PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 132


__ADS_3

Aku teringat bagaimana kampus penyihir hanya menerima kaum bangsawan dan orang-orang berduit. Aku teringat bagaimana raja dan ratu memilih seorang gadis jelata untuk menggantikan sang putri, siap mengorbankannya tanpa meminta izin yang berkepentingan. Aku teringat hadiah mereka untuk Bibi Vania, yang memang berniat baik, tapi tidak sungguh-sungguh membantu, karena diberikan tanpa memahami keadaan yang sesungguhnya.


Saat menjadi putri aku tidak pernah memperhatikan hal semacam ini. Oh, aku pernah menyantuni kaum miskin pada hari-hari perayaan tertentu, aku juga merasa peduli pada nasib orang-orang yang tinggal di distrik TC. Namun semua itu tidak sungguh-sungguh menyentuhku. Dan aku tidak pernah mengkhawatirkan orang-orang yang mungkin tidak kelaparan tapi juga tidak benar-benar hidup. Tetapi, sekarang aku sudah melihat perbedaan antara kerajaan dan orang-orang yang seharusnya dilayani kerajaan. Aku sudah, bisa di katakan, hidup di dalam celah yang dihasilkan keduanya.


Aku menggelengkan kepala, sama tenangnya seperti seseorang dengan bayangannya. Akhirnya, Bella melentingkan kepala kebelakang dan tertawa. “ Bukan berarti berlian, tempat tidur lembut, dan jamuan makan tidak cukup untuk dijadikan alasan.”


“ Tentu saja,” aku menyetujuinya sambil ikut tertawa.

__ADS_1


Setelah itu, keadaan di antara kami menjadi sedikit lebih santai. Kami berada dalam misi yang sama dan, kurasa, mulai belajar untuk saling menyukai selama melewati prosesnya.


Bahkan dengan menghindari jalan raya, kami tiba di Vivaskari pada pengujung hari kedua, tepat saat matahari terbenam melukis benteng kota yang terlihat di kejauhan dengan warna jingga dan kuning. Devan langsung mendatangi sebuah penginapan dan istal sewaan yang berada tepat di luar benteng, sedangkan aku dan Bella menunggu di sebuah lumbung jerami yang terletak di pinggir salah satu pertanian terakhir. Meskipun Melani tahu Devan datang untuk mencariku, penangkapan Devan akan menjadi yang paling menyulitkan, karena dia putra seorang Earl.


“ Jangan mengkhawatirkan dia,” ujar Bella setelah kami menunggu beberapa saat. Dia berselonjor di lantai, punggungnya bersandar pada dinding lumbung jerami. Kuda-kuda berdiri kelelahan di balik bayangan lumbung, tak ada seekor pun yang berniat untuk berkeliaran. “ Dia akan mengamati keadaan, lalu kembali lagi.”


Mata Bella yang berwarna gelap berbinar di bawah cahaya temaram. “ Selama dua tahun, hmm? Dan tempat tidur siapa yang akan kaupilih untuk kautiduri selama dua tahun?”

__ADS_1


Pipiku terasa membara. Aku menyadari ternyata Bella memiliki pengamatan tajama, sebuah cara mengamati berbagai hal padahal kau menyangka dia sedang memperhatikan hal lain, kemampuan yang hebat, untuk seorang ratu. “Bukan seperti itu,” gumamku.


Bella mengangkat kedua alisnya. “ Kenapa tidak? Dia menjagamu, Amelia. Seakan-akan kau adalah harta karunnya yang terbaik, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya memasukkanmu ke dalam sakunya. Apkah sang lelaki pelempar belati sudah cukup berani untuk mengungkapkannya?”


“ Pernah, satu kali,” ujarku. “ Tepat setelah Melani mengirim badai untuk membunuhku. Devan memintaku agar tidak pergi mencarimu. Dia ketakutan— yah , takut aku tertangkap, atau terluka. Kubilang padanya aku harus berusaha, dan aku memasanginya mantra agar dia tidak membocorkan rahasia kami. Dia menciumku, lalu pergi. Kemudian raja sakit, dan aku pergi mencarimu.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2