PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 18


__ADS_3

Aku berkeliaran di dalam hutan sendirian, sambil menggenggam keranjang, menatap ke balik pundak dengan cemas setiap kali mendengar ranting patah atau gemerisik dedaunan. Beberapa kali aku berhasil menemukan tanaman yang diinginkannya, tapi bukan karena pengajaran bibiku melainkan berkat ingatanku mengenai percakapan bersama para pengurus kebun istana.


Namun, terkadang mencari tanaman di hutan bagaikan sebuah anugerah jika dibandingakan proses pencelupan. Setidaknya, selama di hutan sering aku sendirian, yang lebih kusukai selama hari-hari pertama pengasinganku.


Rasanya jauh lebih mengerikan saat duduk di bawah tatapan galak Bibi Vania ketika dia berusaha menyampaikan berbagai rahasia untuk menciptakan warna-warna jernih & kuat. Di luar dugaannya,& harus kuakui, di luar dugaanku juga, sepertinya aku kurang berbakat dalam mencelup.


Meskipun dengan mudah & aku bisa mengingat jumlah mordan yang harus di gunakan bersama kulit pohon dedalu hitam atau langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mengubah ragwort menjadi cairan pencelup berwarna kuning tua, aku tidak bisa membedakan apakah bahan-bahannya sudah menempel pada kain wol.


Aku sudah terbiasa mempelajari hampir semua hal yang di ajarkan para tutor padaku dengan cepat, & keterbatasan baru ini membuatku frustrasi. Ini juga menyebabkan Bibi Vania lebih sering mendesah.

__ADS_1


Pada malam hari, kami kembali ke rumah untuk makan malam. Setelah makan, Bibi Vania mengajariku salah satu tugas tanpa akhir yang harus dilakukan di dalam sebuah rumah tangga yang tidak mempekerjakan pelayan. Tanganku, sudah terkelupas & berubah warna akibat cairan celup, langsung terasa sakit & lecet-lecet.


Aku belajar menjahit selain membordir cantik, memotong kayu & memindahkannya dari tumpukan di belakang rumah ke perapian, menggosok panci & wajan, menjaga api perapian agar terus menyala dengan rata, memyusun benang wol di dalam gudang kecil di sudut ruang utama, & banyak hal lainnya.


Bibi Vania mempekerjakanku sampai kelelahan setiap malam. Kenyataannya bahwa Bibi Vania mengerjakan sebanyak yang aku kerjakan, bahkan lebih banyak, tidak membuatku merasa lebih baik.


Namun, bisa dibilang, mungkin jadwal sepadat ini lebih baik dibandingkan kemungkinan lainnya, karena jika tubuhku nyeri & kepalaku terus berputar berusaha mengingat cara menyiapkan semur atau bubur, setidaknya aku hanya punya sedikit waktu untuk meratapi kehidupan yang sudah tidak kumiliki lagi.


Aku merasa aneh, mengingat betapa fokusnya pikiranku pada tugas-tugas sepele yang kulakukan, sehingga kapan pun aku mulai teringat pada Devan, atau Raja & Ratu, aku bisa memaksa diriku berkonsentrasi pada panci atau kapak di tanganku.

__ADS_1


Namun, tak peduli seberapa besar usahaku, aku tidak pernah bisa mengisi kekosongan di dalam diriku. Kadang-kadang, aku mendapati diriku sedang mengusap tempat kosong di bagian dalam lenganku, tepat di bawah lekukan siku, letak tanda lahirku dulu.


Aku penasaran apakah Diana juga mengamati bagian itu, seandainya tanda lahir itu muncul di tangannya saat menghilang dari tanganku, atau apakah para penyihir membiarkan tanda lahir itu pada tangannya meskipun dalam penyamaran.


Aku penasaran apakah aku bisa berhenti merindukan tanda lahir itu, merindukan hidupku.


Mungkin aku akan lebih mudah menerima keadaan baru ini seandainya aku merasakan semacam pertalian dengan bibiku. Bibi Vania, aku segera menyadarinya, bukan perempuan yang hangat.


Bibi Vania menyapa penduduk desa dengan cukup ramah & menawarkan bantuan jika diminta, tapi dia tidak punya teman akrab, & tidak pernah mengunjungi penginapan untuk bersantai di ruang duduk & mengobrol seperti yang dilakukan banyak orang.

__ADS_1


__ADS_2