PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 28


__ADS_3

Pucuk tanaman yang terlihat bagaikan busa sudah memenuhi keranjangku saat bayangan hutan mulai memanjang. Kami berjalan pulang ke desa dengan santai. Aku tahu Bibi Vania pasti bertanya-tanya mengenai keberadaanku, bahkan menunda makan malam untuk menungguku, tapi sepertinya aku tidak sanggup membuat kakiku berjalan lebih cepat. Namun, saat tiba di batas pepohonan, aku berbalik menghadap Jose sambil mendesah.


“ Sebaiknya kau tidak keluar hutan bersamaku,” ujarku.


“ Bibi Vania tidak akan senang jika melihatnya. Dia akan menduga kita melakukan sesuatu yang tidak pantas.”


Jose menatapku dengan ekspresi mengantuk yang aneh.


“ Benarkah?” tanyanya.


“ Yah, kalau dia sangat mengkhawatirkan hal itu, mungkin sebaiknya kita memberinya alasan untuk kekhawatirannya itu.”

__ADS_1


Dan dengan satu gerakan ringan, Jose membungkukkan tubuh untuk menciumku.


Aku belum pernah dicium. Sebagai seorang putri, hal itu sama sekali bukan bagian hidupku. Di istana aku mengenal beberapa orang gadis lain, & banyak pemuda, yang sudah pernah dicium atau mencium. Devan sering menghiburku dengan berbagai kisah ciuman yang dilakukannya diam-diam atau berusaha dilakukannya diam-diam di berbagai ruang istana. Namun, belum pernah ada seorang pun yang berusaha menciumku, bahkan putra tertua perdana mentri pun tidak, yang tangannya selalu menggerayang terlalu rendah selama dansa berirama pelan.


Jadi, meskipun setidaknya secara teori aku tahu seperti apa rasanya ciuman, aku benar-benar tidak punya pengalaman praktik. Pada detik terakhirsebelum bibir Jose menyentuh bibirku, aku melihat matanya terpejam, jadi aku juga cepat-cepat memejamkan mata. Bibir Jose bergerak, dengan hati-hati & lembut, & rasanya hangat, lembut, & menyenangkan. Jose melepasnyasejenak, & aku bertanya-tanya mungkin aku melakukannya dengan salah, tapi kemudian dia menciumku lagi, satu lengannya merangkul pinggangku & menarikku memdekat.


Keranjangku masih bertengger di atas pinggul, tapi dengan hati-hati aku mengangkat tanganku yang bebas ke atas lengannya. Aku merasakan sesuatu yang manis pada mulut Jose, mungkin sisa-sisa rasa stroberi liar yang tadi kami temukan.


“ Apa kau tak keberatan dengan itu?” tanya Jose. Dia menatapku dengan mata berbinar, & wajahnya terlihat sedikit merona.


Sejujurnya, aku tidak yakin. Berbagai pikiran berusaha menarik perhatianku. Betapa aku menyukai Jose, menyukai sensasi berdebar pada jantungku setiap kali melihatnya mendekat. Bagaimana, meskipun belum pernah dicium, aku membayangkan sebuah ciuman rasanya akan berbeda, tidak semanis ini & lebih….nikmat. Bahwa aku takut, jika membiarkan Jose menciumku lagi, atau jika tidak, aku akan kehilangan satu-satunya teman yang kumiliki di Treb. Bahwa, meskipun sesaat, wajah Devan terbayang-bayang di depan mataku yang terpejam, alisnya mengerut memperlihatkan ekspresi kecewa.

__ADS_1


Aku merasakan semua itu pada saat yang bersamaan, sehingga aku tidak tahu harus berkata apa. Namun, aku mengangguk agak ragu, & saat wajah Jose merona senang, aku tahu aku menjawab dengan benar.


“ Sepertinya aku melihat bibiku berdiri di depan pondokmu,” ujar Jose.


“ Pergilah, & aku akan menunggu sampai kau masuk.”


Dia menangkap lenganku.


“ Besok aku akan pergi ke kota untuk menghadiri pernikahan sepupuku. Aku pergi selama tiga hari, tapi aku akan menemuimu begitu aku pulang. Aku akan merindukanmu.”


“ Aku akan merindukanmu,” ulangku. Kemudian aku berbalik, jantungku berdebar kencang, lalu bergegas keluar dari hutan & menghampiri Bibi Vania yang sedang menungguku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2