
Hari itu aku keluar dari ruang kerja dengan perasaan riang, tapi seandainya aku menduga pelajaranku yang lain cenderung semudah pelajaran pertama itu, maka aku salah. Saah satunya, pelajaran sihir menuntut lebih banyak hal dari dugaanku semula; semua mantra, bahkan mantra kecil, menguras energiku. Paula bilang aku akan semakin kuat jika berlatih & mencoba mantra-mantra yang lebih sulit, sama seperti lengan seseorang yang semakin kuat karena mengangkat beban yang lebih berat & semakin berat.
“ Semua ada harganya,” Paula berkata santai. “ Sihir sama seperti hal lain, kau harus memberi sesuatu untuk melihat hasilnya. Dalam kasus ini, sedikit energimu dalam setiap manta. Tapi jumlahnya akan terus berkurang, setelah kemampuanmu membaik. Semua itu artinya…yah, mungkin tidak semua, tapi sebagian besar artinya… kau harus lebih banyak berlatih.”
Jadi, aku pun berlatih. Aku membekukan air & mencairkannya lagi, menyalakan api dengan hanya menatap perapian, & memanggil angin untuk menerbangkan bulu unggas ke sekeliling ruang kerja. Aku menggerus ramuan untuk pandangan mata jernih, mencoba meramal, berjalan kaki jauh ke pedesaan Vivaskari bersama Paula untuk mengumpulkan berbagai tanaman herbal untuk eksperimennya. & tidak semuanya pelajaran paraktik.
__ADS_1
Paula menyuruhku membaca, & kadang-kadang menyalin, kalimat-kalimat panjang dari berbagai buku & gulungan dokumen sihir. Perpustakaannya dipenuhi buku-buku semacam itu, begitu pula buku-buku sejarah sihir di Thorvaldor & negeri-negeri di sekitarnya.
Paula juga memberiku buku-buku mengenai huruf rune yang digunakan para penyihir zaman dahulu. Dia memberitahuku bahwa huruf-huruf itu kurang diminati selama beberapa ratus tahun terakhir, tapi seorang penyihir harus bisa membacanya, karena banyak teks-teks kuno yang menggunakannya.
Kurasa akan lebih mudah jika aku memiliki seorang guru yang lebih konvensional. Namun ajaran Paula, sama seperti hal lain mengenai dirinya, tidak teratur & sering tidak berkaitan, sehingga kami memulai dari mantra transformasi ke mantra penguatan & matra pengendalian pikiran lalu kembali ke awal tanpa rencana maupun alasan yang jelas. Jika terpaku pada satu topik, Paula menjelaskannya dengan jelas & tepat, tapi kecenderungannya untuk berganti subjek secara tiba-tiba sering kali membuatku tertinggal tiga langkah di belakangnya.
__ADS_1
Rasanya aneh. Dalam hidupku hanya ada beberapa hal yang berkaitan dengan belajar yang tidak sanggup kupahami dengan cepat & mudah. Ya, salah satunya mencelup, tapi yang lainnya tidak banyak. Namun, setelah keberhasilan pertama dalam membekukan piala, aku harus berjuang keras untuk mencapai semua kemajuan. Mantra-mantra berbalik menyerangku atau tidak bekerja sama sekali. & yang membuatku semakin putus asa, tubuhku masih mengeluarkan sihir setiap kali aku kesal, sama seperti yang terjadi di luar rumah Jose & air mancur kampus.
Suatu hari Paula berkata setelah aku tidak sengaja menghancurkan salah satu kaki meja ruang kerjanya, “ kau tahu kan, kalau sihirmu tidak terlalu besar.”
“ Tidak terlalu besar?” aku bertanya bingung. “ Sekarang pun aku nyaris tidak bisa menggunakan mantra apa pun.”
__ADS_1
“ Tapi, kau tahu, masalahnya bukan jumlah sihir di dalam dirimu,” ralat Paula. “ Seperti yang kubilang di kampus; kau jelas-jelas dipenuhi sihir. Saking banyaknya hingga semuanya berusaha keluar setiap kali kau mengucapkan sebuah mantra, & kadang-kadang sihirnya memutuskan untuk keluar sendiri, entah kau memanggilnya atau tidak. Sejujurnya, aku jarang melihat sihir sebanyak ini. & karena jumlahnya sangat banyak, kau mencekiknya saat berusaha mengendalikannya.”
Bersambung