
Aku menggelengkan kepala keras-keras hingga kepang yang melingkar di kepalaku terancam lepas. “ Kami tidak menjalin…. hubungan percintaan. Dia hanya temanku?”
Paula mengeluarkan suara yang terdengar seperti terkekeh. “ Benarkah?” tanyanya. “ Kurasa karena itulah dia bersamamu hampir tiap malam.”
“ Seperti yang kubilang, kami berteman. & sudah lama kami tidak bertemu.
Paula mengangkat sebelah alisnya. “ Aku mungkin tidak peduli soal itu… atau setidaknya dulu aku tidak peduli, hingga baru-baru ini, tapi saat mengunjungi kampus aku mendengar gosip istana. Para murid bangsawan, mereka yang membawa gosipnya, kau tahu kan. & salah satu kisahnya adalah bagaimana Earl of Rithia & istrinya kelimpungan mencari jodoh serasi untuk putra mereka.”
Tiba-tiba aku merasa pening tanpa alasan, & rona panas… sangat mirip perasaan cemburu yang kurasakan saat di penginapan… menyergapku.
“ Jodoh?” ulangku.
__ADS_1
“ Gadis, perempuan muda, prospek yang bisa dinikahi. Aneh, mengingat mereka melakukannya dengan sangat tiba-tiba. Menurut mereka tepat setelah sang putri kembali. Seakan-akan sebelumnya mereka sudah mengharapkan jodoh yang lain, & rencana itu hancur.”
“ Aku?” tanyaku. “ Apa orang-orang beranggapan orangtua Devan ingin dia menikahiku? Itu…. Konyol. Putri tidak menikahi earl …. mungkin seorang duke, tapi tidak seorang earl, kecuali dia berasal dari negeri asing & mendatangkan aliansi besar. Lagi pula, kami hanya….”
“ Teman,” Paula menamatkan ucapanku. “ Aku tahu. Kau terus-terusan mengatakannya.” Dia menatapku sebelum berkata, “ Tapi, menurut gosip, mereka belum beruntung. Dia bersikap sopan pada semua orang yang diperkenalkan orangtuanya, tapi tidak lebih. Tapi itu tidak ada pengaruhnya, karena kau tidak mencintainya.”
Aku memelototi Paula, wajah & dadaku masih dipenuhi gelombang panas tadi.
“ Benar. Yah, aku bilang…. Ya, kami bertengkar. Dia bilang Di…..sang putri…. ingin bertemu denganku. & kubilang dia tak bisa membawanya menemuiku, kubilang aku tidak mau bertemu dengannya.
Devan bilang jika putri meminta, dia harus melakukannya. Tapi dia sudah pernah menghindari keadaan yang lebih rumit dari ini. Kalau mau, dia bisa mencari cara untuk menghindarinya.”
__ADS_1
“ Kalau begitu mungkin dia memang tidak mau,” Paula menjawab sebelum berjalan menuju tangga & menghilang dari pandangan.
Aku punya banyak waktu untuk merenungkan ucapan Paula, karena selama tiga hari berikutnya aku tidak bertemu Devan. Ini perpisahan terlama kami sejak kembali ke kota, & meskipun aku sedang marah padanya, perhatianku tetap saja teralihkan karenanya.
Aku mengacaukan mantra lebih parah dari biasanya, menumpahkan tinta, & sering tersandung hingga Paula mengancam dia sendiri yang akan memanggil Devan ke rumah & mengubahnya menjadi seekor burung gagak jika kami tidak berbaikan. Matanya berkilat penuh ancaman saat mengucapkannya, & itu saja sudah cukup mengusir sedikit kegalauanku. Namun, aku menebusnya dengan menghabiskan waktu luangku untuk melamun di ambang jendela, sambil menatap ke arah istana. Setidaknya lima kali aku berpikir untuk mengirim salah satu mantra pesan.
Namun, setiap kali mengangkat tangan untuk memunculkan bola cahaya mungil, aku menjatuhkannya. Aku ingin bertemu Devan, tapi aku belum siap untuk memaafkannya. Sementara tuduhan Paula lainnya benar-benar konyol. Kami hanya berteman, seperti yang kami jalani sejak dulu.
Meskipun begitu, mengapa setiap kali berpaling sepertinya aku selalu bertengkar dengan Devan? Sebelumnya kami jarang bertengkar, & hanya mempermasalahkan hal-hal sepele. Mungkin, bisik sisi pembangkang didalam diriku, sebelumnya kau tidak punya cukup keberanian. Kau terlalu pemalu untuk bertengkar dengan siapa pun, bahkan Devan. Atau mungkin aku hanya berubah menjadi orang yang mudah marah & kesal, semacam semak berduri berjalan. Atau mungkin, terlepas dari protesku pada Paula, ada yang berubah antara aku & Devan, berbelok ke jalan yang ujungnya tidak terlihat olehku.
Bersambung
__ADS_1