PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 112


__ADS_3

Hampir sepanjang hari pertama aku berkuda dengan pundak merunduk, terkejut setiap kali mendengar seseorang mendekat dari belakang. Rasanya nyaris konyol aku bisa lolos dari kota tanpa ada mata-mata.


Melani yang mungkin melaporkannya, tapi tidak ada yang mengejar, dan aku mulai berpikir, kali ini, aku beruntung, dan aku berhasil menyelinap dari mereka.


Malam pertama aku menginap di sebuah penginapan sisi jalan setelah memberitahu pemiliknya bahwa aku akan mengunjungi ayahku yang sedang sakit di sebuah kota yang tidak jauh dari perbatasan Saremarch. Malam berikutnya, senja turun sebelum aku tiba di desa sungguhan, jadi aku memohon agar diberi tempat menginap pada seorang petani dan istrinya yang tinggal di jalan tersebut. Mereka tidak punya kamar tambahan, taoi mereka menumpuk selimut di depan perapian dan aku tidur cukup nnyenyak, dan memberi mereka sebuah koin saat pergi.


Pada hari ketiga, aku tiba di tepian lahan Melani.

__ADS_1


Wilayah Saremarch tidak luas. Sebuah tanah pertanian kecil, cukup untuk mendatangkan sejumlah uang bagi keluarga Enderson. Namun, sebagian besar wilayahnya tertutup hutan. Berdasarkan peta yang kuambil dari kampus penyihir, aku melihat ada tiga buah dusun kecil yang tersebar di tanah pertanian itu, membentuk setengah lingkaran kasar di sekitar satu-satunya desa sesungguhnya. March oldings, yang terletak di tepian tanah pertanian dan permulaan hutan Thorvaldor. Desanya tumbuh di sekitar puri Sare, tempat tinggal keluarga Enderson, dan tempat itulah yang rencananya akan pertama kudatangi.


Aku hanya membutuhkan waktu sampai tengah hari untuk tiba di March Oldings. Asap membumbung dari cerobong, dan jejak tipis membuat tanganku sangat gemetar hingga kudaku mengayunkan kepalanya dan melangkah ke samping karena bingung.


Apa yang akan kulakukan? Aku tidak punya rencana sungguhan, akhirnya aku terpaksa mengakui, selain berkendara ke kota ini dan mulai mencari seorang gadis seumurku dan memiliki tanda lahir tiga titik merah yang membentuk segitiga di lengannya. Aku butuh sebuah cerita, tapi Devanlah yang sanggup menciptakan berbagai alasan rumit saat kau berada di tempat yang tidak seharusnya kaudatangi.


Panggilan peran yang menenangkan yang pernah kudengar. Namun, entah mengapa, itu sudah cukup untuk membuatku menekan mata kaki pada pinggang kudaku dan mulai berjalan menuju March Oldings.

__ADS_1


Saat memasuki desa, kupikir aku pasti terlihat seperti hantu yang menunggangi kuda; pucat dan lemas, dengan lengan dan kaki gemetar. Tentunya cukup aneh untuk membuat orang-orang curiga. Namun, meskipun orang-orang melirikku saat pertama melihatku, tapi tidak ada yang melirikku untuk kedua kalinya. Di sana ada seorang pematri keliling, keretanya berhenti di pusat desa, yang menyedot perhatian sebagian besar penduduk desa, para perempuan berdiri memeriksa aneka panci dan wajan, sementara anak-anak berlarian di bawah mereka. Atau mengantri sambil membawa barang-barang yang akan di perbaiki. Aku melihat sebuah istal kecil, membayar satu keping untuk mengikat kudaku di sana dan mengembuskan napas lega saat bocah istal memberiku sebuah alasan.


“ Nona berasal dari desa seberang? Apakah kau datang untuk menemui si pematri keliling?” tanyanya.


Aku mengangguk ragu.


Bocah itu menyeringai memperlihatkan giginya yang jarang. “ Dia memberitahu bibiku yang tinggal di sana, katanya akan datang minggu ini. Bibiku yang memberitahumu?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2