
Kedua tangannya terlipat damai di depan perutnya, tapi tak ada apa pun di dalamnya. Namun, akhirnya aku melihat sebuah wadah logam kecil yang tergeletak di cekungan lengan kanannya. Sambil menahan napas, aku mengulurkan tangan, berusaha agar tidak menyentuh sang peramal, dan mengambilnya.
Tembaga, dengan tutup yang terpasang erat di atasnya, sehingga aku terpaksa membantingnya ke dinding untuk melonggarkannya. Namun, akhirnya aku berhasil membuka tutupnya dan merogohnya, mengeluarkan sebuah gulungan kertas. Dengan suara yang agak gemetar karena tegang, aku membaca isinya keras-keras.
“ Aku menyadari, dalam beberapa jam terakhir yang muram ini, aku tidak bisa mendatangi sang Dewa tanpa mengatakannya. Aku menyembunyikannya, selama bertahun-tahun ini, tapi sang Dewa mengetahui semuanya, dan aku harus mengakuinya sebelum bertemu dengannya. Semua ramalan yang kubuat, kubuat untuknya. Aku melakukannya dengan jujur. Kecuali satu. Mengenai hal itu, aku akan menuliskannya sekarang, dan berharap sang Dewa memaafkanku.
“ Pada tahun kelahiran sang putri mahkota, sang Dewa mengirim ramalan ini untuknya. Aku tidak menyampaikannya pada raja dan ratu. Alih-alih, aku memberi mereka ramalan palsu, ramalan yang akan membuat mereka berpikir sang putri akan meninggal kecuali mereka menyembunyikannya. Aku tidak sendirian melakukannya, tapi bahkan sekarang pun, dengan penghakiman sang Dewa yang semakin dekat, aku tidak sanggup menyebut nama orang yang terlibat itu.
__ADS_1
“ Ramalan yang sesungguhnya, yang belum diketahui, akan kusampaikan sekarang. Aku melihat seorang gadis, sendirian, yang tidak mengenal dirinya sendiri. Dia berdiri di depan benteng istana, mendongakkan kepala sambil menatapnya dari luar, tangannya berada di bawah bayangan tubuhnya.”
Hanya itu. Aku membalik kertasnya, berharap ada yang lain, tapi tidak menemukan apa pun. Perlahan-lahan, aku menatap Devan, tepat pada saat sebuah suara terdengar di makam yang gelap.
“ Siapa di sana?”
“ Siapa di sana?” suara itu mendesak lagi. Langkah kaki bergema di tengah udara kering monumen, tapi kedengaran ragu, seakan-akan orang itu tidak yakin apakah dia ingin menyelidikinya atau tidak.
__ADS_1
Sebuah perpaduan gelombang ngeri dan lega menghantamku saat Devan menyerahkan obornya padaku dan tanpa bersuara mengeluarkan pedang yang menggantung di pinggangnya. Aku tahu dia bisa menggunakannya karena sering melihatnya berlatih di lapangan. Meskipun begitu, aku menggelengkan kepala lebih mendesak, dan Devan mengangguk. Devan tidak akan melukai si penyusup, hanya menakutinya jika terpaksa.
Kami tidak punya waktu lagi untuk membuat rencana, karena tepat pada saat itu ada satu sosok, mengenakan jubah panjang biarawan, tiba di tepi cahaya obor. Pria itu berperut gendut dan wajahnya terlihat empuk. Dan, mungkin karena dia tidak mau masuk ke makam sendirian, pria itu menggenggam sebuah tongkat di tangan kanannya, terlihat siap menggunakannya.
“ Siapa kalian?” tuntutnya. “ Apa yang kalian lakukan di sini?” Pria itu memelototi kami, tapi kemudian dia melihat kain kafan robek yang tergeletak berantakan di atas mayat sang peramal. Wajahnya berubah keunguan saat amarah mencengkeramnya. “ Perampokan makam! Menganggu sang peramal! Ikut denganku, atau aku akan—“
Bersambung
__ADS_1