
Pada saat itulah Devan melihatku, dalam posisi konyol setengah merunduk hendak berdiri. Devan beranjak menghampiriku, tapi kemudian terlihat ragu, & keraguan itu nyaris mematahkan hatiku menjadi dua. Sebelum menyadari apa yang kulakukan, aku bangkit dari bangku & tersuruk-suruk melintasi rumput menghampiri Devan.
Napasku tersengal-sengal saat tiba di hadapannya, tapi akibat gugup, jarak yang kutempuh terasa lama. Kami berpandangan tanpa suara, lalu aku menghela napas, sambil berkata. “ Maafkan aku, maafkan aku Devan. Aku….”
Aku tidak sempat mengucapkan lebih banyak hal, karena Devan tiba-tiba merangkulku dalam pelukan erat hingga membuatku berjinjit. Aku kehabisan napas, & wajahku menekan pundaknya. Yang membuatku terkejut, aku bahkan sedikit menyurukkan kepala ke pundaknya. Kami berdiri seperti itu selama beberapa saat, berdempetan erat, sebelum sopan santun menyeruak di dalam otakku, “ Kau tak boleh terlihat memeluk gadis sembarangan di pinggir jalan,” gumamku.
“ Biar saja raja & ratu melihatnya. Aku tak peduli,” Devan memdesis keras-keras di atas kepalaku.
Namun, aku mundur & dia kemudian melepasku dengan enggan. “ Yah, aku peduli.” Aku berusaha tertawa meskipun gemetar. “ Bagaimanapun salah seorang dari kita masih harus menjaga reputasi.”
Tampaknya Devan sudah siap menyanggahnya, jadi aku menggelengkan kepala. “ Aku datang untuk meminta maaf, bukan bertengkar lagi. Jadi, apa kau akan membiarkan aku melakukannya?”
__ADS_1
Kali ini Devan tersenyum. “ Hanya jika aku bisa meminta maaf juga. Sejak hari itu aku sakit. Tindakanku sangat bodoh, tiba-tiba datang seperti itu, seharusnya aku memberitahumu dulu. Sama saja aku meminta kepalaku digigit sampai putus.” Devan mengangkat sebelah alis. “ Tapi, harus kukatakan, sikapmu lebih sulit dari yang kubayangkan.”
Aku merona hingga ke akar rambut. “ Maafkan aku,” ujarku. “ Saat mengucapkan semua itu aku sadar seharusnya tidak melakukannya. Aku tidak sanggup mencegahnya. Tapi aku sungguh-sungguh mengucapkannya.”
“ & maafkan aku juga, karena tiba-tiba datang seperti itu. Berteman?” tanya Devan
“ Ya,” ujarku sambil menghela napas berat.
“ Kalau begitu, apa kau tinggal di sini?” akhirnya Devan bertanya. “ Makaudku di kota. Tapi katakan dengan hati-hati!” Devan mengingatkan. “ Kau akan menghancurkan impian hatiku salama… sesorean ini… kalau bilang tidak.”
“ Kau tidak perlu khawatir,” aku membenarkan dugaannya. “ Sekarang aku tinggal di kota.”
__ADS_1
“ Kau meninggalkan bibimu?” kening Devan berkerut cemas. “ Atau dia juga ada di sini?”
“ Tidak, dia masih di Treb. Hanya aku yang pergi.”
Kelihatannya Devan merenungkannya dulu sebelum berkata hati-hati, “ Bagaimana dengan teman-temanmu di sana?”
Sebuah tangan raksasa yang terasa akrab mencengkeram dadaku saat berkata, “ Sebenarnya hanya ada seorang teman. & ternyata dia… palsu.” Devan tidak bertanya, tapi aku mendengar diriku berkata, “ Dia hanya pura-pura menjadi temanku. Dia hanya ingin… Maksudku…. dia hanya ingin pamer sudah…. bersamaku….”
Aku tergagap & merona, tapi sepertinya Devan memahamiku. Matanya terbelalak saat bertanya pelan “ Baik, apakah dia berhasil?”
“ Tidak!” aku berhenti berjalan & menginjaknya. “ Memangnya kaupikir aku siapa? Aku tidak kehilangan otak saat gelarku hilang.” Devan cukup tahu diri untuk memperlihatkan ekspresi malu, jadi aku melanjutkan, dengan suara pelan, “ Tapi siapa tahu? Aku membiarkannya menciumku, & aku kesepian. Mungkin aku melakukannya, karena aku sangat kesepian…”
__ADS_1
Bersambung