PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 127


__ADS_3

Abu menyala-nyala turun bagaikan hujan, dan kami terpaksa menghindari orang-orang yang berlarian sambil membawa selimut untuk memadamkannya. Salah satu abu tersebut mendarat di lenganku, membakarku, dan aku menjerit, tapi para pengawalku bahkan tidak memperlambat langkah.


Tiba-tiba saja suara jeritan memenuhi udara, disusul suara bagian istal yang runtuh. Percikan semakin tinggi, menyirami halaman istal, lalu setumpuk jerami yang ada hanya beberapa kaki di depan kami meledak dan terbakar. Aku tersandung saat kedua pria itu menarikku mundur dan tersungkur di atas kali mereka. Nyala api yang tadi menjilat tumpukan jerami melesat naik bagaikan tiang api, memuntahkan lidah api dan asap. Aku merasa linglung akibat suara berisik, asap, dan hawa panas, akibat ancaman api yang meletup-letup, tapi para pria yang memegangiku tidak memperlihatkan belas kasih. Mereka menarikku sampai berdiri lagi, sambil menyeretku, melangkah lagi menuju benteng dan gerbang luar.


Namun aku membiarkan kakiku diseret, seakan-akan jatuhku tadi sudah membuatku lebih linglung dari sebelumnya. Karena di sana, di pinggir halaman istal, di tempat yang tidak diperhatian siapa pun di tengah kekacauan ini, berdiri dua sosok berjubah yang tidak melarikan diri maupun berusaha memadamkan api. Salah seorang dari mereka memakai tudung jubahnya dan sedang mengamati kerumunan dengan seksama hingga kelihatannya sedang berusaha mengingat semuanya. Angin yang menyebabkan api semakin menyala-nyala meniup sehelai rambut pirang ke matanya, dan kupikir jantungku bisa berhenti saat melihatnya cepat-cepat menyingkirkan rambut dari wajah.

__ADS_1


Tepat saat itu, tatapan Devan tertuju pada mataku.


Aku tidak berpikir, atau khawatir, atau ragu. Kali ini, sihirnya sudah siap saat aku meraihnya; mungkin bersuka ria karena tidak ditahan oleh mantra penghalang yang terdapat di dalam sel Melani, atau mungkin aku sangat putus asa sehingga rasa takutku tidak bisa menghalanginya. Apa pun alasannya, para penjaga yang mencengkeram lenganku tiba-tiba melayang ke depan, terdorong oleh angin yang diajarkan Paula agar aku bisa meniup bulu unggas ke seberang ruang kerjanya. Mereka menghantam dinding yang ada di hadapan kami dan, sebelum ada yang menyadari, aku mengangkat rok dan berlari.


Di belakang kami, api yang menyelimuti Puri Sare menyala semakin tinggi saat kami menghilang ke dalam kegelapan.

__ADS_1


Mungkin kami berlari selama satu per empat jam, sekarang Bella yang memimpin jalan. Dia menyelinap di antara pepohonan dan melewati bebatuan dengan sangat mudah hingga seakan-akan dia dilahirkan di hutan. Bisa jadi Bella sanggup terus berlari bagaikan seekor makhluk malam, tapi aku sudah tinggal di dalam sel selebar lima langkah entah selama beraoa hari, dengan makanan entah berapa kali sehari. Akhirnya, aku terpaksa menarik genggaman Devan. Kemudian, sambil membungkuk hingga sejajar pinggang dan terengah-engah, aku berhenti dan bersandar pada sebatang pohon kayu.


Keduanya berhenti tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tapi Bella langsung berdiri menghadap Puri Sare, pundaknya terlihat tegang. Aku membutuhkan waktu, dan akhirnya berhasil bernapas normal. Aku mengangkat kepala, dan mendapati Devan sedang menatapku, sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2