PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 104


__ADS_3

“ Aku berniat memberitahumu, tapi lupa, karena bertemu dengan Riana, melihat Melani memperbarui mantra, dan perjalanan ke Siderros. Aku baru ingat sekarang!”


“ Apa sekarang dia ada di luar?” tanya Devan.


Aku menggelengkan kepala, tidak yakin. Kami berdiri serempak, mengendap-endap ke seberang koridor menuju sebuah jendela yang menghadap ke jalan. Awalnya aku tidak melihat siapa pun, tapi kemudian aku melihat seorang pria berpenampilan membosankan sedang memangkas semak pagar di depan rumah, terpaut dua rumah dari tempat kami. Aku menyipitkan mata—langit sudah bertambah gelap sejak kami masuk, awan kelabu mulai terbentuk di atas kota—tapi akhirnya terpaksa mengangguk. “ Kurasa itu dia,” ujarku.


Devan memelototi pria itu dengan galak, wajah yang biasanya bahagia itu terlihat tegang. Kemudian, dia berjalan marah keluar dari kamarku dan menghindariku saat aku mengikutinya dan menutup pintu.


“ Apa kau tak mengerti? Sekarang kita harus memberitahu seseorang. Kalau dia menyuruh orang untuk mengikutimu bahkan sebelum kau mengetahui semua ini, kalau saat itu pun dia sudah mengkhawatirkanmu—“

__ADS_1


“ Ini lebih penting dariku!” Aku berteriak pada Devan. Petir menyambar di luar, mengalahkan teriakanku. Hujan menampar jendela dalam serangan badai dadakan. “ Apa kau tak mengerti, Devan? Ini mengenai Thorvaldor, memastikan orang yang tepat menduduki takhta. Kalau aku tak bisa melakukannya, maka semua itu…..” Aku terdiam, gemetar. “ Semua itu—seluruh hidupku, seluruh kebohongan—semua itu sia-sia. Aku harus menemukannya.”


Devan menatapku, matanya menyipit. “ Kau merasa tahu di mana dia berada.”


Aku mengangguk. Mungkin tadi pagi aku akan bilang sama sekali tidak tahu harus mencari kemana. Tetapi sekarang, sekarang aku tahu siapa yang menyembunyikannya, dan aku tahu harus mencari kemana. “ Di mana kau akan menyimpan sesuatu, kalau kau ingin meraihnya dalam waktu singkat tapi tidak mau ada orang lain yang menemukannya?”


Devan tidak bergerak, wajahnya mendadak bertambah pucat, “ Oh, tidak,” bisiknya. “ Kau takkan pergi Saremarch. Itu sama saja dengan—dengan memasuki perangkap. Melani bisa menangkapmu di sana dan tak ada yang akan melihatmu lagi.”


“ Kau takkan pergi ke sana. Itu terlalu berbahaya. Aku tak mau kehilanganmu lagi.”

__ADS_1


“ Kau tidak berhak menentukann!”


“ Aku akan mengatakannya sendiri,” ancam Devan. “ Raja dan ratu. Aku akan memberitahu mereka, Amelia. Kalau kau tak mau melakukannya.”


“ Devan,” ujarku, “ Kumohon—“


Namun aku tidak sempat melanjutkan, karena tepat pada saat itu dunia meledak.


“ Amelia, merunduk!” jerit Devan, tapi aku nyaris tidak sempat berbalik saat jendela kamarku yang menghadap ke taman tiba-tiba meledak dan menghamburkan ribuan keping kaca. Kacanya pecah ke dalam, meledak di atas kami dalam hujan serpihan. Aku merasakan sebagian kepingan kaca mengiris kulitku tepat sebelum Devan menabrakku dan menarikku ke bawah tempat tidur. Sesaat kemudian, dahan pohon yang menaungi taman melayang ke dalam kamar. Dahan-dahan itu menghantam dinding, dan aku merasakan Devan melingkarkan lengannya di atas kepalaku. Di luar angin bertiup dengan kencang dan hujan menyemprot masuk melalui jendela pecah bagaikan ombak besar.

__ADS_1


Ini bukan badai sungguhan, batinku saat sesuatu yang berat menghantam petiku. Badainya terjadi terlalu cepat, terlalu kuat. Hujan, kaca, dan dahan berputar di atas kepalaku, jatuh di mana pun yang mereka inginkan, tapi aku tidak bisa melihat semua itu. Yang kulihat hanyalah wajah Devan di atas wajahku, ekspresinya memperlihatkan pikiranku beberapa saat yang lalu.


Bersambung


__ADS_2