi. Bahkan tidak ada perpustakaan untuk kau jadikan tempat pelarian.”


Aku tertawa, tawa bernada tinggi & melengking yang tidak kukenali.


“ Oh, tak usah cemas. Bukan hanya kau. Lihat sekelilingmu. Di sini tak ada yang bisa dilakukan orang waras.”


“ Ada kau,” Devan berkata pelan.


“ Aku datang untuk mencarimu. Aku akan mencarimu ke mana pun,”


Devan menambahkan dengan suara lebih lantang.


“ Ke tempat yang terburuk pun, atau neraka sang Dewa Tanpa Nama yang membeku. Kau temanku. Aku tetap akan datang untuk mencarimu.”


Sebagian diriku ingin merenggut lengan Devan & memohonnya agar memaafkanku atas semua yang baru saja kukatakan. Sebagian diriku ingin memejamkan mata & berpura-pura kami sedang berdiri di taman istana, berpura-pura tidak ada yang berubah. Sebagian diriku ingin duduk di tanah bersama Devan & mengobrol sampai bibirku kebas, ingin menceritakan hidupku di sini. Tentang rusa di danau, kebingunganku mengenai Jose, ketegangan dalam hubunganku dengan Bibi Vania, ketakutanku mengenai perasaan tentang sesuatu yang terjebak di dalam diriku yang menggangguku sejak tiba di sini.

__ADS_1


Sebagian dirikumenginginkannya. Tetapi bagian diriku yang lain terlalu malu karena terpergok dalam keadaan lengah, kotor, basah,& miskin. & harga diriku terlalu tinggi untuk menarik kembali ucapanku.


“ Aku bukan Diana lagi,” ujarku, dengan nada yang sangat dingin hingga Devan terhuyung ke belakang di atas tumitnya. Aku menggenggam rok, mengguncangnya ke arah Devan.


“ Lihat aku, Devan. Lihat baik-baik. Inilah diriku yang sekarang. Aku keponakan seorang tukang celup di sebuah kota kecil terpencil, yang bahkan tidak punya baju miliknya sendiri. Aku membersihkan rumah, aku memasak makan malam, & aku mencelup berbagai macam benda. & aku bahkan tidak pintar melakukannya.”


“ Aku tidak peduli,” geram Devan. Matanya mengerjap, & tangannya terkepal hingga memutih akibat semangat yang menggebu saat mengucapkannya.


“ Aku tidak peduli apakah kau seorang putri, atau putri seorang penjual ikan, atau gypsy pengelana. Aku berteman denganmu bukan karena itu.”


Hampir, itu memengaruhiku. Namun, aku sudah terlalu jauh. Aku mendengar diriku berkeras,


Devan menggelengkan kepala sangat keras hingga pasti terasa sakit. “ Tidak. Amelia, dengarkan aku..”


Saat mendengarnya menyebut namaku…. nama yang tidak kuinginkan…. Aku kehilangan kendali.

__ADS_1


” Hentikan,” desisku.


“ Kau sudah datang, kau sudah memeriksa keadaanku. Kau sudah melakukan tugasmu. Ini tak ada gunanya, Devan. Pergilah.”


Setelah mengucapkannya aku berbalik, punggungku setegak punggung Bibi Vania. Aku bisa merasakan air mata panas & menyengat mulai jatuh ke pipiku, tapi aku tidak bisa memaksa diriku menatap Devan. Suasana hening cukup lama, lalu dia berkata,


“ Aku membawakan sesuatu untukmu. Peta Raja Ardan. Kau….kau meninggalkannya padaku pada hari itu. Kupikir mungkin kau bisa, yah, mempelajarinya. Memahami artinya.”


“ Dan perpustakaan mana yang bisa kugunakan?” aku bertanya muram.


“ Bukau apa yang bisa kubaca untul mencari jawaban teka-teki yang tidak dipedulikan siapa pun selama tiga ratus tahun?”


“ Kupikir kau menginginkannya,” ujar Devan. Aku belum pernah mendengar Devan bicara sepelan itu, terdengar kalah.


“ Yah, dugaanmu salah,” aku berkata asal-asalan, masih sambil memunggunginya.

__ADS_1


“ Di sini aku punya banyak teman, Devan. Mereka membuatku sibuk. Aku tak butuh belas kasihanmu atau hadiah darimu.”


Bersambung


__ADS_2