
“ Peamal itu tersenyum lagi, dan ada ekspresi yang lebih manusiawi terpancar dari matanya. “ Kalau kau menunggu sampai malam, perpustakaannya kosong. Mereka tidak mengunci pintu luar. Kau bisa meninggalkan kuncinya di ruangan, dan aku akan bilang tidak sengaja meninggalkannya di sana.”
Dengan jemari gemetar, aku mengulurkan tangan dan membiarkan peramal itu meletakkan kuncinya di tanganku. “ Kalau kau membantuku, kau pasti tahu—“
aku bernapas—“apa yang terjadi. Kau bisa memberitahu kami siapa yang melakukannya, yang mengkhianati raja dan ratu.”
Lagi-lagi peramal itu menggelengkan kepala. “ Aku tidak diberkahi untuk melihat masa lalu.”
Aku mengerutkan kening, bingung. “ Kalau begitu kenapa kau melakukannya , memberikan kunci ini padaku,”
Senyum penuh kedamaian itu. “ Karena aku melihat diriku memberikannya padamu.”
“ Kalau begitu,” aku bertanya dengan napas tersengal-sengal, “ kalau begitu sang Dewa Tanpa Nama… ingin aku berhasil?”
Sebuah kerutan terbentuk antara kedua mata pucatnya, dan peramal itu mengerjap sedih. “ Tidak. Atau tepatnya, sang Dewa tidak peduli pada hal-hal duniawi seperti takhta, dan siapa mendudukinya. Ramalan yabg dikirimnya padaku bukan ramalan keinginannya. Itu hanya kilasan mengenai peristiwa yang mungkin terjadi, tapi itu pun tidak selalu pasti.
__ADS_1
Aku memberikan kuncinya padamu karena melihat diriku melakukannya, tapi aku tak bisa bilang itu kehendak sang Dewa.”
Aku menelan kekecewaan. “ Apa kau bisa melihat yang akan terjadi? Apa yang harus kulakukan?”
Sang peramal menatapku lama sebelum akhirnya berkata, dengan lembut, “ Saat aku menatapmu, jalan masa depan berliku. Terlalu banyak persimpangan, terlalu banyak kesempatan. Terlalu banyak pilihan. Bahkan sang Dewa pun tidak bisa melihatnya.”
Itu membuatku merasa kecil dan takut, lebih kesepian dari yang pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan sang Dewa Tanpa Nama, dengan semua pengetahuannya yang tak terbatas, tidak bisa melihat jalanku. Itu artinya aku tidak punya kesempatan untuk melihatnya.
Ada sesuatu yang hangat menyentuh tanganku, melingkar di bawah jemariku lalu menggenggamnya dengan erat. Dengan kaget aku menunduk dan melihat tangan Devan menggenggam tanganku. Dia menyeringai padaku, dengan terang-terangan seakan-akan dia mendengar pikiranku. Tidak. Aku tidak akan sendirian.
“ Semoga kalian dituntun oleh Dewa,” ujarnya, dan aku merasa itu merupakan sebuah kata penutup.
Semua itu terjadi begitu cepat. Aku berdiri, merasa konyol saat rokku tersangkut kakiku sendiri dan aku tersungkur, menyentuh lutut sang peramal saat berusaha menopang tubuh. Wajahku merona, tapi saat melirik sang peramal dengan malu, aku melihatnya sedang menatapku lekat-lekat. Tubuhnya, yang sebelumnya sangat lemas, tiba-tiba berubah kaku, dan pupil matanya benar-benar melebar hingga aku nyaris tidak bisa melihat lingkaran biru di sekelilingnya.
“ Apa kau—apa semuanya baik-baik saja?” tanyaku. Seakan-akan kalimatku sungguh-sungguh menghantamnya, sang peramal tersentak, lalu tubuhnya merosot sedikit, kepalanya menggantung. Kemudian dia mengangkat kepala untuk menatapku.
__ADS_1
“ Sepertinya bukan hanya kunci yang kuberikan padamu,” ujar sang peramal, lalu terdiam, tatapan matanya tertunduk.
“ Apa yang kaulihat?” tanyaku.
“ Aku melihat sebuah segitiga,” akhirnya dia berkata,
“ Berada di tengah badai. Salah satu sisinya runtuh dan jatuh, menyisakan dua sisi lainnya.”
Sebuah segitiga. Aku mengerutkan kening lalu terkesiap saat menyadari apa yang dimaksudnya.
“ Hanya itu yang kaulihat?” tuntut Devan.
Sang peramal mengangguk. “ Aku tidak memerintahkan ramalan.” perempuan itu berkata sedih. “ Mereka yang memerintahku. Aku tidak bisa memberitahu artinya padamu.”
Bersambung
__ADS_1