
Tatapan Alvi tertuju padaku lagi, tapi kali ini dengan ekspresi menilai. “Sepertinya begitu. & keluarga suami Sarah, yah, mereka pemilik toko pakaian di kota. Mereka memberinya empat potong gaun sebagai hadiah pernikahan, jadi dia meninggalkan beberapa barang lamanya saat pergi. Aku berniat memotongnya untuk anak perempuan Nida, tapi kalau kamu membutuhkannya….”
” Tentu saja,” ujarnya, karena dia membutuhkan baju itu untuk tinggal di desa ini.
Aku tidak yakin apa aku memahaminya, tapi aku tetap mengangguk. Ternyata pakaian yang aku gunakan terlalu aneh hingga membuat anak-anak berhenti di tengah jalan, aku tidak peduli sekalipun Alvi memberi karung kentang untuk kupakai, selama itu bisa membuat mereka berhenti menatapku.
Gaun-gaun itu memang sederhana seperti yang dikatakan Alvi, yang satu berwarna biru pudar sedangkan yang lainnya mungkin dulunya berwarna hijau. Kedua gaun ini jelas-jelas terlalu sering diperbaiki. Namun, tidak menarik perhatian & hanya itu yang ada dalam pikiranku saat berusaha memakai gaun berwarna biru.
Kami meninggalkan rumah Alvi dengan kepingan masa laluku tersampir di lengan, & saat tiba di rumah, aku melipat gaun lamaku & memasukkannya ke dalam peti berisi barang-barang milikku.
__ADS_1
Saat merapikan kainnya, aku mulai merasa panik, kerongkonganku menyempit hingga aku harus bersusah payah untuk menelan. Saat aku menutup peti semua ini akan menjadi nyata. Aku akan menjadi Amelia Muller. Namun, apa yang aku ketahui mengenai Amelia, selain tinggal di sebuah desa kecil antah berantah & mengenakan gaun orang lain?
Aku mengulurkan tangan di atas tutup peti, & aku bisa melihat tanganku gemetar. Sejenak, aku berpikir untuk melarikan diri, agar menutup peti bisa memiliki arti yang lain yaitu permulaan dari sesuatu, bukan akhir. Tetapi aku harus pergi kemana, & apa yang akan kulakukan setibanya di sana?
Aku memejamkan mata, beberapa butir air mata meluncur di atas pipiku, & menutup peti tanpa melihatnya.
Jadi, dimulailah hidupku di Treb sebuah kehidupan yang secara umum, sama sekali tidak siap untuk kujalani.
Beberapa hari pertama berlalu dalam kebingungan, selama aku berusaha berjuang melawan kilasan buram, rasa lelah & kaget yang menyertaiku sejak bangun hingga tidur.
__ADS_1
Aku bangun pagi-pagi, memaksa tubuhku bangkit dari tempat tidur sempit yang berhasil kami dapat & sempilkan ke dalam kamar di samping tempat tidur Bibi Vania, lalu makan pagi seadanya bersamanya. Kemudian, tergantung cuaca & suasana hatinya, kami pergi ke hutan untuk mencari tanaman untuk pewarna kain, menyiangi rumput di kebunnya, atau duduk di belakang rumah & sungguh-sungguh memulai proses pencelupan.
Aku mengkhawatirkan pekerjaan apa pun yang dipilihkannya untuk kami, karena teknik mengajar Bibi Vania yang tidak beraturan membuat belajar menjadi sesuatu yang mustahil untuk dilakukan.
“ Di bagian hutan ini ada tanaman agrimony,” ujar Bibi Vania.
“ Isi keranjang ini dengan daun & batangnya. Berbunga kuning, daunnya bergerigi. Jangan sampai salah. Aku akan menunggu di danau itu kalau kau sudah selesai mengambilnya,” tambahnya sebelum pergi, meninggalkanku sendirian sambil menggenggam keranjang & menatap sekeliling dengan bingung.
Aku tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa tidak ada gunanya meminta Bibi Vania untuk membantuku mencari tanaman itu, & memperlihatkan padaku sebelum pergi. Yang akan kudapatkan hanyalah ******* mendalam & gelengan tegas, seakan-akan aku ini makhluk terbodoh yang pernah di temuinya.
__ADS_1