
Semula aku khawatir Devan akan menilaiku dengan cara yang berbeda setelah mengetahui kekuatan baruku. Khawatir Devan akan cepat-cepat kabur ke istana saat membayangkan kemungkinan terbakar hidup-hidup saat aku marah.
Seharusnya aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Lidah Devan terjulur di antara bibirnya. Sudah ratusan kali aku melihat ekspresi itu, biasanya tepat sebelum terjadinya sebuah aksi yang membuatnya, atau kami berdua, terlibat masalah. “ Sihir,” guman Devan. “ Kau, seorang penyihir. Seorang penyihir berbahaya.” Tatapannya menyapuku, lalu tertuju pada wajahku. “ Apa kau sadar betapa menyenangkannya semua ini?”
Setelah bersama Devan lagi, aku mulai berpikir, mungkin, hidupku akhirnya mulai tersusun lagi. Mungkin ini bukan kehidupan yang semula kubayangkan, tapi tidak buruk. Aku jadi bersemangat mengerjakan tugas yang diminta Paula; menyalin buku & gulungan dokumen usang, menerjemahkan catatan eksperimennya menjadi sebuah naskah rapi, mengunjungi toko-toko di kota untuk mencari bahan-bahan yang tidak ditemukan di pedesaan terdekat, & membantu eksperimennya.
__ADS_1
Sering kali Paula terlalu bingung hingga tidak memedulikan tugasku selanjutnya, jadi aku di biarkan untuk mempelajari sihir. Kadang-kadang bukan berarti ada gunanya. Aku masih harus berjuang mengendalikan sihirku, & kadang-kadang aku putus asa karena merasa tidak pernah bisa mempelajari cukup banyak hal untuk mengaku sebagai penyihir sejati.
Namun, aku mendapatkan kesuksesan langka saat menggunakan mantra pesan. Aku membutuhkan dua hari untuk melakukannya dengan benar, akhirnya aku berhasil membuat sebuah bola kecil bercahaya hijau yang setelah aku bicara di depannya, akan menyampaikan sebuah pesan pendek pada siapa pun yang kuinginkan. Ini lebih berguna & lebih cepat dari surat, & kemungkinanku untuk memberitahu Devan dalam waktu singkat setiap kali memiliki waktu luang pada sore hari.
“ Kau bilang apa pada mereka?” aku bertanya pada pertemuan kami yang ke empat. Kami sedang duduk di sebuah kedai di Guil, tempat yang ternyata selama bertahun-tahun ini didatangi Devan setiap kali merasa bosan dengan tempat-tempat mewah di Sapphire. Aku jarang mengunjungi kedai hingga tidak bisa menahan diri untuk diam-diam menatap setiap orang baru yang memasuki kedai. Aku merasa cukup nekad hanya dengan berada di tempat ini, tapi aku berusaha bersikap biasa-biasa saja.
__ADS_1
Aku mengerutkan kening sambil menatapnya. “ Orang tuamu, istana, semua orang. Di mata mereka kau menghilang selama empat hari dalam satu setengah minggu terakhir. Kau pasti mengatakan sesuatu pada mereka.”
“ Kubilang pada mereka aku bertemu putri penjual ikan & dia sok jual mahal,” Devan berkata datar. “ Kubilang sejauh ini pendekatanku sia-sia, aku dilempari ikan, jaring dijatuhkan dari atap ke atas tubuhku, hal-hal mengerikan, & aku harus meluangkan lebih banyak waktu untuk membuatnya takluk.”
Aku mengetukkan kuku pada sisi cangkir, ekspresiku semakin merengut. “ Tidak, kau tidak melakukannya.” Ucapanku terdengar lebih menyerupai pertanyaan dari yang kumaksudkan. Kurasa dia tidak mungkin sungguh-sungguh mengatakannya pada siapa pun, tapi kau tidak pernah bisa menduga Devan.
__ADS_1
Devan menyesap cangkirnya pelan-pelan, lalu meletakkannya. Saat mengusap mulut dengan punggung tangannya, kurasa dia berusaha menyembunyikan senyuman.
Bersambung