
“ Maaf,” ujar Devan sambil tersenyum. “ Apa kau baik-baik saja?”
“ Ya,” ujarku, tapi suaraku terdengar lebih pelan dari yang kumaksudkan. Aku bisa merasakan leherku membara, dan aku menjauh dari Devan sebelum dia sempat melihat wajahku. Sambil beranjak menghampiri pintu, aku bertanya-tanya ada apa dengan diriku.
Devan berada tepat di belakangku, dan sambil mengerang dia mendorong pintunya sampai terbuka.
“ Lubang kuncinya…. Yah, mereka pasti tahu ada orang yang datang ke tempat ini. Lubang kuncinya benar-benar rusak. Kita harus pergi sebelum mereka menyadarinya.”
__ADS_1
Devan melirikku dengan senyum kecil khas pada wajahnya, dan entah mengapa perutku tiba-tiba jungkir balik. “ Perempuan silahkan lebih dulu,” tambah Devan sambil menyeringai.
Aku mengambil sebuah obor dari salah satu rangka yang terdapat di samping pintu, dan Devan mengambil obor lainnya. Kemudian, sambil menelan ludah, aku berhasil menggunakan mantra untuk menyalakan obor dan melangkah ke dalam makam.
Monumen di bangun selama berabad-abad. Bangunannya besar, dibangun untuk menampung jasad para peramal selama bertahun-tahun ini, dan belum terisi. Setidaknya, siapa pun yang merancangnya tidak terpikir untuk memasukkan setiap jasad peramal ke dalam peti batu tersendiri. Alih-alih, lobang-lobang terbuka berderet di dinding, masing-masing dilengkapi ukiran rumit disekitar tanggal masa hidup sang peramal. Cahaya yang berasal dari obor berkelip di sekitar kami saat melihat-lihat ke dalam lobang, mencari yang paling baru. Di lobang-lobang terdekat hanya tersisa sedikit, hanya sepihan-sepihan kain yang menyelimuti tulang belulang. Pemandangan itu, ditambah hawa dingin dan udara yang berbau tidak nyaman dari makam, membuatku merinding. Karena tidak menemukan makam sang peramal yang kami butuhkan, kami berjalan semakin jauh ke dalam makam.
“ Apa yang akan mereka lakukan kalau kehabisan tempat?” Devan bertanya sambil memicingkan mata ke arah angka yang terdapat di atas salah satu lobang. “ Bukan yang ini.”
__ADS_1
Kami berada di dekat bagian belakang lobang yang sudah ditempati saat Devan memanggil namaku. “ Amelia ! Kurasa aku menemukannya.”
Aku bergegas mendekatinya, sambil mengangkat obor untuk melihat tahun kematian, lalu menggigil karena semangat dan takut. Sehelai kain kafan putih bersih membungkus tubuh sang peramal dari kepala hingga kaki. Ada debu dan sarang laba-laba yang menodai kain polos itu, tapi masih sepenuhnya terpasang dengan baik.
“ Ini dia. Dia bilang ada di dalam wadah, jadi ayo kitaa cari.” Namun, setelah mencarinya di sekitar lobang selama beberapa saat, kami tidak mendapatkan apa-apa. “ Kurasa kita harus melepas kain kafannya,” aku berkata enggan.
Pundak Devan berkedut, tapi dia meletakkan tangannya di atas kain itu dan menariknya. Kain kafan berusia lima belas tahun itu terbuka dan memperlihatkan mayat sang peramal.
__ADS_1
Mayat sang peramal ternyata tidak sebusuk dugaanku semula, dan aku baru menyadari bahwa para biarawan pasti mengawetkan mayatnya, atau meminta seorang penyihir untuk menggunakan mantra, sebelum membawanya ke dalam makam. Rambut warna gelap menempel pada tengkorak, aku melihatnya sebelum mengalihkan tatapan dari wajahnya. Entah mengapa, rasanya tidak sopan menatap wajahnya. Alih-alih, aku memusatkan perhatian pada bagian tubuh lainnya, sebuah tugas yang terasa lebih sulit akibat cahaya obor yang terus berkelip.
Bersambung