PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 148


__ADS_3

Sekarang sihirnya meraung keluar, meluncur dariku pada Riana dan Bella. Kendali, batinku saat berusaha mencengkeram sihir, mengarahkannya sesuai keinginanku. Namun tidak ada kendali; sihirnya terpancar ke arah mereka, menyelimuti mereka dengan kekuatan yang menyelimutiku. Aku mendengar Riana berteriak; bagian dalam tubuhku sendiri terasa seperti terbakar, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Kendali, jerit tubuhku.


Aku merasa sihirnya memudar saat berusaha mempererat cengkeramanku, merasakannya melambat dan mulai padam. Mantranya akan luluh, aku tahu itu, aku bisa merasakannya mulai luluh di sekitarku. Namun jika aku tidak melakukannya sekarang, tidak akan ada kesempatan lain.


Temukan saja jiwanya, batinku, dan pasrah.


Tiba-tiba saja semuanya melambat. Seakan-akan sihirnya, yang sejak tadi membanjir dari diriku, terdiam sebentar dan menengok ke belakang, mempertimbangkan. Seakan-akan sihirnya bertanya padaku apa yang harus dilakukannya. Seakan-akan, setelah aku tidak berusaha mati-matian untuk mengendalikannya, sihirnya mau bekerja sama denganku.

__ADS_1


Jiwanya, batinku. Jiwanya ada di dalam diri kami dan seharusnya tidak begitu. Kembalikan padanya.


Kabut keemasan muncul di sekelilingku, mengaburkan aula dan orang-orang yang ada di dalamnya, tapi sebelumnya aku melihat kabut-kabut serupa muncul di sekeliling Bella dan Riana. Samar-samar aku menyadari suara yang berasal dari kerumunan yang sudah terdiam saat menyadari ada mantra yang sedang digunakan, dan aku mendengar suara terkesiap pelan dari tempat ratu berdiri. Bagus, sebagian diriku membatin. Ratu sudah pernah melihatnya. Dia pasti tahu apa artinya. Namun bagian diriku yang lain tidak peduli pada ratu, atau orang-orang yang berkumpul di sini, atau bahkan pada Melani yang berdiri hanya beberapa langkah dari Bella. Aku hanya melihat kabutnya, aku hanya memusatkan perhatian pada sihir yang sedang berburu di dalam diriku, mencari bagian yang tidak seharusnya berada di sana.


Aku merasakan kepergiannya. Tidak sebesar sebelumnya, tapi tetap saja sebuah perasaan hampa, sebuah tempat yang semula berisi sesuatu, dan sekarang tidak lagi. Dulu aku ingin mencengkeram kepingan jiwa itu agar kembali padaku, memasukkannya lagi ke dalam lubang yang ditinggalkannya di dalam diriku. Diambil, batinku kali ini. Sejak dulu pun memang bukan milikku. Lagi pula, sekarang aku tidak membutuhkannya.


Perlahan-lahan, kabut keemasannya menghilang, hingga aku berdiri sambil mengerjap dan gemetar di aula. Pengeluaran sihir tadi—lebih banyak dari yang pernah kugunakan sebelumnya—ditambah dengan pengambilan jiwa Bella, sebentar lagi akan membuat tubuhku lelah, aku tahu itu. Meskipun begitu, aku tidak sanggup mengatakan apa pun; aku hanya bisa menatap Riana dan Bella.

__ADS_1


“ Hilang,” Riana berkata pelan. “ Aku merasakannya. Aku merasakannya keluar dari tubuhku. Sesuatu…”


“ Jiwanya,” aku berkata sambil melirik Bella. Sekarang sudah dua kali Riana diberitahu siapa dirinya, tapi kemudian diambil kembali. Mengalaminya untuk pertama kali nyaris tak tertahankan olehku; aku tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya mengalaminya untuk kedua kali.


“ Maafkan aku,” aku berkata pada Riana, sadar bahwa itu tidak cukup.


Bisik-bisik bermunculan di barisan pertama, tempat para penyihir kampus duduk. Sekarang mereka pasti sudah mengirim mantra penyelidik pada kami bertiga. Mereka pasti menyadari siapa putri yang asli, dan siapa yang bukan.

__ADS_1


Like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰😘


Bersambung


__ADS_2