PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 53


__ADS_3

Wajah Devan memucat, & rahangnya sangat kaku hingga terlihat seperti batu. “ Dia menciummu? Bajingan seperti itu?”


“ Aku tidak yakin hanya aku yang mendapat ciuman selama beberapa bulan terakhir,” aku berkata dengan sikap santai yang dibuat-buat. Aku tidak mau membicarakan Jose lagi, tidak saat akhirnya aku bisa kembali bersama Devan. “ Saat aku pergi kau sedang mengejar Nona Ivia. Aku yakin sekarang kau sudah menciumnya.”


Taktikku berhasil. Devan menceritakan sebuah kisah melibatkan jamuan makan, anjing yang lepas, & pelukan menenangkan yang harus diberikannya pada Nona Ivia, & membuat kami berdua tertawa. Seandainya sebagian tawa kami terdengar sedikit dipaksakan, tak seorang pun dari kami membicarakannya. Sesudahnya, kami berjalan sedikit lebih jauh tanpa suara, lalu kemudian Devan berkata, “ Jadi, kau tinggal di mana?”


Aku hendak menjawabnya, lalu menyadari bahwa aku sendiri punya sebuah kisah untuk diceritakan. “ Aku bekerja sebagai penyalin untuk Paula Sovrit,” aku berkata pelan. “ Aku tinggal di rumahnya.”

__ADS_1


“ Paula?” Devan terdengar kaget. “ Penyihir gila itu?”


Dadaku menggembung seperti seekor kucing marah. “ Dia tidak gila! Dia seorang Master, & dia hanya… berbeda. Paula melakukan berbagai eksperimen & membuat mantra baru. Dia hanya tidak menyukai kampus, hanya itu.”


Devan mengangkat tangan pura-pura menyerah. “ Maafkan aku, maafkan aku! Kumohon,” Devan berkata sambil membungkukkan tubuh, “ jangan biarkan aku menyinggung Nona Amelia hingga dia menyerangku dengan sihir yang tidak diragukan lagi dipelajarinya dari Paula yang hebat.” Devan menyeringai padaku saat mendongak, tapi aku tidak mengatakan apa-apa. Sedikit demi sedikit seringainya menghilang. “ Apa?” tanyanya.


“ Aku…. aku….yah, lihat.” Aku mengulurkan satu tangan, memicingkan mata sambil berkonsentrasi. Aku bisa merasakan keringat menetes di ketiakku. Kumohon, batinku. Dewa Tanpa Nama, jangan biarkan aku gagal di hadapan Devan. Perlahan-lahan, sebuah percikan kecil muncul, lalu sebuah bola cahaya berwarna putih kebiruan melayang di atas tanganku. Aku mengalihkan tatapan dari telapak tanganku ke wajah Devan, mulutnya ternganga.

__ADS_1


Namun, Devan menatap tempat cahayanya tadi berada sampai akhirnya aku menurunkan tanganku. “ Bagaimana kau melakukannya?” tanya Devan melongo. “ Kau tak punya sihir, tak ada seorang pun di keluargamu…” matanya berbinar saat memahaminya. “ Keluargamu yang sesungguhnya. Mereka…. penyihir?”


Aku mengedikkan bahu, sekarang merasa malu. “ Ibuku, bukan ayahku. & kurasa ibuku juga bukan penyihir, hanya…. seseorang yang memiliki kekuatan. Dia selalu bepergian… kurasa dia tidak belajar di kampus, bahkan seandainya dia punya uang atau gelar untuk diterima di sana.”


Aku menyapukan tangan di atas rambut untuk menyelipkan helaian rambut yang terlepas ke belakang telinga. “ Aku berusaha mendaftar ke kampus penyihir, tapi mereka tidak bersedia menerimaku. Paula menemukanku di sana, & menawarkan diri untuk mengajariku sebagai bagian dari bayaran menjadi penyalinnya. Paula bilang


mantra yang mereka pasang agar aku terlihat seperti sang putri pasti sudah… menekan sihirku. Mencegah kemunculannya, & sihir itu membutuhkan waktu untuk memunculkan diri setelah mantranya dilepas.”

__ADS_1


“ Namun, sebenarnya aku putus asa. Paula bilang sihir di dalam diriku terlalu banyak, karena aku tidak menggunakannya sejak dini, sehingga menyebabkan sihir itu berusaha keluar dalam waktu bersamaan. Kadang-kadang, saat kesal aku melakukan sesuatu tanpa bermaksud melakukannya. Atau kadang-kadang aku bahkan tidak bisa menggunakan mantra sepele sekali pun. Kurasa bisa dibilang… berbahaya.”


Bersambung


__ADS_2