
“ Aku melihatnya, baru saja, bersama seseorang. Orang itu menggunakan mantra, mantra sama yang mereka gunaka padaku, hanya saja kebalikannya. Untuk mempertahankannya, bukan melepasnya. Dia bukan putri yang asli, Devan. Dia bukan Diana.”
Lengan Devan terjuntai berat di samping tubuhnya.
“ Mulai lagi,” ujarnya, suaranya terdengar serak. “ Mulai dari awal.”
Dan aku melakukannya. Menceritakan pertemuanku dengan Diana dan perasaan yang membuatku seakan ditarik padanya, memberitahunya aku bisa menerjemahkan huruf rune pada peta Raja Ardan dan apa artinya, memberitahu bahwa hanya seseorang yang benar-benar memiliki darah kerajaan yang bisa membuka pintunya, menceritakan kedatanganku ke istana dan melihat orang yang menggunakan perisai memasang mantra pada Diana. Devan tidak bicara, tidak selama aku menceritakan semuanya. Setelah aku selesai, Devan berdiri tanpa suara, lalu menghampiri sebuah meja kecil di samping tempat tidurnya, tempat sebuah kendi air dan cangkir berada. Devan menuangkan air ke dalam cangkir, menyerahkannya padaku, dan aku meneguknya dengan penuh syukur. Setelah aku menghabiskan isinya barulah Devan bicara.
__ADS_1
“ Amelia,” ujarnya. Suaranya terlalu lembut, sama sekali tidak seperti suara normalnya, dan aku mengernyit seakan-akan dia memukulku.
“ Kau tak percaya padaku,” gumamku.
“ Aku….” Jemari Devan menyapu rambutnya yang kusut karena baru bangun, lalu dia mengembuskan napas keras-keras. “ Aku tak mau memercayainya. Aku hebat dalam…. permainan, lelucon, hal-hal sepele yang tidak penting. Dan kalau kau benar, ini jelas-jelas tidak sepele. Aku tak mau memercayai konspirasi seorang gadis enam belas tahun mengenai gadis yang salah berada di atas takhta. Aku ingin menganggapnya sebagai bayangan yang kaurangkai sendiri, karena kau tidak bahagia.”
“ Tapi aku tidak begitu, setidaknya aku berusaha agar tidak begitu.” Sambil mencengkeram sprai, karena tadi aku terpaksa duduk di tengah cerita, aku menatap pangkuan. “ Aku tahu aku bukan putri, sejak dulu juga bukan. Aku tidak melakukannya untuk.,. balas dendam atau semacamnya. Aku tidak mengada-ada, Devan.”
__ADS_1
Devan terdengar penuh harap, seakan-akan aku seorang ahli sejarah yang mengajukan pertanyaan sulit yang akhirnya bisa dijawabnya. “ Entahlah, mungkin itu artinya mereka hanya memasukkan bagian putri asli ke dalam kami berdua, dan itulah yang kurasakan saat itu.”
Kening Devan berkerut lagi, menunda sebentar, sebelum akhirnya berkata, gurat harapan mewarnai suaranya lagi, “ Tidak, tunggu dulu! Aku punya rencana. Aku bisa memintanya ikut dengan kita, ke dinding tempat pintu Raja Ardan berada. Jika dia sang putri, pintu akan terbuka untuknya, dan kalau bukan….”
“ Maka dia akan tahu dia bukan putri,” aku menyela ucapannya. “ Lalu mungkin dia akan langsung mendatangi raja dan ratu, dan memberitahu mereka.”
“ Yah, apa salahnya?” Devan menggelengkan kepala padaku. “ Kalau dia bukan putri, mereka perlu tahu, ya kan?”
__ADS_1
Aku langsung berdiri, kedua tanganku terkepal, dan mulai berjalan mondar-mandir. “ Apa kau tak mengerti?” tuntutku. “ Siapa pun yang melakukannya, siapa pun yang kulihat di balik perisai penglihatan itu, orang yang kuat, sangat kuat hingga nyaris melakukan kudeta di bawah hidung raja dan ratu tanpa ada seorang pun yang tahu. Dan itu semacam… permainan. Mereka sudah merencanakannya selama bertahun-tahun, mungkin sebelum kami ditukar. Dan itu membuat mereka berbahaya. Jika melihat rencananya dikacaukan, mereka akan melakukan sesuatu untuk menghentikannya. Mereka bisa saja membunuh raja dan ratu. Mereka jelas-jelas akan berusaha menyakiti siapa pun yang mengungkap jati diri mereka, siapa pun yang mengetahui perbuatan mereka.”
Bersambung