PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 51


__ADS_3

Aku tidak mengenali seorang pun dari mereka, jadi aku memasang ekspresi tenang & berjalan menghampiri gerbang.


“ Aku datang membawa pesan untuk putra Earl Of Rithia,” ujarku. “ Dari keluarga penyihir Paula Sovrit.” Itu memang benar, sekarang aku bagian keluarga Paula. “ Tapi aku… aku tidak perlu mengantar suratnya secara langsung.”


Pengawal itu mengangguk & menjentikkan jari di atas pintu pos jaga yang berada tepat di dalam gerbang. “ Elon,” panggilnya. Seorang pesuruh muda keluar dari gedung sambil berlari pelan, rambut kuningnya terayun-ayun di atas keningnya.“ Antarkan pesan gadis ini pada Devan Dulchessy. Mungkin kau bisa menemukannya di rumahnya. Akhir-akhir ini dia baru keluar pada malam hari.”

__ADS_1


Pesuruh itu mengangguk & mengulurkan tangan meminta pesannya. Kerongkonganku terasa kaku saat meletakkan pesan di atas tangannya. Kemudian pesuruh itu pergi, bergegas menuju istana. Aku tersenyum lemah pada para pengawal, menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih, & kembali ke distrik G.


Taman Goldhorn adalah taman umum yang di biayai dari donasi para penghuni distrik yang berharap suatu hari nanti bisa menandingi taman-taman di shappire. Tamannya tidak ramai, karena saat itu tengah hari & cuaca semakin panas. Saat memasuki taman aku menatap sekeliling mencari tempat untuk duduk, sebuah tempat yang memungkinkanku untuk melihat Devan sebelum dia melihatku. Sebuah bangku yang terletak di depan sebatang pohon dedalu dengan dahan menjuntai. Sepertinya ini tempat yang bagus, jadi aku duduk, & menunggu, & terus menunggu.


Selama aku menunggu, matahari bergerak perlahan melintasi langit, kadang-kadang sebuah awan menghalanginya, tapi umumnya matahari hanya melaju ke barat tanpa lelah, menyinari air di sebuah danau di dekat sana & membuat mataku silau. Bokongku mati rasa akibat duduk di atas bangku batu, tapi aku sudah melalui tahun-tahun yang mengharuskanku untuk duduk lama sepanjang acara kenegaraan yang panjang, & aku bahkan tidak bisa berganti posisi yang lebih nyaman. Awalnya aku bertanya-tanya soal Devan & ucapan si pengawal.

__ADS_1


Malam sebelumnya aku sudah bertekad akan menunggu sampai matahari terbenam, tapi sepertinya sekarang terasa seperti perjuangan berat yang pantas dijadikan lagu. Mungkin sebaiknya aku berdiri & jalan-jalan. Mungkin Devan sudah datang tapi menunggu di bagian lain taman, & jika aku tidak segera menemukannya, dia akan pergi. Ya, putusku, aku akan pergi mencari Devan. Namun saat aku menekan bangku untuk membantuku berdiri, aku melihatnya.


Devan berjalan perlahan, melirik kanan kiri & sesekali ke belakang. Sebuah tunik hijau mewah yang kukenali sebagai salah satu hadiah yang diberikan orang tua Devan saat ulang tahunnya yang terakhir dipadankan dengan celana cokelat muda. Rambutnya terlihat lebih gelap karena basah, seakan-akan baru saja keramas, & disisir ke belakang, tapi sudah mulai bergelombang di sekitar telinganya.


Pada saat itulah Devan melihatku, dalam posisi konyol setengah merunduk hendak berdiri. Devan beranjak menghampiriku, tapi kemudian terlihat ragu, & keraguan itu nyaris mematahkan hatiku menjadi dua. Sebelum menyadari apa yang kulakukan, aku bangkit dari bangku & tersuruk-suruk melintasi rumput menghampiri Devan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2