
Aku mengangguk lagi, tapi untungnya tidak perlu menceritakan detail soal bibinya saat pengelola istal bersiul memanggilnya. Aku menyelinap keluar ke bawah cahaya matahari, sambil berpikir. Kelihatannya sebagian besar penduduk desa ada di sekitar sini, entah tawar menawar dengan pematri keliling atau bertukar gosip. Dan jika kabar mengenai kedatangan si pematri keliling sudah menyebar, ada kemungkinan Diana juga datang untuk melihatnya. Mungkin yang perlu kulakukan untuk menemukan Diana hanyalah menunggu.
Jadi, aku menunggu. Ada sebuah bangku yang berdampingan dengan salah satu kedai minuman, dan aku duduk di sana, berusaha agar terlihat seperti sedang menunggu giliran menghampiri si pematri keliling, aku melirik sekeliling pelan-pelan, berusaha terlihat sekedar penasaran dengan semua orang baru yang lalu lalang di jalan, aku mengamati mereka dengan seksama. Jantungku sempat melonjak ke kerongkongan, tapi melesat lagi saat menyadari bahwa gadis yang kulihat terlalu tua untuk menjadi Diana. Matahari bergerak melintasi langit hingga aku terpaksa bergeser di bangku agar tetap berada di tempat teduh, tapi aku tidak melihat seorang pun yang mungkin saja sang putri yang hilang.
__ADS_1
Selama beberapa saat, aku berusaha menyibukkan diri dengan memikirkan seperti apa penampilan Diana. Aku membayangkannya terlihat seperti Riana, dengan keanggunan dan keyakinan pada gerakannya, terlihat berkelas meskipun mengenakan pakaian gadis biasa yang pasti di pakainya. Bagaimanapun, mereka memiliki hubungan kekerabatan, jadi kurasa masuk akal jika aku harus mencari seseorang yang mirip.
Namun, membayangkan seperti apa penampilan Diana tidak membutuhkan waktu lama, jadi akhirnya pikiranku beralih pada apa yang akan kulakukan saat—dan jika—Diana akhirnya muncul. Aku menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengkhawatirkan cara menyelinap keluar kota tanpa ketahuan dan tiba di Saremarch tanpa gangguan hingga tidak terlalu memikirkan bagaimana, tepatnya, aku akan meminta Diana untuk ikut bersamaku.
__ADS_1
Rencana itu sudah mantap di dalam benakku, hingga aku pun duduk santai di bangku dan melanjutkan pengamatanku. Namun, seandainya aku beranggapan entah bagaimana Diana akan muncul setelah aku mendapat sebuah rencana, maka aku salah.
Ini tidak berhasil, batinku saat bayangan yang dihasilkan bangunan di desa mulai terlihat memanjang. Kerumunan di sekitar pematri keliling sudah berkurang saat orang-orang mulai beranjak pulang untuk makan malam. Salah satu kakiku sudah terkulai, dan perutku bergemuruh kencang meminta makanan. Apa yang harus kulakukan? Aku bertanya-tanya dalam hati sambil berdiri dan, tanpa alasan selain penasaran, berjalan menghampiri kereta si pematri keliling.
__ADS_1
Bersambung