
Ruangan seakan-akan berubah, bentuknya familiar berubah hingga aku tidak yakin masih mengenalnya.
“ Apa?” aku terkesiap. Kerongkonganku terlalu kecil, udara yang mengalirinya kurang banyak, & aku tidak bisa bernapas. “ Bagaimana? Aku tak-aku tak-“
Sang ratu sudah menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya, & sang raja menyentuh pundaknya.
“ Kami tak bisa mengirim sang putri begitu saja, karena kejahatan apa pun yang ada dalam ramalan bisa pergi mencarinya. Kami harus membuatnya seakan-akan ada di sini, tinggal di istana. Ada sebuah mantra,” ujarnya, “ untuk membuatmu terlihat seperti sang putri bagi mata siapa pun, baik sihir atau bukan. Kau terpilih karena sepertinya akan terlihatmirip dengannya saat tumbuh besar. Tapi mantra itu memberimu tanda lahirnya, & sebuah pesona sihir yang akan membuat penyihir usil mana pun beranggapan kau berdarah kerajaan. Putri kami. Sihirnya sangat kuat, ditempa oleh para penyihir terkuat yang hidup pada masa itu. Namun, sekarang sudah saatnya melepas mantra itu.”
Omar maju, tangannya terangkat. Dia tidak bicara padaku saat mengangkat telapak tangannya di atas ke ningku, tatapan matanya yang hitam & dalam tertuju pada wajahku.
__ADS_1
Aku ingin berkata, berhenti, tapi Omar sudah membaca mantra dengan suara pelan. Sebuah mantra, aku tersadar, & sebuah mantra yang sulit, karena butiran keringat muncul di atas keningnya yang penuh kerutan.
Sebuah awan keemasan terbentuk di sekelilingku, membuatku kesulitan untuk melihat. Aku berusaha mengatakan tidak, tapi kata itu tidak bisa terucap. Awan keemasan itu tiba-tiba terlihat lebih terang. & sesuatu yang bahkan tidak kusadari kehadirannya, terlepas, bagaikan sebuah jubah yang terjatuh ke atas lantai. Kemudian, awan keemasan itu memudar, & Omar mundur, kedua tangannya menekan dada.
Dengan gemetar aku mengulurkan lengan kiriku, memutarnya hingga telapak tanganku menghadap atas. Aku sudah memiliki tanda lahir selama yang bisa kuingat. Tiga titik kecil kemerahan yang nyaris membentuk sebuah segitiga di bagian dalam lenganku, tepat di bawah lekukan siku. Aku melihatnya sendiri, tanda-tanda itu memudar, perlahan-lahan menghilang hingga hanya tersisa kulit tanpa noda.
“ Itu sebuah trik,” ujarku, tapi pelan-pelan.
“ Tapi sebuah trik untuk menipu dunia. Jadi pasti bisa menipumu juga.”
__ADS_1
Sejenak wajahnya melembut, & aku merasakan desakan untuk berlari menghampirinya, seperti yang kulakukan saat kecil. Namun, menghilang lagi, dia berubah menjadi wajah sang raja , bukan wajahku.
“ Siapa yang mengetahuinya?” Aku bertanya hambar.
“ Sangat sedikit.” Dia menunjuk kedua penyihir.
Omar masih terengah-engah, Melani menggenggam lengannya dengan cemas, tapi pria itu mendongak saat mendengar ucapan sang raja.
” Kami mendatangi Omar, tapi ini rencana Melani. Bahkan saat itu dia sudah memperlihatkan bakatnya. Mereka & Tanos, kepala pustakawan kampus & seorang penyihir yang benar-benar hebat, menciptakan mantra itu & merapalnya. Beberapa tahun sekali salah seorang dari mereka memperbarui mantranya saat mulai melemah, lalu menghilangkan memorimu mengenai pembaruan mantra. Karena Tanos meninggal tujuh tahun yang lalu, hanya Omar & Melani yang mengetahui semua ini, sampai saat ini. Bahkan Ronald baru mengetahuinya hari ini.”
__ADS_1
“ Dan sang ….” Aku terdiam, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya, tidak sanggup menyebut nama yang kukira milikku.
Sepertinya sang raja mengetahui apa yang hendak kukatakan. “ Diana dibesarkan di sebuah panti asuhan dekat sini, Melani membawanya ketempat itu beberapa hari setelah kelahirannya. Dia meyakini dirinya seorang yatim piatu, tapi memiliki seorang wali bangsawan. Semua orang meyakini hal yang sama. Dia diberi pendidikan bangsawan, diajar dengan baik seperti yang seharusnya diterima seorang putri.